TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Tantangan dan Peluang: Revisi Ajaran Khilafah dan Jihad



Demi mencegah penyebaran radikalisme maupun intoleransi di tengah masyarakat, Kementerian Agama berencana mengganti buku Pendidikan Agama Islam di seluruh Indonesia (tirto.id, 11/11). Untuk merealisasikan hal tersebut, Menteri Agama Fachrul Razi mengatakan sudah ada tim untuk merombak buku pelajaran agama Islam. Sementara mengenai penghapusan sejarah khilafah masih terus dikaji (liputan6.com).

Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah pada Kementerian Agama, Umar menjelaskan bahwa yang dihilangkan sebenarnya bukan hanya materi khilafah dan perang. Setiap materi yang berbau ke kanan-kananan atau ke kiri-kirian dihilangkan (republika.co.id, 7/12/).

Sementara Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kamaruddin Amin mengatakan, “Kami melakukan penulisan ulang terhadap buku-buku agama di sekolah kita di seluruh Indonesia, Insyaallah tahun ini selesai.”

Amin juga berkata rencana itu akan rampung pada akhir Desember tahun ini sehingga Menteri Agama Fachrul Razi bisa meluncurkan buku tersebut secepatnya. “Isi buku itu sangat berorientasi pada moderasi beragama,” ujar Amin (tirto id,11/11).

Menanggapi hal tersebut, pengamat pendidikan Islam, Jejen Musfah mengatakan perubahan isi buku ajar agama itu harus memuat konten toleransi berbasis norma agama, sejarah Nabi dan sahabat. Toleransi berbasis praktik, baik yang merujuk pada kearifan lokal atau budaya Indonesia juga harus ditonjolkan (republika.co.id, 15/11)

Benar saja, Kemenag telah menepati janjinya dengan menerbitkan revisi buku-buku panduan pendidikan Agama Islam secara online, sebagai tindak lanjut moderasi dalam pendidikan Agama. Hal ini tentu saja memuaskan banyak pihak, terutama mereka yang memiliki harapan besar akan lahirnya kurikulum moderat khususnya bagi pesantren. Sehingga kurikulum dan kitab-kitab yang digunakan pesantren aman dari radikalisme. (republika.co.id, 15/11)

Menelisik Ide Kebebasan ala Kapitalis

Education for all sebuah konsep yang mengakomodir semangat pemenuhan rasa keadilan masyarakat dalam pendidikan. Karena pendidikan sejatinya merupakan hak dasar yang mutlak yang harus diperoleh oleh semua orang tanpa kecuali. Hak semua orang untuk mendapatkan pendidikan setinggi dan sejauh kemampuan yang dimiliki. Tidak boleh pendidikan hanya dinikmati oleh sekelompok orang atau elit tertentu (medianeliti.com, 27/7/).


Sepakat bahwa pendidikan harus mengutamakan kualitas demi persaingan dan kompetisi global. Namun haruslah kualitas yang tidak mengesampingkan hak pendidikan bagi semua. John Dewey pernah menyampaikan pesan revolusionernya bahwa masyarakat yang demokratis harus meyediakan kesempatan pendidikan yang sama bagi semua warganya serta kualitas pendidikan yang sama.

Dengan demikian dalam masyarakat demokratis dapat terbentuk manusia-manusia berkualitas, yang cerdas, kritis dan mampu mengalirkan ide-ide cemerlang sejalan dengan perkembangan zaman. Terlebih lagi di dalam demokrasi mengandung empat kebebasan, yaitu kebebasan beragama (freedom of religion), kebebasan berbicara (freedom of speech), kebebasan bertingkah laku (personal freedom), dan kebebasan kepemilikan ( freedom of ownership).

Namun kenyataannya tiada ruang bagi terwujudnya empat pilar kebebasan ini, khususnya dalam hal kebebasan beragama dan berbicara. Kebebasan dalam kacamata demokrasi tetap harus digiring agar sejalan dengan skenario tunggal kapitalis.

Sementara saat ini tepatnya setelah peristiwa 11 september 2001 narasi yang diunggulkan kapitalis barat merujuk pada istilah radikalisme yang bermuatan ekstrim, militan, non-toleran, dan anti-barat. Padahal istilah radikal ini lahir dari gerakan reformasi dalam sistem pemilihan di Inggris. Pada abad 19 istilah radikal ini menginspirasi Inggis dan Eropa untuk mengubahnya menjadi ideologi liberal yang progresif (wikipedia.org). Kemudian mereka menisbatkan ideologi radikal ini pada Islam. Al hasil Islam radikal dianggap sebagai sebuah ancaman bagi demokrasi dan peradaban barat sekuler.

Sebagai perlawanan terhadap kemunculan radikalisme Islam, barat menciptakan wacana Islam moderat di tengah-tengah kehidupan umat Islam.

Bukan hanya itu, barat juga menyiapkan bangunan karakter bagi setiap muslim yang ingin disebut moderat dengan menetapkan prasyarat, bahwa mereka harus berada dalam barisan penerima budaya barat, yaitu mendukung demokrasi, mengakui HAM-termasuk kesetaraan gender dan kebebasan beragama-, menghormati sumber hukum non agama, menentang terorisme dan kekerasan sesuai tafsiran barat, tak terkecuali memberikan penentangan terhadap Islam politik, khilafah dan jihad.

Semua ini tidak lain ditujukan untuk merancang pendekatan yang amat halus dalam pertarungan ideologi antara Islam dan Kapitalisme. Melalui Cheryl Bernard-peneliti RAND corporation, dapat dilihat pernyataan tegas yang meyebutkan bahwa dunia Islam harus dilibatkan dalam pertarungan tersebut dengan menggunakan nilai-nilai Islam yang dimilikinya. Sementara AS harus menyiapkan mitra, sarana, dan strategi pemenangan pertarungan. Tujuannya agar dapat mencegah penyebaran Islam politik, menghindari kesan bahwa AS ‘menentang Islam’, serta mencegah agar masalah ekonomi, sosial, dan politik tidak menjadi lahan subur radikalisme Islam.

Adapun mitra yang dirangkul AS dalam memerangi radikalisme Islam tidak lain adalah kaum sekuleris, muslim liberal, muslim tradisionalis, intelektual muslim liberal, kelompok perempuan, jurnalis, dan lain-lain. Mereka mendapatkan proyek besar untuk menderaskan opini Islam moderat, meski harus menakwilkan nash-nash syariat sejalan dengan kepentingan tersebut.

Benteng Penderasan Arus Moderasi

Demokrasi Indonesia yang kebablasan membuka peluang radikalisme, fundamentalisme, sekterianisme, dan terorisme (kompas.com, 22/02). Untuk mengatasinya, Jokowi menjadikan Indonesia berkomitmen melindungi kebebasan dan keberagaman agama dari radikalisme Islam (voaindonesia.com,16/8). 

Agar semakin kokoh kesungguhan memerangi radikalisme, maka Jokowi turut serta menghadiri KTT Islam-Amerika di Riyadh, Saudi Arabia (21/05) yang diikuti 53 kepala negara. Melalui KTT tersebut, disepakati adanya kerjasama melawan terorisme. Jokowi sebagaimana pidatonya mengedepankan pendekatan soft power (tanpa kekerasan) dalam kerjasama tersebut. Yaitu dengan menjadikan Indonesia sebagai model Islam moderat. 

Karena itulah Indonesia akan selalu mendapat juklak dan juknis AS dalam menderaskan isu ini. Misalnya melalui penerbitan Perppu No 2/2017 tentang perubahan atas UU No 17/2013 tentang ORMAS yang berlanjut dengan pengesahannya menjadi UU dalam rapat paripurna DPR (detik.com, 24/10). Menjadikan MUI sebagai inisiator sekaligus eksekutor dalam misi Islam moderat, dengan tugas membuat modul pelatihan dakwah wasathiyah bagi para dai. Juga pressure bagi kalangan kampus oleh Menristekdikti M Nasir agar menggaungkan deklarasi kebangsaan, disertai ancaman dan sangsi tegas pada rektor jika terjadi radikalisme di lingkungan perguruan tinggi (tempo.co). Kontrol BNPT cegah propaganda Terorisme dunia maya bersama media Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) dan ormas dengan melibatkan 100 pemimpin redaksi dari situs moderat, 50 admin dan penulis, serta 50 perwakilan organisasi kepemudaan (netralnews.com, 22/3). Demikian pula dengan upaya perombakan buku Pendidikan Agama  Islam yang dinilai mengandung konten radikal yaitu materi jihad dan khilafah baru-baru ini, benar-benar kental dengan aroma skenario AS, sang sutradara dunia.

Islam, Realitas Jihad dan Khilafah

Dalam salah satu analisanya, Prof. Suteki menyampaikan, “kita lebih suka berhukum secara prasmanan. Artinya berhukum syariat Islam itu sebatas yang mengenakkan, ambil yang dianggap menguntungkan, tinggalkan yang dianggap merugikan. Jadi cara berhukum itu sebatas anggapan manusia sendiri tanpa berkonsekuensi dengan “apa yang dimaui Allah” (tintasiyasi, 14/7)

Pola sekuler ini menurut dia tidak akan dapat meraih apa yang menjadi tujuan penyelenggaraan suatu negara, yaitu tercapainya kedamaian, kesejahteraan, dan tentu saja keberkahan di dalamnya. Padahal seperti apa yang kita fahami bahwa the end of sharia Islam enforcement adalah tercapainya tujuan negara didirikan, yakni maslahah dlaruriyaat.

Mengutip apa yang ditulis oleh Muhammad Husain Abdullah dalam kitab Mafahim Islamiyah, bahwa Islam akan mendatangkan maslahat dloruriyaat. Kemaslahatan-kemaslahatan yang menjadi keharusan, yang diperlukan oleh kehidupan individu masyarakat sehingga tercipta kehidupan yang harmonis. Jika kemaslahatan-kemaslahatan ini tidak ada, maka sistem kehidupan manusia menjadi cacat, manusia hidup anarki dan rusak, dan akan mendapatkan banyak kemalangan dan kesengsaraan di dunia serta siksa di akhirat kelak. Sayangnya, masalah dlaruriyaat tersebut rasanya memang seperti fiksi dan khayali.

Pragmatisme telah membawa malapetaka besar bagi masa depan bangsa, khususnya dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan mewujudkan transformasi nilai-nilai keagamaan. Jika pola pikir pragmatis telah menghinggapi dipastikan tidak mungkin lahir kepekaan terhadap bobroknya realitas kebangsaan. Bahkan juga tidak akan mampu membangkitkan penginderaan yang benar terhadap jejak kejayaan Islam yang mampu mewujudkan kemaslahatan dlaruriyaat ke dalam fakta kehidupan selama ratusan hingga ribuan tahun. 

Maka disinilah tantangan besar untuk mengungkap konspirasi di balik narasi Islam moderat yang menunggangi isu radikalisme untuk menyudutkan Islam menjauhkan umatnya dari gambaran Islam kaffah.

Kisah monumental Amirul mukminin Ali bin Abi Thalib yang kehilangan baju besi dalam sebuah peperangan setidaknya menjadi bukti nyata, bahwa setelah perkara ini di bawa ke meja hijau, Qadhi Syuraih berhasil menunjukkan keadilan Islam yang anti keberpihakan, dengan memenangkan kasus ini di tangan seorang kafir dzimmi yang menemukan baju besi dan mengakui itu sebagai miliknya. Hanya karena muslim sekelas khalifah Ali gagal menghadirkan saksi yang dibenarkan dalam sistem peradilan Islam.

Toleransi berbasis praktik, dengan kasat mata juga ditunjukkan Islam. Saat seorang Yahudi mengadu kepada khalifah Umar tentang perilaku Gubernur Mesir Amru bin Al Ash yang hendak menggusur rumahnya demi pembangunan sebuah masjid besar. Bukannya Umar memberikan pembelaan atas rencana baik sang Gubernur, tapi justru memberinya peringatan keras, dengan mengirimkan sepotong tulang unta dengan garis lurus di tengahnya, dan dipotongkan garis yang berlawanan arah dengannya. Tulang ini mengandung pesan agar Gubernur menegakkan keadilan, meski terhadap seorang Yahudi tua berlandaskan keimanan kepada Allah swt dan keyakinan akan tibanya kematian pada setiap hamba. 

Fragmen sejarah ini membuktikan bahwa ajaran Islam bukan fiksi apalagi fiktif melainkan realitas. Saat diterapkan dalam kehidupan, akan menuntun ke arah kemaslahatan umat manusia, bukan hanya muslim, tapi juga kafir. Maka layakkah label intoleransi dilekatkan kepada Islam ?.

Tidak ada sebuah komunitas masyarakat di muka bumi ini homogen, tetapi heterogen. Islam hadir sangat menghargai keragaman dengan tetap menyerukan amar ma’ruf nahi munkar. Maka seharusnya hal ini menjadi sebuah argumentasi tak terbantahkan, bahwa ajaran Islam apapun bentuknya, bukan monster yang menakutkan dan harus dijauhi, direvisi, atau dihapuskan. Ajaran Islam juga bukan candu yang memabukkan, sehingga pemeluknya kehilangan akal sehat dan kesadaran, tidak dapat membedakan mana yang haq (benar) dan mana kebatilan. Tapi Islam adalah ajaran mulia yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad saw dengan kesempurnaan aturan yang dijamin langsung oleh Allah swt dalam Al quran 

“... pada hari ini telah aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah aku cukupkan nikmatku untukmu, dan telah Aku ridhoi Islam sebagau agamamu” (TQS Al Maidah 3)

Maka pantaslah jika TW. Arnold dalam buku The Preaching of Islam, mengungkap dengan jujur tentang perlakuan yang diterima oleh non muslim yang hidup di bawah pemerintahan Daulah Utsmaniyah. Dia menyatakan, “sekalipun jumlah orang Yunani lebih banyak dari jumlah orang Turki di berbagai provinsi Khilafah yang ada di bagian Eropa, toleransi keagamaan diberikan pada mereka, dan perlindungan jiwa dan harta yang mereka dapatkan  membuat mereka mengakui kepemimpinan Sultan atas seluruh umat Kristen”,

Arnold kemudan menjelaskan, “perlakuan pada warga kristen oleh pemerintahan Ottoman-selama kurang lebih dua abad setelah penaklukan Yunani-telah memberikan contoh toleransi keyakinan yang sebelumnya tidak dikenal di daratan Eropa. Kaum Kalvinis Hungaria dan Transilvania, serta negara Unitaris (kesatuan) yang kemudian menggantikan kedua negara tersebut juga lebih suka tunduk pada pemerintahan Turki daripada berada di bawah pemerintahan Hapsburg yang fanatik; kaum Protestan Silesia pun sangat menghormati pemerintah Turki, dan bersedia membayar kemerdekaan mereka dengan tunduk pada hukum Islam..., kaum Cossack yang merupakan penganut kepercayaan kuno dan selalu di tindas oleh  Gereja Rusia, menghirup suasana toleransi dengan kaum Kristen di bawah pemerintahan Sultan” (rasitotursinah.wordpress.com).

Catatan ini menjadikan gambaran peradaban Islam yang mulia terus dikenang oleh siapapun juga. Sebab Islam dengan seluruh aturan yang diterapkan tanpa tebang pilih telah menebarkan kasih sayang dan cahaya terang benderang bagi kehidupan manusia sepanjang zaman. Hingga barat datang dengan kepongahannya, lalu mencabik-cabik kebesaran Islam menjadi kepingan-kepingan sejarah.

Maka inilah concern umat Islam terutama mereka yang ‘melek’ politik untuk segera menangkap peluang emas bagi cara baru penyiaran Islam dengan menampilkan kembali wajah Islam yang sempurna. Menyiapkan stempel baru bagi ajaran jihad dan memastikan lahirnya kluster baru dunia, bernama Khilafah. ()

Oleh Azizah, S. PdI*
*Penyuluh Agama Islam Banyuwangi



Referensi :
https://rasitotursinah.wordpress.com/articles/kehidupan-non-muslim-di-wilayah-islam/
https://www.netralnews.com/news/nasional/read/63856/bnpt.gandeng.netizen.cegah.pro
paganda.te
https://nasional.kompas.com/read/2017/02/22/12031291/jokowi.demokrasi.kita.sudah.ke
bablasan
https://www.voaindonesia.com/a/3988042.html
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Radikalisme_(sejarah)
https://m.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/19/12/07/q24zqh320-kemenag-
positif-hapus-khilafah-dan-perang-dari-kurikulum
https://tirto.id/cegah-radikalisme-kemenag-akan-ganti-buku-pendidikan-agama-islam-
eluR
Mafahim Islamiyyah, Muhammad Husain Abdullah
Risalah Akhir Tahun, Media Muslimah Center
https://t.co/1iOzw9Bz3x
https://republika.co.id/berita/q0x4oi377/kemenag-revisi-buku-agama-ini-kata-pengamat
https://suaraislam.id/rombak-buku-atau-rombak-agama-islam/

Posting Komentar

0 Komentar