TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Sekolah Tutup, Belajar Pindah ke Warkop



Pandemi COVID-19 cukup sukses membolak-balikkan tatanan kehidupan. Jika dulu marak razia pelajar berseragam yang nongkrong di warkop saat jam pelajaran, kini malah sebaliknya. Akibat pandemi, tak sedikit
pelajar berseragam lengkap malah asik nongkrong dan sibuk dengan gadgetnya masing-masing.

Pemandangan itu terlihat di Warung Kopi (Warkop) Pitulikur, tepatnya di Jalan Bagong Tambangan Surabaya. Di antara hiruk-pikuk suara kendaraan bermotor dan silih bergantinya pelanggan, ada sejumlah pelajar berseragam lengkap tengah asik memainkan gadgetnya. Mereka merupakan pelajar dari berbagai sekolah negeri dan swasta di Surabaya yang tinggal di sekitar warkop Pitulikur.(Sindonews.com, 20/7/2020)

Miris sekali melihat nasib generasi bangsa ini harus melakukan proses belajar di warkop karena orang tua tidak sanggup menyediakan fasilitas Wifi atau membelikan kuota internet bagi putranya. Padahal kebijakan pemerintah untuk menutup sekolah salah satunya adalah digunakan sebagai bagian dari rencana penguncian dan pemutusan rantai kehidupan Covid-19 yang lebih luas di seluruh Indonesia.

Jika anak-anak keluar dari sekolah, kemudian mereka justru berbaur dengan orang dewasa dan anak-anak lain di warkop, tanpa memperhatikan protokol kesehatan semisal menggunakan masker, jaga jarak, rajin mencuci tangan dan sebagainya, maka hal tersebut dapat membahayakan semua pihak.

Anak-anak juga bisa terjangkit virus, tetapi apakah mereka bisa menjadi bagian utama rantai penularan, atau apakah mereka memiliki kemampuan penyebaran yang rendah dan tidak menularkan virus? Itu yang menjadi pertanyaan.

Padahal jika anak-anak tidak bersekolah, mereka masih perlu dijaga. Salah satu kemungkinannya adalah kakek nenek yang akan dipanggil untuk menjaga mereka. Dikhawatirkan anak-anak ini akan menjadi pembawa virus bagi keluarganya terutama bagi usia lansia yang rentan penyakit.

Disisi lain, siswa yang berkumpul di luar sekolah seperti di warkop ini akan meningkatkan resiko bagi orang dewasa yang lebih tua atau mereka yang memiliki penyakit penyerta, mengingat di warkop  banyak dijumpai bapak-bapak gojek yang telah berusia 45 th keatas. Ditambah lagi polusi asap kendaraan, asap rokok serta hiruk pikuk suara disekitar warkop, apakah bisa membuat para pelajar ini berkonsentrasi dalam belajar? Alih-alih mendapat pelajaran, para pelajar ini justru beresiko terpapar virus Corona. Bagi pelajar ini yang penting tunai kewajiban tanpa memikirkan bahaya yang mengancam mereka.

Akar Masalah Carut Marut Pendidikan

Memang dalam sistem pendidikan sekuler semua yang terlibat dalam proses pembelajaran cenderung fokus pada hasil, bukan pada proses belajar itu sendiri, yang sesungguhnya dalam Islam sangat mulia dan memuliakan.

Selama ini, semua pihak, baik para siswa, guru (sekolah) dan pihak orang tua (keluarga) dan masyarakat, memang berhadapan dengan sistem pendidikan yang tak jelas arah tujuan. Bahkan bisa dikatakan sistem pendidikan yang dijalankan adalah sistem yang asal jalan.

Negara sungguh nampak tak peduli sistem pendidikan ini mau dibawa ke mana. Padahal ada hal besar yang sedang dipertaruhkan yaitu masa depan pendidikan generasi penerus bangsa.

Sejatinya aspek pendidikan merupakan salah satu pilar utama pengokoh bangsa. Karena melalui pendidikanlah generasi berkualitas penerus bangsa ini bisa dipersiapkan.

Di sisi lain, orientasi bisnis yang dilegalkan oleh undang-undang dan kian menambah carut marut dunia pendidikan. Sebagian sekolah berkategori unggul, sedikit demi sedikit telah mengikis idealisme tentang kemuliaan tujuan pendidikan itu sendiri.

Pendidikan Rakyat Tanggung Jawab Negara

Kebijakan negara Islam secara sistemis akan mendesain sistem pendidikan dengan seluruh supporting system-nya. Bukan hanya dari sisi anggaran, namun juga terkait media, riset, laboratorium, tenaga kerja, industri, sampai pada tataran politik luar negeri.

Negara dalam Islam benar-benar menyadari bahwa pendidikan adalah sebuah investasi masa depan. Oleh karena itu, negara wajib menyediakannya untuk seluruh warga dengan cuma-cuma. 

Kesempatan pendidikan tinggi secara cuma-cuma dibuka seluas mungkin dengan fasilitas sebaik mungkin. Hal ini karena Islam menjadikan pendidikan sebagai salah satu kebutuhan primer bagi masyarakat.

Pembiayaan Pendidikan

Seluruh pembiayaan pendidikan di dalam negara Khilafah diambil dari baitul mal, yakni dari pos fai’ dan kharaj serta pos milkiyyah ‘amah atau pos kepemilikan umum.

Seluruh pemasukan negara Khilafah, baik yang dimasukkan di dalam pos fai’ dan kharaj, serta pos milkiyyah ‘amah, boleh diambil untuk membiayai sektor pendidikan. Jika pembiayaan dari dua pos tersebut mencukupi maka negara tidak akan menarik pungutan apa pun dari rakyat.

Jika harta di baitul mal habis atau tidak cukup untuk menutupi pembiayaan pendidikan, maka negara Khilafah meminta sumbangan sukarela (dharibah) dari kaum Muslim. 

Dharibah sebagai harta yang diwajibkan Allah SWT kepada kaum Muslim untuk membiayai berbagai kebutuhan dan pos-pos pengeluaran yang memang diwajibkan atas mereka, ketika kondisi baitul mal tidak ada uang atau harta.

Ada lima unsur dalam dharibah. Pertama, dharibah itu diwajibkan oleh Allah SWT kepada umat Islam. Kedua, objeknya adalah harta benda. Ketiga, pelakunya terbatas orang-orang Muslim yang kaya. Keempat, tujuannya untuk membiayai keperluan umat Muslim saja. Dan kelima, diberlakukan dalam kondisi darurat.

Jika sumbangan kaum Muslim juga tidak mencukupi, maka kewajiban pembiayaan untuk pos-pendidikan beralih kepada seluruh kaum Muslim.

Berdasarkan sirah Nabi saw. dan tarikh Daulah Khilafah Islam (Al-Baghdadi, 1996), negara Islam juga memberikan jaminan pendidikan secara gratis dan kesempatan seluas-luasnya bagi seluruh warga negara untuk melanjutkan pendidikan ke tahapan yang lebih tinggi dengan fasilitas (sarana dan prasarana) yang disediakan negara.

Contoh praktisnya adalah Madrasah al-Muntashiriah yang didirikan Khalifah al-Muntahsir Billah di kota Baghdad. Di sekolah ini setiap siswa menerima beasiswa berupa emas seharga satu dinar (4,25 gram emas). Kehidupan keseharian mereka dijamin sepenuhnya oleh negara. Fasilitas sekolah disediakan seperti perpustakaan beserta isinya, rumah sakit, dan pemandian.

Begitulah pendidikan dalam sistem Khilafah yang terbukti mampu mencetak generasi berkualitas dan berguna bagi ilmu pengetahuan karena semua pembiayaan dan fasilitas di penuhi oleh Negara.[]

Oleh Nabila Zidane
Forum Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban

Posting Komentar

0 Komentar