TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Tanpa Khilafah, Umat Islam Terus Jadi Sasaran Kebencian



Umat Muslim Bosnia menandai peringatan 25 tahun pembantaian Srebrenica di tengah pandemi Covid-19 pada tanggal 11 Juli 2020. Tak sedikit yang datang berani menentang aturan pembatasan sosial untuk mencegah penyebaran Covid-19 demi menghadiri peringatan tersebut. Peringatan tahun ini sekaligus menjadi upacara penguburan sembilan korban yang diidentifikasi selama setahun terakhir. (m.cnnindonesia.com, 12/07/2020)

Tanggal 11 Juli menyisakan rasa pilu bagi kaum muslimin tersebab tragedi yang menimpa saudara sesama Muslim, yakni di Srebrenica, Bosnia. Bagaimana tidak, sejarah mencatat genosida yang terjadi pada Bosniaks (sebutan umat Muslim Bosnia) telah berlangsung secara tragis. Perempuan dewasa dan anak perempuan dikeluarkan dari kerumunan pengungsi dan diperkosa. Sementara itu, lebih dari 8.000 pria dewasa dan anak laki-laki Muslim Bosnia dibunuh hanya dalam waktu kurang dari 2 minggu. Beberapa orang dewasa dipaksa untuk menyaksikan anak-anak mereka dibunuh. Ribuan muslim dieksekusi untuk kemudian didorong ke kuburan massal dengan buldozer, bahkan beberapa saksi mengatakan sebagian dari mereka dikubur hidup-hidup. Peristiwa ini disebut pembunuhan massal terburuk yang terjadi di tanah Eropa sejak akhir Perang Dunia Kedua. (www.bbc.com, 11/07/2020)

Tragedi Yang Terus Berulang

Bukan hanya di Srebrenica, wilayah lain yang mengalami hal serupa terjadi pula di Palestina, Rohingya, Uighur, Kashmir dan wilayah lainnya. Di Palestina, konflik awal mula terjadi ketika Yahudi yang datang ingin meminta tanah bagian di Palestina. Namun seiring berjalannya waktu, Yahudi malah ingin terus menerus mengambil dan menguasai daerah tersebut.

Di Rohingya, konflik awal mula terjadi ketika pemerintah setempat mengeluarkan kebijakan dengan dalih palsu untuk menindak migrasi ilegal melintasi perbatasan Myanmar-Bangladesh. Nyatanya, tujuan utama mereka adalah menghapus etnis Rohingya yang notabenenya adalah kaum muslim. Hal yang sama dialami oleh Muslim Uighur dimana mereka mengalami kekerasan di negeri tempat tinggal sendiri.

Hilangnya Fungsi PBB

PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa) yang berfungsi mencegah konflik peperangan dan pembantaian nyatanya hilang bila berhadapan dengan umat Islam. Peran PBB terkesan mandul karena kenyataannya hanya kepanjangan tangan dari negara-negara kapitalis besar di bawah komando USA.

Ini terbukti, pada April 1993, Dewan Keamanan PBB menyatakan Srebrenica merupakan daerah aman, bebas dari serangan bersenjata atau tindakan permusuhan lainnya. Namun nyatanya pengepungan berlanjut. Pasukan Serbia Bosnia kembali menyerang Srebrenica. PBB tidak melakukan apa-apa ketika kekerasan berkobar di sekitar mereka. 

Pasukan tentara Belanda yang saat itu dikirim oleh PBB sebagai pasukan perdamaian nyatanya hanya diam tidak melakukan apapun ketika menyaksikan agresi Serbia. Bahkan mereka malah menyerahkan 5.000 Muslim Bosnia yang berlindung di pangkalan mereka ke pasukan militer Serbia Bosnia. 

Tragedi ini menjadi bukti tidak adanya perlakuan adil PBB terhadap negara berpenduduk muslim, bahkan PBB menjadi alat melegitimasi kebengisan segelintir penjahat untuk memuaskan nafsu kedengkiannya terhadap Islam dan kaum muslim.

Tiada Khilafah, Umat Terpecah Belah

Tragedi genosida umat Muslim Srebrenica dan di belahan bumi lainnya, ini seharusnya dijadikan pelajaran penting bagi umat saat ini. Selama Khilafah (sistem pemerintahan berlandaskan islam) belum tegak di bumi ini, maka negeri muslim akan terus menjadi medan pertarungan dan sasaran kepentingan negara besar yang tak segan mengorbankan ribuan nyawa kaum muslim.

Kebencian terhadap Islam dan ajarannya menjadi salah satu penyebab mengapa umat muslim hingga saat ini selalu menjadi sasaran kekerasan hingga pembantaian. Di samping itu, hal lain yang menjadikan mereka tiada hentinya membantai kaum muslim adalah karena ingin menguasai daerahnya. Dimana kita ketahui, negeri-negeri muslim banyak dikaruniai sumber daya alam yang melimpah dan bermacam-macam, yang tak lain ini semua adalah pemberian dari Allah Swt. Sang Maha Pencipta.

Selain itu, ketakutan mereka akan bersatunya umat Islam seluruh dunia dalam satu kepemimpinan Islam, hal inilah yang menjadi alasan utama mengapa mereka terus-menerus membenci dan melakukan segala cara agar Islam tidak pernah bangkit. Mulai dari memfitnah, memecah belah bahkan hingga membantai.

Ini dikarenakan, bila umat bersatu dalam naungan Khilafah, maka tak akan ada sekat apapun yang bisa menghalangi dan memecah belahnya. Mereka semua tahu itu. Sehingga ini bisa menjadikan kekuatan yang luar biasa. Namun, sangat disayangkan saat ini ketiadaan Khilafah membuat setiap bangsa yang ada di dunia ini tersekat dengan nasionalisme. Inilah keberhasilan upaya mereka sekaligus akar masalahnya, dimana bila ada negeri muslim yang dibantai, negeri yang lain tidak bisa turun tangan langsung untuk membantu dan menyelamatkannya. Meski bantuan kemanusiaan bisa dilakukan, namun nyatanya itu tidak menjadikan umat muslim terbebas dari kebengisan dan kezaliman musuh-musuh Islam.

Kemanakah Umat Islam Meminta Perlindungan?

Meminta perlindungan dan pertolongan memang hanya pantas digantungkan kepada Allah Swt. semata. Namun, ada media lain yang bisa menjadi wasilah turunnya pertolongan dan perlindungan Allah Swt. yaitu Khilafah. Dengan tegaknya Khilafah, maka negeri di seluruh dunia akan bersatu dan membentuk kekuatan yang tak akan terbendung. Bila satu daerah 'diganggu' oleh kaum kafir, maka muslim yang tinggal di daerah yang lain akan bersatu membantu dan melindungi tanpa diminta dan tentunya tanpa ada sekat nasionalisme. Hal ini didasarkan pada hadits Rasulullah saw.:

"Perumpamaan kaum Muslimin dalam urusan kasih sayang dan tolong-menolong bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh merasa sakit, maka menjalarlah penderitaan itu ke seluruh badan hingga tidak dapat tidur dan (merasa) panas." (HR. Bukhari dan Muslim)

Dengan adanya Khilafah maka akan menjadi penjaga nyawa kaum muslim seutuhnya. Selain itu, Khilafah tak akan membiarkan kaum muslim tertindas. Jangankan ribuan korban, seorang muslimah yang mengadu dan memanggil nama khalifah saja mampu membuat ribuan pasukan turun. Tercatat dalam sejarah, kepala pasukan sudah sampai ke tempat kejadian, sementara ekornya masih berada di tempat asal keluarnya pasukan. Sungguh luar biasa bukan? Semua ini karena seorang khalifah di dalam khilafah berperan sebagai perisai umat. Sebagaimana sabda Rasulullah saw.:

Sesungguhnya al-Imam (Khalifah) itu perisai, dimana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya. (HR. Bukhari dan Muslim)

Sungguh luar biasa bila aturan Islam diterapkan dalam bernegara. Nyawa akan terjaga dan keamanan umat akan terjamin seutuhnya. Semua ini hanya akan terwujud dalam naungan khilafah semata. Wallaahu a'lam bish shawab.[]

Oleh : Khansa Mubshiratun Nisa
(Mentor Kajian Remaja)

Posting Komentar

0 Komentar