TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Hagia Shopia, Sebrenica, dan Palestina: Bukti Umat Islam Butuh Khilafah

Dilansir dari tempo.co (17/7/2020), kabar menghilangnya Palestina dari Maps memang memicu aksi seluruh masyarakat dunia. Ini bukan hanya soal Palestina-Israel, melainkan ini masalah semua kaum muslim, kata sebagian orang. Ya, betapa pilunya kekerasan yang dirasakan oleh masyarakat Palestina selama bertahun tahun, konflik yang tak pernah berujung itu membuat kenangan pahit di benak kaum muslimin. 


Dunia seakan tak bersuara ketika Palestina menjerit, dimana HAM yang kau agung agungkan itu? Dimana PBB yang bisa mengatasi konflik internasional itu? Rasanya dunia tak memihak pada mu Palestina. Namun ternyata dibalik kekerasan Israel itu, bukan sesuatu yang muncul tiba tiba. Meski baru baru sekarang ini aksi tersebut menjadi headline kembali di berbagai media, Namun sejarah Israel yang didirikan tahun 1947 ini memang selalu diwarnai dengan kebrutalan. Pertumpahan darah merupakan suatu perkara yang biasa terjadi di wilayah ini. 


Saat ini, Kaum muslimin telah merasakan pahitnya buah busuk dari slogan palsu Kemerdekaan. Dari sini kita memiliki antusiasme sebagaimana para pendahulu kita untuk meraih kemerdekaan. Bedanya sekarang kita dibekali bahwa seluruh sistem yang dulunya diadopsi oleh para penjajah harus diganti dengan sistem yang baru. Yang diganti tentu bukan hanya lagu kebangsaan, bendera nasional, dan warna kulit presiden nya. Seruan kemerdekaan yang bergema selama ini terbukti telah menyimpangkan umat islam dari upaya menuju kebangkitan. 


Kaum muslimin sudah semestinya menghapuskan pemujaan manusia terhadap tokoh tokoh kemerdekaan. Yang seharusnya kita serukan bukan kemerdekaan semata,  Namun juga harus menyerukan kembalinya islam sebagai pandangam hidup yang menyeluruh yang muncul dari kesadaran semacam ini adalah kemerdekaan yang hakiki dslam bidang politik, ekonomi,  dan kebudayaan. Dari belenggu kaum penjajah. 


Selain kasus palestina yang tak kunjung usai, Kejadian pada Tanggal 11 Juli 2020 lalu bertepatan dengan tragedi berdarah Srebrenica pada tanggal yang sama 25 tahun lampau. Dan qodarullah, sehari sebelumnya yakni 10 Juli 2020, adalah tanggal ditetapkannya kembali Hagia Sophia menjadi masjid (dieja Aya Sofya dalam bahasa Turki), setelah 86 tahun lamanya menjadi museum.


Peristiwa pengembalian Hagia Sophia menjadi masjid ini sungguh langkah bersejarah. Tak ayal, ini membuat benak kaum muslimin di seluruh dunia mendadak terinstal penuh dengan ghirah kebangkitan. Di masa pandemi Covid-19, di mana masjid-masjid milik umat Islam di seluruh dunia ditutup, tak terkecuali Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, membuka Hagia Sophia menjadi masjid tentu sebuah langkah yang berbeda.

Di samping itu, tentunya juga menjadi bekal yang lebih dari cukup untuk turut mengingatkan dunia akan tragedi Srebrenica yang dampak politis dan psikisnya masih berlanjut hingga saat ini. Diketahui saat itu, yakni selama Perang Bosnia, Srebrenica dikepung pasukan Serbia antara 1992 dan 1995. Saat itu, milisi Serbia mencoba merebut wilayah dari Muslim Bosnia dan Kroasia untuk membentuk negara mereka sendiri.

Meski pada 1993 Dewan Keamanan PBB telah menyatakan Srebrenica sebagai “daerah aman”, namun pasukan Serbia yang dipimpin oleh Jenderal Ratko Mladic menyerbu zona PBB. Sekitar 450 Belanda tentara yang ditugaskan melindungi warga sipil yang tidak bersalah sebagai pasukan penjaga perdamaian PBB gagal bertindak ketika pasukan Serbia menduduki daerah itu. Akibatnya, peristiwa ini menewaskan sekitar 2.000 pria dan anak laki-laki.

Mencermati secara jauh lebih mendalam, di sana ada jejak sejarah berupa visi jihad Islam yang tak bisa diabaikan. Hagia Sophia (di Konstantinopel) dan Srebrenica (yang berlokasi di Bosnia) sama-sama buah tangan perjalanan jihad Sang Penakluk, Sultan Muhammad Al-Fatih (Mehmed II). Ma syaa Allah. Tercatat, Konstantinopel jatuh ke pangkuan Islam pada 1453 M. Berjarak 10 tahun kemudian, yakni pada 1463 M, Sang Sultan menaklukkan Bosnia.

Sungguh keduanya, Hagia Sophia dan Srebrenica ini, tak bisa dilepaskan dari jejak keberkahan persatuan kaum muslimin di bawah naungan sistem Kekhilafahan Islam. Hingga akhirnya semua tercerai berai kala Mustafa Kemal meruntuhkan Khilafah pada 1924.

Begitupun negri para anbiya, Palestina. Palestina di bawah kekuasaan Islam saat itu, berkembang menjadi sebuah wilayah yang multikultur. Umat Islam, Nasrani, dan Yahudi yang berdiam di wilayah Palestina pada masa itu hidup berdampingan secara damai dan tertib. Sejak awal menaklukkan wilayah Palestina, penguasa Islam tidak pernah memaksakan agamanya kepada penduduk setempat. Mereka tetap diperbolehkan menganut keyakinan lama mereka dan diberi kebebasan beribadah.

Yang setelahnya, tangan-tangan keji kaum kafir dengan begitu serakah menjarah keberkahan itu dan menggantinya dengan mimpi buruk sekularisme dan nasionalisme. Na’udzu billaahi min dzalik.

Tak ayal, polemik Palestina, Hagia Sophia pun tragedi Srebrenica begitu lantang menegaskan urgensi tegaknya kembali Khilafah untuk menaunginya dengan sistem Ilahiyah secara kaffah.
Ini benar-benar pelajaran penting bagi generasi umat Rasulullah ﷺ yang hidup di masa saat ini, bahwa tanpa Khilafah negeri muslim akan terus menjadi medan pertarungan kepentingan negara besar yang tak segan mengorbankan ribuan nyawa muslim. Wallahualam.[]

Oleh : Ahsani Ashri, S.Tr.Gz 
Nutritionist, Pemerhati Sosial

Posting Komentar

0 Komentar