TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

RUU Omnibus Law Cipta Kerja: Terlalu Zalim untuk Diterapkan


Rezim kembali berulah dan membangun amarah masyarakat dengan kebijakannya. Saat ini revisi Omnibus Law yang begitu dipaksakan agar  selesai dan pengesahan bisa segera dilakukan, mengingat ada kebutuhan mendesak untuk memastikan iklim kondusif investasi demi penciptaan lapangan kerja massal. Hal ini membuat banyak elemen masyarakat bergerak untuk menentangnya, sebenarnya untuk siapakah lapangan kerja ini ??.

Kumpulan serikat buruh, mahasiswa, dan elemen organisasi masyarakat sipil lainnya turun ke jalan dan melakukan protes ke DPR RI  (16/7/2020).

Mereka mendesak agar Omnibus Law RUU Cipta Kerja dihentikan karena dinilai cacat prosedur dan bermasalah secara substansi. Rencananya, aksi juga berlangsung di berbagai daerah, seperti Jawa Barat, Jawa Timur, dan Batam (tirto.id, 15/7/2020).

Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) menyatakan keluar dan mengundurkan diri dari tim teknis yang membahas omnibus law RUU Cipta Kerja Klaster Ketenagakerjaan. Tim ini dibentuk Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) dengan tujuan untuk mencari jalan keluar atas buntunya pembahasan klaster ketenagakerjaan. Namun, serikat pekerja, seperti KSPSI AGN, KSPI, dan FSP Kahutindo memutuskan untuk keluar dan mengundurkan diri dari tim.(Republika.co.id 16/7/2020)

Aksi ini digelar setelah sebelumnya sejumlah konfederasi dan serikat buruh memutuskan mengundurkan diri dari tim teknis yang membahas Omnibus Law RUU Cipta Kerja dalam unsur tripartit. Keluarnya kalangan buruh dari tim teknis yang dibentuk Kementerian Ketenagakerjaan itu disinyalir karena arogansi Apindo maupun Kadin.

Awalnya, tim teknis dibentuk untuk mencari jalan keluar atas buntunya pembahasan klaster ketenagakerjaan. Termasuk menindaklanjuti kebijakan Presiden Jokowi dan Ketua DPR RI yang menunda pembahasan klaster ketenagakerjaan (kompas.com, 15/7/2020).

Penolakan buruh terhadap Omnibus Law RUU Cipta Kerja sangat beralasan. Hal ini karena RUU tersebut merugikan dan mengeksploitasi buruh. Dengan dalih menarik investasi masuk Indonesia, buruh yang dikorbankan. Upah buruh makin ditekan dengan penghapusan upah minimum.

Upah per jam juga akan menyengsarakan buruh karena nilai total per bulannya di bawah upah minimum. Padahal di masa pandemi ini kebutuhan hidup sangat besar karena harga barang naik. Jika upahnya ditekan, para buruh akan masuk ke jurang kemiskinan yang makin dalam, dan sudah banyak keluhan dari masyarakat mengenai hal ini.

Konflik antara pekerja dan pengusaha merupakan suatu hal yang jamak terjadi dalam sistem ekonomi kapitalisme. Sejak revolusi industri, perseteruan buruh dan pengusaha seolah menjadi konflik abadi hingga saat ini.

Dunia masih menghadapi demonstrasi dan tuntutan buruh, termasuk di negara-negara maju seperti Amerika Serikat (AS). Pemogokan kerja telah terjadi sejak 1806 oleh pekerja Cordwainners di Amerika Serikat. Pascaperang dunia pertama terjadi gelombang munculnya serikat pekerja. Gelombang yang sama terjadi di Indonesia tahun 1910-an.

Sebenarnya dimana letak perhatian pemimpin kita saat ini di rezim ini, semakin ke sini sikap pemerintah negri semakin menganak tirikan rakyatnya dan memanjakan asing yang seharusnya menjadi musuh dan ancaman negri ini.

Harus kita pahami bahwa konflik abadi antara buruh dan pengusaha tidak akan terjadi dalam sistem khilafah Islam. Upah (ujrah) adalah bentuk kompensasi atas jasa yang telah diberikan tenaga kerja.

Kemudian persoalan upah dikembalikan pada standar Islam yakni syariah. Rasulullah Saw. memberikan panduan terkait upah pada hadis yang diriwayatkan Imam Al-Baihaqi, “Berikanlah gaji kepada pekerja sebelum kering keringatnya, dan beritahukan ketentuan gajinya, terhadap apa yang dikerjakan.”(muslimahnews.id)

Seorang pekerja berhak menerima upahnya ketika sudah mengerjakan tugas-tugasnya. Pekerja dan majikan harus menepati akad di antara keduanya mengenai sistem kerja dan sistem pengupahan.

Masya Allah, begitu luar biasanya Islam dalam meriayah rakyatnya, masalah upah benar-benar di perhatikan oleh kholifah, sungguh yang terjadi saat ini jauh dari yang Islam berikan, terus apa lagi yang kita tunggu, mari kita hijrah dari sistem kufur ini ke system Islam yang akan memberikan rahmat bagi seluruh alam. Allahualam bisawwab.[]

Oleh Fitri Khoirunisa,A.Md 
Muslimah Ideologis Khatulistiwa

Posting Komentar

0 Komentar