Tak Ada Diskriminasi Pendidikan dalam Islam


Belum usai pandemi wabah Covid-19, kini menjamur banyak masalah yang makin membuat rumit kondisi yang ada di Indonesia. Salah satunya masalah Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) yang mendapatkan protes dari sejumlah orangtua. 

Sebagaimana diberitakan Tempo.co - Juru bicara Forum Orang Tua Murid (FOTM), Dewi Julia, mengatakan aksi digelar untuk memprotes syarat usia dalam penerimaan peserta didik baru PPDB Jakarta yang dianggap diskriminatif. (Senin, 29/6).

Dikutip dari Tribunwow.com - saat diadakan Konferensi pers oleh Dinas Pendidikan DKI Jakarta, sempat terjadi keributan. Karena salah satu wali murid melakukan protes dengan berteriak dan memarahi Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Nahdiana. Wali murid tersebut tidak terima ketika anaknya tidak diterima di sekolah favorit melalui sistem Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) karena faktor usia. "Saya berani ditahan. Dibohongin Indonesia. Tidak ada jarak dalam zonasi. Hanya usia. Ribuan enggak bisa masuk sekolah. Tahan saya silakan. Jangan dibohongi terus. Bohong, enggak ada seleksi jarak," ujar wali murid yang kemudian dibawa keluar oleh petugas tersebut. (Sabtu, 27/6).

Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Nahdiana memberikan penjelasan mengenai jalur zonasi di DKI Jakarta yang alokasinya sebesar 40 persen. Padahal berdasarkan Permendikbud RI Nomor 44 Tahun 2019 Pasal 11 Ayat 2, kuota jalur zonasi paling sedikit 50 persen dari kapasitas sekolah.

Menurut Nahdiana, kuota zonasi dikurangi 10 persen karena kemudian dialokasikan ke jalur prestasi. Hal itu dipaparkan Nahdiana saat pertemuan dengan orang tua atau wali murid bersama Komisi E DPRD DKI Jakarta.


Ketidakadilan Menjamur dalam Sistem Sekuler Kapitalis

Inilah fakta kerusakan dalam sistem sekuler kapitalis yang melahirkan ketidakadilan dan kebijakan diskriminatif dalam bidang pendidikan. Jika masih kukuh bertahan dengan sistem ini, maka bisa dipastikan generasi penerus bangsa tidak akan mendapatkan jaminan pendidikan karena alasan yang tidak masuk akal.

Padahal, lewat pintu pendidikan-lah akan terbuka wawasan yang luas dan cemerlang tentang kehidupan. Jika pintu ini ditutup dan tidak semua orang bisa mendapatkan akses pendidikan yang merata dan berkualitas, maka kegelapan pemikiran dan kemajuan tentu akan menghadang generasi penerus bangsa.


Islam Anti Diskriminasi dalam Pendidikan

Bagaimanakah Islam menjamin keadilan dalam dunia pendidikan?. Kesempurnaan peradaban Islam terangkum dengan apik lewat lisan dan tulisan orang-orang yang jujur menyampaikan tentang kegemilangan peradaban Islam. Banyak bukti yang menceritakan fakta kegemilangan dunia pendidikan, diantaranya :

Pertama, sebagaimana yang disampaikan oleh Yakut Al-Himawi (sejarahwan terpercaya, termasuk diantara para pembesar ilmuwan geografi) dalam Mu'jam Al-Adba' (I/491) : "Bahwa sebuah madrasah Abu Qashim Al-Balakhi (di Kufah) mempunyai 3000 murid. Tentu saja hal itu membutuhkan tempat yang luas sekali untuk menampung anak sebanyak itu. Karenanya Al-Balakhi harus naik keledai untuk bolak-balik di sela-sela mereka, memuliakan seluruh murid-muridnya".

Kedua, pada masa kepemimpinan khalifah Harun Ar-Rasyid yang memerintah dari tahun 170 sampai 193 H, banyak didirikan tempat yang disebut dengan Baitul Hikmah. Yang mana Baitul Hikmah berkembang menjadi rumah ilmu yang terbagi menjadi beberapa bagian, diantaranya : perpustakaan, pusat penerjemahan, markas kajian dan karangan, menara astronomi (observatorium astronomi) dan sekolah (termasuk universitas)

Menurut Will Durant dalam The Story of Civilization (4/319) : "Pada masa Ar-Rasyid dan Al-Ma'mun, Baitul Hikmah begitu besar perannya dengan menjadikan sebuah lembaga tempat bagi pelajar dan pengajar dalam kedudukan yang sama".

Ketiga, kegemilangan peradaban Islam sungguh menarik hati raja Inggris George II hingga berkirim surat kepada pemimpin kaum muslimin khalifah Hisyam III rahimahullah. 

"Dari George II raja Inggris, Swedia dan Norwegia kepada khalifah Islam, pemimpin kaum Muslimin negeri Andalusia, pemilik keagungan, Khalifah Hisyam III, yang berkedudukan tinggi dan mulia.

Setelah ta'dzim (pengagungan) dan tawqir (penghormatan)......

Kami memberitahukan kepada Anda bahwa kami telah mendengar tentang kemajuan pesat "mata air yang jernih" berupa universitas-universitas ilmu pengetahuan dan industri-industri yang maju di negeri anda yang makmur dan sejahtera....

Maka kami ingin mengirim putera-putera kami (bangsa Eropa) agar bisa mengambil contoh dari keutamaan-keutamaan kalian, dan agar hal ini menjadi awal yang baik dalam meneladani jejak-jejak kalian, untuk menyebarkan ilmu pengetahuan di negeri kami yang diliputi kebodohan dari empat penjurunya”.

Inilah bukti nyata keadilan dan kegemilangan pendidikan dalam peradaban Islam. Dan jaminan pendidikan untuk semua kalangan dan semua usia akan bisa terwujud saat kehidupan ini disandarkan lagi sesuai dengan panduan syariah-Nya. Jika tidak, maka akan terus tumbuh diskriminasi pendidikan bagi generasi penerus bangsa. Semoga diskriminasi dalam dunia pendidikan benar-benar hilang tak berbekas, dengan mulai berseminya bunga-bunga kebangkitan Islam. Wa ma taufiqi illa bilLah, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unib.[]

Oleh: Dahlia Kumalasari, Pendidik

Posting Komentar

0 Komentar