Sistem Islam Solusi Persoalan Pendidikan



Penerimaan peserta didik baru (PPDB) menjadi rutinitas setiap tahunya. Dimulai dari Paud hingga SMA, semua sekolah melaksanakan PPDB, karena bergantinya tahun akan berganti pula murid-muridnya di setiap jenjang pendidikan.  Di setiap tahun pula ada saja polemik yang terjadi. Tahun ini di DKI Jakarta terjadi keributan oleh sejumlah orang tua wali murid karena kebijakan yang diterapkan pemerintah daerah mengenai PPDB.

PPDB DKI Jakarta mendapatkan protes dari orangtua murid karena anak-anaknya tidak bisa diterima sekolah karena faktor usia. (kompas.tv 27 Juni 2020)

Kalau di Jakarta ada anak anak yang tidak bisa masuk ke sekolah favorit lantaran karena daya tampungnya kurang. Berbeda halnya di Jember, ada 8 SMA -SMK mengalami kekurangan siswa. 

Hal ini diketahui setelah dinas pendidikan propinsi Jawa Timur mengumumkan penerimaan siswa baru hari minggu kemarin. 

Kepala seksi SMA cabang dinas pendidikan propinsi Jawa Timur wilayah Jember Lumajang Rosyid Althaf menjelaskan, penerapan sistem zonasi kabupaten ini membuat siswa minder untuk mendaftar ke sekolah favorite. Hal ini terlihat seperti yang terjadi di SMA negeri Tanggul, yang baru kali ini mengalami kekurangan pendaftar. (www.kissfmjember.com 29 juni 2020) 

Polemik yang terjadi di dunia pendidikan ini memang bukan hal yang asing lagi. Dari masalah kualitas pendidikan, sarana prasarana, output pendidikan, hingga kurikulum yang ditetapkan. Hal ini tidak berlepas dari penerapan sistem pendidikan yang berasaskan kapitalistik.

Negara yang memiliki peran sebagai Operator (pelaksana) berubah menjadi rugulator dan fasilitator. Sehingga Negara bukan menjadi peran utama dalam melaksanakan pendidikan. Negara hanya sebagai regulator dan fasilitator bagi pihak lain untuk melaksanakan pendidikan. Alhasil pendidikan diarahkan sesuai dengan arahan pihak ketiga atau swasta.

Peran Negara sebagai fasilitator dan regulator ini akhirnya menjadikannya tidak berupaya penuh bagaimana pendidikan bisa dijalankan optimal. Misal Negara memberikan pelayanan terbaik demi menunjang proses pembelajaran, sarana dan prasarana yang memadai di semua jenjang pendidikan, memberikan akses pendidikan yang terbaik kepada semua anak tidak memandang si kaya dan si miskin, pendidikan murah berkualitas nagi semua Negara, serta penunjang apapun yang bisa menjadikan pendidikan berkualitas.

Sayangnya, hal itu tidak demikian yang terjadi. Berbeda dengan bagaimana Khilafah dengan Sistem Pendidikan Islam dan sitem Ekonomi Islam mampu menjawab persoalan di tengah-tengah pendidikan saat ini. Pendidikan Islam berasaskan kepada aqidah Islam serta tujuan pendidikan adalah membentuk kepribadian Islam serta terdepan dalam sains dan teknologi. 

Di sinilah peran Negara Khilafah dengan ssstem Ekonomi-nya akan berupaya memberikan pelayanan terbaik. Khilafah akan membangun sekolah-sekolah berkualitas. Dari mulai pendidikan dasar dan perguruan tinggi. Sekolah sekolah  akan dibangun dengan fasilitas yang mendukung untuk proses belajar mengajar. Dimulai dari gedung, fasilitas belajar, serta guru-guru yang berkompeten. Sehingga harapannya semua anak-anak bisa menikmati sekolah sekolah dengan kualitas yang bagus tanpa terkecuali.

Sejarah mencatat ada Universitas al-Mustansiriyah yang didirikan pada 5 Mei 1234 M oleh Khalifah al-Mustansir Billah (1226-1242). Perguruan tinggi inilah di awal kelahirannya secara concern mengajarkan Ilmu Alquran, seni berpidato, serta  matematika.  Universitas ini pun mencatatkan dirinya sebagai perguruan tinggi perintis di Baghdad yang mampu menyatukan pengajaran berbagai bidang ilmu dalam satu tempat.

   
Khalifah al-Mustansir Billah menyatukan empat studi penting pada masa itu ke dalam satu perguruan tinggi. Keempat bidang studi itu, antara lain; ilmu Alquran, biografi Nabi Muhammad (Sirah Nabawiyah), ilmu kedokteran, serta matematika.

Guna menunjang aktivitas perkuliahan, Khalifah al-Mustansir Billah mendirikan sebuah perpustakaan yang luar biasa besarnya. Penjelajah Muslim terkemuka kelahiran Tangier, Maroko, bernama Ibnu Batutta dalam catatan perjalanannya berjudul Ar-Rihla, mengungkapkan betapa besarnya perpustakaan kampus Universitas al-Mustansiriyah.

   
Menurut Ibnu Batutta, perpustakaan ini mendapatkan sumbangan buku-buku langka yang diangkut oleh 150 unta. Dari kekhalifahan saja, pada abad ke-13 M perpustakaan ini mendapatkan sumbangan 80 ribu buku. (republika.co.id)

Di universitas al mustansiriyah ini, setiap siswa menerima beasiswa berupa emas seharga satu dinar (4,25 gram emas). Kehidupan keseharian mereka dijamin sepenuhnya oleh negara. Fasilitas sekolah disediakan seperti perpustakaan beserta isinya, rumah sakit, dan pemandian.

Itulah salah satu contoh bagaimana Khilafah memberikan fasilitas yang terbaik untuk peserta didik untuk menunjang aktivitas belajar. Berdasarkan sirah Nabi saw. dan tarikh Daulah Khilafah Islam (Al-Baghdadi, 1996), negara memberikan jaminan pendidikan secara gratis dan kesempatan seluas-luasnya bagi seluruh warga negara untuk melanjutkan pendidikan ke tahapan yang lebih tinggi dengan fasilitas (sarana dan prasarana) yang disediakan negara.

Dalam Islam, negaralah yang berkewajiban untuk mengatur segala aspek yang berkenaan dengan sistem pendidikan yang diterapkan. Bukan hanya persoalan yang berkaitan dengan kurikulum, akreditasi sekolah/PT, metode pengajaran, dan bahan-bahan ajarnya, tetapi juga mengupayakan agar pendidikan dapat diperoleh rakyat secara mudah.

Rasulullah saw. bersabda,
«الإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ»
“Seorang imam (khalifah/kepala negara) adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas urusan rakyatnya.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Inilah yang menjadi pengingat bagi Khalifah dalam mengatur Negaranya. Termasuk dalam mengurusi pendidikan.

Sudah saatnya kita beralih kepada pengaturan Islam yang diatur berdasarkan Kitabullah dan Sunnah rasulullah dibawah Naungan Khilafah. Wallahu’alam bissowab.

Oleh Iis Ernawati, S. Pd. 

Posting Komentar

0 Komentar