TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Stigmatisasi Ajaran Khilafah Tiada Henti


 
Khilafah merupakan suatu kepemimpinan umum bagi seluruh kaum muslim di dunia untuk menerapkan seluruh hukum-hukum Islam atau hukum syara’ dan mengemban dakwah islam ke seluruh penjuru dunia. Khilafah juga merupakan bagian dari ajaran islam dan salah satu warisan Rasulullah saw kepada umatnya. Hal tersebut tampak pada penerapan kehidupan Islam seusai dengan sistem pemerintahan yang beliau pimpin di Madinah dan penerapan kehidupan islam yang dilanjutkan oleh Khulafaur Rasyidin dan hingga runtuhnya Kekhilafahan yang terakhir yakni Kesultanan Turki Usmani. 

Ditengah sistem Sekulerisme-Kapitalisme, Khilafah yang merupakan bisyarah atau kabar gembira dari Rasulullah saw diperjuangkan oleh Kaum Muslimin namun selalu ditentang dan dihalangi untuk tegak. Karena jika Islam tegak, maka sistem Kapitalisme-Sekulerisme akan tergantikan dengan sistem Islam yang dapat membawa rahmat bagi seluruh alam. 

Karena melalui Daulah khilafah Khilafah islamiyah hukum-hukum syara’ diterapkan secara sempurna. Sikap anti khilafah tentu beragam bentuknya.  Bahkan dari dulu hingga kini pun masih tetap dimusuhi. Entah melaui narasi-narasi Radikalisme yang ditujukan pada Islam atau pada Khilafah. Bahkan Khilafah pun berkaitan erat disandingkan dengan tuduhan pemecah belah NKRI atau nasionalisme. Juga tak dapat dipungkiri bahwa akhir-akhir ini Khilafah disebut sebagai Ideologi yakni dengan menyebut istilah Khilafahisme. 

Tak cukup dengan hal tersebut, dalam segi pendidikan sekuler juga ikut melanggengkan proyek peniadaan ajaran Khilafah dalam materi pelajaran agama di madrasah. Karena Materi ajaran Khilafah dianggap bertentangan dengan Ideologi Negara Indonesia. Materi ajar Khilafah yang merupakan bagian dari khazanah islam yang seharusnya diberikan pada anak didik di sekolah-sekolah atau madrasah akan digantikan dengan Moderasi Islam. 

Tentu hal ini jelas merupakan tidakan penyesatan ajaran islam. Karena Moderasi Islam bukanlah ajaran dalam Islam. Sesungguhnya istilah moderasi Islam itu sendiri tidak ada dalam islam.  Namun istilah tersebut saat ini digunakan sebagai senjata yang ditujukan untuk kaum muslim untuk mengaburkan pemahamn umat terhadap ajaran islam termasuk ajaran Khilafah ataupun jihad. karena dalam moderasi islam menghendaki islam wasathiyah (islam tengah-tengah) atau Islam yang biasa-biasa saja  dan memerangi ide Khilafah.

Dalam wacana berita CNN Indonesia pada akhir tahun 2019 disampaikan bahwa Fachrul menjelaskan selama ini Khilafah dan Jihad diajarkan dalam mata pelajaran fikih yang membahas syariat dan hukum islam. Padahal menurutnya Khilafah sudah tidak kontekstual dengan kondisi Indonesia sebagai negara bangsa. Sebelumnya, Kemenag menerbitkan surat edaran Untuk melakukan revisi terhadap konten-konten terkait Khilafah dan  Jihad dalam ajaran Khilafah dan jihad dalam mata pelajatan agama islam di madrasah. (10/12)

Dicuplik juga dari berita Terkini.Id disampaikan bahwa Menag mengungkapkan, penghapusan konten radikal tersebut merupakan bagian dari program penguatan moderasi beragama yang dilakukan Kemenag. Fachrul mengungkapkan, ratusan judul buku yang direvisi berasal dari lima mata pelajaran, yakni Akidah Akhlak, Fiqih, Sejarah Kebudayaan Islam, Al-Qur’an dan Hadits, serta Bahasa Arab. Pihaknya pun memastikan bahwa ratusan buku pelajaran agama tersebut telah direvisi dan mulai dipakai untuk ajaran 2020/2021. (02/07)

Upaya-upaya yang dilakukan oleh Pemerintahan saat ini menunjukkan masiffnya rezim dalam upaya menghilangkan ajaran-ajaran Islam yang dianggap bertentangan. Tentu hal ini tidak terlepas dari rancangan Sistem saat ini yakni Sekulerisme-Kapitalisme yang ingin menjauhkan Umat dari Islam. Karena asasnya yang mendasar yakni memisahkan agama dari kehidupan, sehingga tidak menghendaki jika agama mengatur kehidupan manusia. Entah melalui hegemoni makna kata seperti melabeli ajaran-ajaran Islam seperti Khilafah dan  jihad itu dengan istilah radikal ataupun radikalisme dan bertentangan dengan negara.  Seperti yang saat ini terjadi dilakukan oleh pemerintahan melalui Kemenag dengan merevisi bahan ajar agama islam yakni meniadakan ajaran Khilafah dan Jihad.

Hal ini juga tentu tidak terlepas dari konteks politik global, dimana peradabadan Barat sudah mengetahui siapa yang menjadi penandingnya. Maka tidak heran pula jika mendengar istilah War on Terorisme yang kemudian beralih menjadi War on Radicalisme yang muaranya ditujukan untuk memusuhi Islam. Karena dengan melontarkan istilah-istilah labelling  tersebut Umat Muslim menjadi takut terhadap ajarannya. Disini sangat jelas bahwa pertentangan antara yang hak dan yang bathil akan senantiasa ada di sepanjang Zaman. Maka sebagai seorang muslim, kita harus memahami bagaimana sebenarnya kondisi politik global yang akan berpengaruh hingga ke negeri-negeri islam. 

Karena kondisinya Islam lah yang diperangi oleh peradaban Sekulerisme-Kapitalisme. Karena kekhawatiran akan ada tatanan dunia baru yang menghancurkan peradaban mereka. 

Selain itu, kita harus sigap menghadapi perang pemikiran dengan memperkuat Iman dan mengkaji Islam lebih dalam. Meyakini bahwa sekeras apa usaha mereka untuk menghalangi tegaknya Islam di dunia, mereka tidak akan mampu tuk menghentikannya, karena Janji Allah itu pasti, bahwa Khilafah ala Minhajin Nubuwwah akan tegak menggantikan peradaban Selurisme-Kapitalisme dan membawa Rahmat bagi seluruh alam.
Wallahua’lam bishowab.

Oleh : Elvira Masitho R. Agustin

Posting Komentar

0 Komentar