TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Sekuleris-Liberalis Biang Maraknya Penistaan




Lagi dan lagi! Kasus dugaan penistaan agama kembali dilaporkan ke polisi. Unggahan kalimat di akun Facebook Miftahul Chairi pada 29 Juni 2020 lalu dianggap provokatif. Ia menyinggung soal perempuan yang memakai cadar. “Saya tak habis pikir, cewek-cewek yang bercadar itu. Saya aja pakai masker gak bisa lama-lama. Mereka satu harian memakainya apa gak bau jigong, bau lecit, atau bau tungkik itu kain cadarnya, dan parahnya ini dikatakan perintah Allah, padahal tidak ada di al Qur’an menyuruh cewek pakai cadar...” tulis miftah dalam akun Facebooknya (Medan, IDN Times, 20/07).

Ajaran Islam selalu jadi gorengan renyah bagi kaum sekuler-liberalis untuk merusak pemikiran kaum muslimin. Mereka dengan gamblang menggugah pernyataan yang menista agama Islam. Tidak hanya cadar, ajaran Islam lainnya seperti celana cingkrang, jihad, khilafah senantiasa diopinikan sebagai faham arabian, radikalisme atau terorisme yang disematkan pada seorang muslim yang menjalankan dan memperjuangkan ajaran Islam. Opini ini memicu Islamophobia dan kebencian terhadap Islam di tengah-tengah masyarakat. Terlebih lagi, terjadi diskriminatif dan penolakan-penolakan terhadap ajaran Islam lainnya. Sungguh miris! Ungkapan penistaan tersebut malah keluar dari mulut yang mengaku dirinya adalah seorang muslim.

Berpegang pada asas sekulerisme yang membolehkan adanya kebebasan berekspresi (berpendapat), membuat kasus penistaan terhadap agama Islam tumbuh menjamur di negri yang merupakan mayoritas muslim terbesar dunia ini. Sekulerisme meniadakan peran Tuhan dalam kehidupan. Artinya, dalam kehidupan selain peribadatan seperti sholat, puasa, zakat, haji, agama tidaklah mengatur aktivitas kehidupan lainnya termasuk dalam berperilaku. Walhasil, sah-sah saja berpendapat sesuai kehendak hati.

Di lain sisi, negri ini juga menerapkan faham kebebasan berpendapat (demokrasi). Membiarkan siapa saja berekspresi tanpa batas. Meskipun memiliki aturan perundang-undangan, peraturan ini tidak efektif menumpas kasus penistaan. Negara tidak memberikan sanksi yang tegas terhadap penista. Beberapa kali kasus penistaan terjadi, pelaku terbebas dari hukuman dengan hanya memposting pernyataan “maaf”. Tentu kasus ini akan terus berulang lagi dan lagi. Inilah bukti bahwa negara yang menganut asas sekuleris-liberalisme ini gagal melindungi agama.

Hal ini akan berbeda bila negara menerapkan sistem Islam secara kaffah (menyeluruh) di bawah naungan khilafah Islamiyyah. Islam merupakan agama yang paripurna dan komprehensif. Mengatur seluruh lini kehidupan mulai dari masalah kecil seperti thaharah (bersuci) hingga masalah daulah (bernegara). Islam senantiasa memupuk ketaqwaan individu sehingga lahir sosok-sosok individu yang senantiasa condong kepada kebenaran.

Islam tak mengenal adanya kebebasan dalam bertingkah laku. Segala perbuatan manusia hukum dasarnya adalah terikat kepada syariat. Karenanya, kaum muslimin yang memahami agama akan senantiasa berhati-hati dalam segala hal. Termasuk berprilaku dan bertutur kata.

Demikian juga dengan pemakaian cadar. Cadar termasuk salah satu bagian dari ajaran Islam. Menurut Mazhab Hanafi dan Mahzab Maliki, mengenakan cadar bagi seorang muslimah adalah sunnah. Alasannya yakni, wajah bukanlah aurat wanita. Sedangkan menurut Mazhab Syafi’i dan Hambali, mengenakan cadar hukumnya adalah wajib bagi seorang muslimah bila berhadapan dengan seorang lelaki yang bukan mahramnya. Meskipun ada khilafiyyah (perbedaan pendapat) di kalangan ulama, namun semuanya sepakat bahwa tidak boleh melarang seseorang yang mengenakan cadar terlebih lagi mengolok-ngoloknya.

Di dalam khilafah, semua pemikiran yang menyerang Islam akan dilawan. Siapa saja yang berani mengolok-olok agama akan diberi sanksi tegas. Sehingga akan memberi efek jera bagi si pelaku dan juga menjadi pembelajaran bagi masyarakat yang menyaksikannya. Maka dari itu, bentuk-bentuk penistaan seperti hari ini tidak akan terjadi berulang kembali. Demikianlah khilafah benar-benar melindungi eksistensi agama dan memberi ketenangan bagi penganutnya. Untuk itu, mari kita beralih kepada penerapan syariat Islam secara kaffah dalam bingkai daulah khilafah Islamiyyah. wallahua’lam bisshowab. []

Oleh Qisti Pristiwani
Mahasiswi UMN AW

Posting Komentar

0 Komentar