TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Silent Killer dan Penularan Lewat Udara: Menuju Ledakan Kasus di Era New Normal?



Sebelumnya, Indonesia diprediksi akan bebas dari Covid-19 pada bulan Juli. Nyatanya setelah new normal diberlakukan pada bulan Juni, jumlah kasus terus meningkat setiap harinya. Bahkan jumlah kasus di Indonesia sudah melebihi jumlah kasus negara China yang merupakan negara pertama yang terinfeksi Covid-19. Berdasarkan data Worldometer 20 Juli 2020 Indonesia menempati peringkat 24 dengan jumlah kasus positif 88.214, sedangkan China diperingkat 26 dengan jumlah kasus positif 83.682.

Sebagian besar kasus baru yang terkonfirmasi ialah orang tanpa gejala atau OTG. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan 66 persen dari kasus positif Covid-19 baru di Ibu Kota merupakan orang tanpa gejala atau OTG (metro.tempo.co/12/07/2020).

Kasus Ribuan siswa Sekolah Calon Perwira Angkatan Darat (Secapa AD) terpapar Covid-19. Rata-rata siswa yang dinyatakan positif tersebut merupakan orang tanpa gejala (OTG) dengan usia muda atau millenial. Hal itu menjadi contoh bahwa OTG milenial lebih berbahaya dan berpotensi menyebarkan virus dengan cepat, karena yang terinfeksi tdak menyadari bahwa mereka membawa virus corona dalam tubuhnya.

Tidak cukup dengan melonjaknya kasus OTG milenial, era new normal juga dihantui dengan adanya temuan baru dari World Health Organization (WHO) bahwa Covid-19 bisa menular melalui udara.

World Health Organization (WHO) kembali memperbarui ringkasan ilmiah transmisi SARS-CoV-2 yang diterbitkan sejak 29 Maret 2020. Isinya terkait COVID-19 bisa menular melalui udara dan pola pencegahannya. Sebelumnya, 239 ilmuwan dari beragam negara mendapati virus Corona bisa menular melalui udara. Hal itu berdasarkan riset mereka yang bertajuk: "It is Time to Address Airborne Transmission of COVID-19."  (tirto.id, 10/7/2020)

Adanya temuan baru terhadap sebaran virus Covid-19 dan melonjaknya kasus OTG milenial seharusnya diiringi tindakan nyata pemerintah untuk memastikan putusnya rantai penularan. Sebab penularan lewat udara mempunyai potensi besar meluasnya penyebaran virus saat new normal. Serta Banyak nya OTG dari kaum millenial membuat millenial disebut sebagai sillent killer. 

Kebijakan antisipasi terhadap pekerja kantor, pegawai BUMN bahkan PNS belum juga dilakukan oleh pemerintah. Mereka tetap masuk kerja seperti biasanya dan hanya mengandalkan protokol kesehatan dan jaga jarak. Kenyataannya protokol kesehatan dan jaga jarak tidak lagi efektif dalam mencegah infeksi virus.

Dokter divisi penyakit tropik dan infeksi, Departemen Penyakit Dalam FKUI/RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo, Adityo Susilo, mengatakan, jika pada akhirnya WHO memastikan penularan Covid-19 melalui airborne, maka menjaga jarak sosial dan fisik sejauh dua meter tak lagi efektif.(CNN Indonesia, 10/7/2020)

Tetapi lagi-lagi pemerintah hanya mengembalikan kesadaran dan kehati-hatian kepada individu bukan mengevaluasi kebijakan new normal. Evaluasi yang dilakukan pemerintah terhadap kebijakan new normal harusnya bukan sekedar mengubah istilah, melainkan mengevaluasi kebijakan secara keseluruhan. 

Penularan lewat udara dan banyaknya OTG harusnya menjadi ancaman yang ditanggapi serius oleh pemerintah. Pemerintah seharusnya tidak menganggap remeh kasus OTG karena tidak membebani Rumah Sakit (RS). Terutama OTG millenial di era new normal karena bisa membuat sumber ledakan baru. Tetapi pemerintah benar2 berkomitmen untuk mencegah dan mengobati rakyat dengan serius. 

Pemeritah seharusnya melakukan tes massal Covid gratis agar bisa memisahkan antara yang sakit dengan yang sehat. Setelah hasil tes diketahui, yang sehat bisa bekerja seperti biasa dan yang sakit dikarantina dan diobati. Dengan begitu rantai penularan virus bisa terputus. Walaupun biaya yang dikeluarkan untuk melakukan hal tersebut sangat besar, tetapi uang bukanlah masalah bagi pemerintah yang benar-benar mengabdi untuk rakyat.

Negara yang seperti itu bukanlah negara yang memperoleh uang dari hasil pinjaman atau hasil memalak rakyat. Bukan pula oleh negara yang menyerahkan SDA ke asing/swasta. Melainkan negara yang independent, jauh dari pengaruh negara penjajah dan melakukan pengelolaan SDA oleh negara berdasarkan aturan dari pencipta-Nya.[]

Oleh: Mia Purnama, S. Kom

Posting Komentar

0 Komentar