TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Solusi Tuntas Maraknya Narkoba


Kelangit tak sampai, ke bumi tak nyata. Demikianlah pengibaratan penerapan hukum yang setengah-setengah untuk kasus narkoba. Maka tak ayal kasus penyalahgunaan narkotika selalu kembali berulang. Direktorat Reserse(Dires) Narkoba Polda Kalbar kembali berhasil mengungkap kasus penyalahgunaan narkotika untuk yang kesekian kalinya. Seorang pria diamankan Polisi atas kepemilikan narkoba seberat 755gram (TribunPontianak 13/7/2020). Padahal baru pada 7 Juli lalu Dires Narkoba Polda Kalbar meringkus transaksi 15 butir pil ekstasi di sebuah Hotel di Pontianak.

Berbagai upaya telah dilakukan negara guna memberantas maraknya kasus narkoba. Mulai dari pengesahan UU NO 35 tahun 2009 tentang Narkotika, mengadakan berbagai sosialisasi juga konferensi dan rehabilitasi hingga turut dalam peringatan Hari Anti Narkoba Internasional tiap tahunnya.

Nas, segala upaya yang dilakukan belum membuahkan hasil. Hingga detik ini peredaran dan penyalahgunaan obat terlarang itu kian mengkhawatirkan. Bahkan kasus narkotika di negeri ini bagai fenomena gunung es yang hanya baru terlihat ujungnya, masih banyak sekali kasus yang belum terungkap.

Badan Narkotika Nasional menyatakan adanya peningkatan 0,03 % kasus terkait penyalahgunaan narkoba selama tahun 2019 dari tahun sebelumnya (kalbar.antaranews.com) dan sebanyak 3.600.000 penduduk Indonesia adalah pengguna narkoba (m.liputan6.com).

Maka dapat disimpulkan, masalah ini tidak selesai bukan karna tidak adanya undang-undang yang mengatur, atau masyarakat yang terlalu cuek dengan jutaan kasus. Inilah buah penerapan sistem kapitalisme-sekular, dimana kebahagiaan diukur dari terpenuhinya kesenangan jasmani tanpa melihat aspek halal-haram. Sistem dimana ide kebebasan (liberalisme) di gaungkan sedang agama diletakan hanya pada ranah ibadah ritual semata.

Bukan sesuatu yang mengherankan jika tiap individu merasa memiliki hak kebebasan dan yang terjadi adalah kompetisi tanpa ada batasan untuk mencapai kebahagiannya. 

Selain itu, Indonesia juga merupakan bagian dari negara yang melakukan perdagangan bebas dimana berarti negara kesulitan untuk melakukan penentuan mendetail dengan pihak mana akan melakukan hubungan dagang.

Saat penyaringan hubungan dagang  tak berlaku, maka hal ini membuat pihak yang menyalahgunakan narkoba keluar-masuk negara dengan leluasa untuk menyebarkan barang haram tersebut. Terlebih kegiatan ekonomi hanya berdasar sebatas pada permintaan dan penawaran, maka layanan akan diberikan jika sebuah komoditi dibutuhkan dengan alasan untuk penenangan diri atau bahkan hanya untuk coba-coba.Ditambah adanya keuntuntungan yang menggiurkan bagi yang lemah iman dengan berdagang narkoba meskipun statusnya adalah barang haram.

Dalam Islam, negara adalah pelindung dan pengatur urusan rakyat. Negara akan mendorong suasana ruhiyah dan memastikan tidak ada nilai-nilai liberalisme yang berkembang di tengah masyarakat. Perihal ekonomi juga akan merajuk pada konsep halal-haram, saat negara akan melakukan hubungan perdagangan internasional maka telah dipastikan adanya manfaat bagikehidupan masyarakat dan kebaikan untuk agama dengan adanya hubungan ini. Maka jika hubungan internasional telah terbukti membawa mudhorot bagi masyarakat negara tak akan segan meninggalkannya.

Pemberian hukuman dalam Islam akan di dasarkan pada tuntunan Allah SWT, dalam kasus penyalahgunaan narkoba sanksi yang diberlakukan adalah ta’zir, yaitu penetapan hukuman diserahkan pada keputusan Qadhi dan hukumannya bergantung pada tingkat kesalahan pelaku sebab tidak ada nash khusus yang membahas tentang hudud dalam hal ini. Sanksi yang diberikan tak hanya dapat melepaskan pelaku kriminalitas dari dosa tapi juga memberi efek jera bagi siapapun yang menyaksikan pendekatan hukumnya (Saud Al Utaibi, Al Mausu’ah Al Jina’iyah, 1/708-709; Abdurrahman Maliki, Nizhamul Uqubat, 1990, hlm. 81 & 98).

Maka tidak ada salahnya kita melirik Islam sebagai solusi alternatif untuk menyelesaikan permasalahan bangsa, khususnya terkait peredaran narkoba. Islam sebagai agama yang sempurna telah memiliki aturan konprehensif untuk menangani masalah ini.  Wallahua’lam bissawab.[]

Oleh : Agustin Pratiwi S.Pd 
Owner Mustanir Courses

 

Posting Komentar

0 Komentar