Rohingya, Potret Umat Islam yang Tak Berdaya


Puluhan warga Rohingya diselamatkan nelayan dari perairan Aceh Utara. Mereka diduga terkatung-katung di laut setelah kapal yang mereka tumpangi rusak. Para pengungsi Rohingya yang terombang-ambing di lautan sejak 22 Juni 2020 tersebut dibawa seusai Magrib dari Desa Lancok, sekitar 15 kilometer dari Kota Lhokseumawe. Mereka dibawa ke daratan oleh para nelayan setelah mendapat desakan dari para penduduk sekitar.

Salah seorang petugas medis yang bergabung dengan tim Palang Merah Indonesia (PMI) Aceh Utara dr Niza Novrizal mengatakan bahwa, kebanyakan para pengungsi mengalami malnutrisi akibat kurang asupan nutrisi. Mereka juga mengalami dehidrasi atau kurang cairan, gangguan pencernaan, serta demam. Kebanyakan anak-anak dari pengungsi asal Myanmar itu juga menderita diare.

Panglima Laut Aceh Utara M Hasan  mengatakan, ke-94 pengungsi Rohingya ditempatkan di pondok-pondok pinggir pantai. Mereka terdiri atas 15 orang laki-laki dewasa, 49 perempuan, dan 30 anak-anak. Warga di sana juga berpatungan membelikan makanan untuk 'manusia perahu' tersebut.

Kedatangan pengungsi Rohingya bukanlah situasi yang terjadi untuk pertama kalinya, namun telah terjadi sejak pecahnya konflik di Myanmar pada tahun 2015, yang mengakibatkan masyarakat Rohingya terpaksa menyelamatkan diri dan meninggalkan tempat tinggalnya. 

Pada awalnya pemerintah menolak dan ingin mengembalikan mereka ke laut, namun masyarakat berinisiatif untuk membantu, karena adanya hukum adat yang berlaku terkait dengan pertolongan dan solidaritas kepada sesama manusia. Inisiatif ini bukanlah yang pertama kalinya dilakukan oleh masyarakat Aceh kepada pengungsi Rohingya. (detik.com 25/06/2020).

Bukan hanya Rohingya

Rohingya hanyalah salah satu potret umat Islam yang teraniaya. Dibantai, rumah-rumah mereka dibakar, terusir dari negerinya. Hanya karena identitas mereka beraqidah Islam. Hingga terpaksa keluar dari kampung halamannya, demi menyelamatkan diri dan aqidahnya. Tak jauh berbeda, kondisi umat di Palestina, Suriah, Xin Jiang, dan lainnya. Mereka bagaikan anak ayam kehilangan induknya. Tak ada tempat untuk mengadu dan meminta perlindungan. Bertahun-tahun bahkan berpuluh tahun tertindas disaksikan oleh dunia. Berbagai lembaga kemanusiaan dan lembaga internasional terbukti tak mampu menghentikan semua penderitaan yang sedang dialami kaum muslimin di berbagai belahan dunia. 

Di tengah jeritan saudara seiman, muslim sedunia pun resah dan ringan memberi bantuan. Sebagaimana yang diajarkan Allah SWT dalam ayat suci. "Sesungguhnya orang-orang Mukmin itu tak lain adalah bersaudara.” (Q.s. al-Hujurat: 10)

Namun apa daya, kekuatan individu bukanlah kekuatan negara. Selimut, makanan, obat-obatan, memang mampu mengganjal perut mereka. Tapi kezaliman yang mendera mereka setiap saat, tak sanggup dihentikan. Karena yang mereka butuhkan bukan sekadar perut kenyang dan penyembuhan luka, untuk kembali diserang kaum durjana. Sungguh, militer-militer kaum muslimin yang gagah berani yang sangat diharapkan. Prajurit perang yang siap berhadapan dengan lawan menyelamatkan nyawa setiap muslim.

Pertanyaannya, pemimpin mana yang bernyali menghadapi musuh umat dan membela nasib saudara seiman? Pemimpin mana yang dengan tegas dan berani mengirimkan pasukan perangnya untuk menghentikan setiap cucuran air mata dan darah umat? Maka ikatan ukhuwah semestinya mampu membangun kesatuan institusi politik. Sehingga macan yang tengah tertidur pulas itu bangun dan mengaum menggentarkan musuhnya. 

Ukhuwah dalam Bingkai Khilafah

Satu-satunya institusi yang mampu menyatukan umat seluruh dunia menjadi sebuah kekuatan politik hanyalah Khilafah Islam. Ketiadaan Khilafah yang membalut ikatan ukhuwah muslim sedunia, mengakibatkan lenyapnya penjagaan terhadap aqidah, harta dan nyawa kaum muslimin. Bukan lembaga kemanusiaan dan internasional yang dibutuhkan kaum muslimin. Melainkan seorang Kholifah yang kuat, berani dan terdepan. Dilandasi keimanan, kecintaan pada umat dan rasa takut yang menghujam pada Rabbnya. Begitulah sebagaimana yang dititahkan Allah SWT kepadanya.

“Sesungguhnya seorang imam itu (laksana) perisai. Dia akan dijadikan perisai, dimana orang akan berperang di belakangnya, dan digunakan sebagai tameng. Jika dia memerintahkan takwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan adil, maka dengannya, dia akan mendapatkan pahala. Tetapi, jika dia memerintahkan yang lain, maka dia juga akan mendapatkan dosa/adzab karenanya.” (HR Bukhari Muslim).

Sejarah membuktikan bagaimana pembelaan Imam (Kholifah) terhadap umat. Pada masa Rasulullah SAW, ketika seorang muslimah dinodai oleh orang Yahudi Bani Qainuqa’ di Madinah, Beliau SAW melindunginya, menyatakan perang kepada mereka, dan mereka pun diusir dari Madinah. Al-Mu’tashim di era Khilafah ‘Abbasiyyah, memenuhi jeritan wanita Muslimah yang kehormatannya dinodai oleh tentara Romawi. Melumat Amuriah, yang mengakibatkan 9000 tentara Romawi terbunuh, dan 9000 lainnya menjadi tawanan. 

Khalifah Sulaiman bahkan pernah diminta bantuan oleh Raja Perancis. Beliau menjawab dalam suratnya, “Kami telah menerima Surat yang diberikan oleh utusan kamu saat kamu menyatakan musuh kamu telah menyerang negara kamu dan kamu telah ditawan dan meminta pertolongan kami untuk membebaskan kamu dari tawanan. Kami dengan ini menerima permohonan kamu dan bersukacitalah dan jangan bimbang.”

Demikianlah Khilafah menjalankan tugasnya, menyebarkan Rahmat ke seluruh alam. Menegakkan keadilan, menumpas penindasan, memanusiakan manusia tanpa membedakan suku bangsa bahkan agama. Semata-mata karena perintah Tuhan, menjadi Rahmat bagi semesta alam. Oleh karena itu, derita muslim di berbagai belahan dunia, termasuk Rohingya, semoga membuka mata kita untuk kembali menegakkan Khilafah Islam. []

Oleh: Dede Yulianti 
Pegiat Literasi Islam



Posting Komentar

0 Komentar