TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

RI Diambang Resesi, Akankah Islam Jadi Solusi?


Presiden Joko Widodo kembali mengingatkan seluruh masyarakat bahwa Indonesia saat ini tengah mengalami dua krisis. Bukan hanya krisis kesehatan karena virus corona (Covid-19), melainkan juga krisis ekonomi.

"Kita menghadapi masalah kesehatan dan ekonomi yang sangat pelik, seperti juga halnya 215 negara di dunia mengalami hal yang sama," kata Jokowi, Selasa (14/7/2020).

Pandemi Covid-19 telah membuat perekonomian dunia terpukul, bahkan negara tetangga seperti Singapura telah resmi resesi. Sebagai negara yang ikut merasakan dampak Covid-19, Indonesia pun berpotensi mengalami resesi. 

Sebelumnya Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati membenarkan hal tersebut. Beliau mengungkapkan bahwa perekonomian dunia akan mengalami kontraksi yang sangat dalam tahun ini. Dengan sejumlah lembaga memangkas signifikan proyeksi perekonomian dunia dalam waktu singkat akibat pandemi COVID-19.

"Pengangguran ini sudah meningkat tajam di berbagai negara. Semua negara double digit growth penganggurannya," kata Sri Mulyani, menambahkan aktivitas pada sektor ekonomi yang menurun tajam akibat adanya social distancing, sehingga mobilitas manusia berkurang. "Resesi atau perlambatan ekonomi terjadi secara luas, termasuk pada mitra dagang utama Indonesia," tambahnya.

Ia juga tak memungkiri adanya kemungkinan terberat ekonomi Indonesia mengalami resesi akibat wabah tersebut. Menurutnya, jika kondisinya berat dan panjang, maka akan ada kemungkinan resesi di mana dua kuartal berturut-turut PDB hasilnya negatif. Lebih lanjut, Sri Mulyani mengakui jika kuartal II-2020 akan menjadi titik terberat dalam perekonomian Indonesia. Dalam skenario pemerintah, pertumbuhan ekonomi di kuartal kedua tahun ini bisa hampir mendekati nol persen. (cnbcindonesia.com) 

Inilah fakta kesekian kalinya, menggambarkan betapa rapuhnya sistem ekonomi negeri ini, yang dengan mudahnya  terguncang dengan adanya peristiwa apapun. Dan semakin parah karena resesi ekonomi yang terjadi tahun ini dipengaruhi oleh adanya pandemi global. Sungguh memprihatinkan. Akankah negeri ini segera berbenah?

Dampak Krisis Ekonomi Global

Resesi ekonomi yang terjadi di negeri ini sebenarnya bukanlah semata-mata karena adanya pendemi. Namun resesi berulang ini adalah dampak dari ekonomi global dunia yang hingga saat ini masih mengalami krisis yang cukup serius. Krisis global  terlihat secara menyeluruh di berbagai negara, termasuk Indonesia. Amerika Serikat sebagai pusat penerapan ekonomi kapitalis sebenarnya juga sedang menuju kehancuran. 

Dampak krisis juga sangat dirasakan oleh negara-negara produsen minyak dunia seperti Arab Saudi, Venezuela, Iran, dan negara-negara Teluk lainnya. Pengaruh buruk resesi ekonomi ini terlihat jelas pada penurunan harga bahan bakar industri seperti minyak mentah dunia dan batubara; harga bahan baku industri seperti karet, penurunan harga emas, gangguan serius pada pasar modal, penurunan pertumbuhan ekonomi secara terus-menerus, PHK di mana-mana, tingkat pendapatan masyarakat menurun, dan harga kebutuhan pokok yang meningkat.

Krisis ekonomi global yang terus berulang kali terjadi adalah konsekuensi logis akibat penerapan sistem ekonomi kapitalis secara global di seluruh dunia. Sistem ekonomi Kapitalisme dibangun atas dasar kebebasan baik  kebebasan kepemilikan harta, kebebasan pengelolaan harta maupun kebebasan konsumsi. 

Kerusakan sistem ekonomi Kapitalisme juga dapat dilihat dari berbagai pola dan sistem untuk menopang kebebasan kepemilikan harta dan pengelolaannya yaitu: 

(1) Sistem perbankan dengan suku bunga 
(2) Berkembangnya sektor non-riil dalam perekonomian sehingga melahirkan institusi pasar modal dan perseroan terbatas; 
(3) Utang luar negeri yang menjadi tumpuan dalam pembiayaan pembangunan; 
(4) Penggunaan sistem moneter  yang diterapkan diseluruh dunia yang tidak disandarkan pada emas dan perak; 
(5) Privatisasi pengelolaan sumberdaya alam yang merupakan barang milik dan kebutuhan publik.

Penerapan prinsip-prinsip tersebut mengakibatkan kerusakan  dan kesengsaraan bagi umat manusia dalam bentuk kerusakan alam, kemiskinan serta kesenjangan ekonomi yang sangat lebar baik di antara individu di suatu negara maupun kesenjangan ekonomi antarnegara. Karena itulah tanda-tanda kerapuhan Kapitalisme semakin nyata terlihat. Harry Shutt (Runtuhnya Kapitalisme, Jakarta. Teraju. 2005), menyebutkan bahwa Kapitalisme kini sedang mengalami “gejala-gejala utama kegagalan secara sistemik”, yaitu semakin lesunya pertumbuhan ekonomi, semakin lebar kesenjangan dan bertambah terus orang-orang miskin serta semakin sering terjadi  krisis keuangan baik lokal maupun global.

Sistem Ekonomi Islam: Solusi Resesi Global

Kapitalisme memang pernah sukses mengatasi The Great Depression tahun 1930, tahun 1960-an serta krisis-krisis berikutnya  yang terus berulang hampir tiap 10 tahun seperti tahun 1970-an, 1980-an, dan 1998. Namun demikian, itu tidak  menunjukkan bahwa ekonomi kapitalis yang diterapkan oleh Amerika dan negara-negara Barat merupakan sistem yang  tangguh dan teruji. 

Sukses mereka bersifat sementara; tidak lebih dari hasil tambal-sulam dan penjajahan yang merupakan sifat yang melekat dari sistem ekonomi kapitalis. Jika tidak melakukan tambal-sulam dan menjajah kekayaan kaum Muslim di negeri-negeri Islam, sungguh sistem ekonomi ini sudah lama hancur. Karena itu, untuk menghentikan penerapan sistem ekonomi kapitalis hanya bisa dilakukan dengan menerapkan sistem ekonomi Islam pada institusi Khilafah Islam.

Khilafah Islam dengan penerapan  sistem ekonomi Islam akan mampu menghentikan resesi ekonomi global yang sistemik serta memberikan jaminan kesejahteraan bagi umat manusia. 

Di antara prinsip dan paradigma ekonomi yang akan dilakukan Khilafah untuk mewujudkan hal tersebut adalah:
1. Menjalankan Politik Ekonomi Islam. 

Politik Ekonomi Islam bertujuan  untuk memberikan jaminan pemenuhan pokok setiap warga negara (Muslim dan non-Muslim) sekaligus mendorong mereka agar dapat memenuhi kebutuhan sekunder dan tersier sesuai dengan kadar individu yang bersangkutan yang hidup dalam masyarakat tertentu. 

Dengan demikian titik berat sasaran pemecahan permasalahan dalam ekonomi Islam terletak pada permasalahan individu manusia, bukan pada tingkat kolektif (negara dan masyarakat). 

Adapun khilafah akan melaksanakan dan memantau perkembangan pembangunan dan perekonomian dengan menggunakan indikator-indikator yang menyentuh tingkat kesejahteraan masyarakat yang sebenarnya bukan hanya pertumbuhan ekonomi.

2. Khilafah akan mengakhiri dominasi dolar dengan sistem moneter berbasis dinar dan dirham.

Beberapa keunggulan sistem dinar-dirham di antaranya: 1) Dinar-dirham merupakan alat tukar yang adil bagi semua pihak, terukur dan stabil. 2) Tiap mata uang emas yang dipergunakan di dunia ditentukan dengan standar emas. Ini akan memudahkan arus barang, uang dan orang sehingga hilanglah problem kelangkaan mata uang kuat (hard currency) serta dominasinya.

3. Khilafah tidak akan mentolerir berkembang sektor non-riil atau sektor moneter yang menjadikan uang sebagai komoditas.

Sektor ini, selain diharamkan karena mengandung unsur riba dan judi, juga menyebabkan sektor riil tidak bisa berjalan secara optimal. Inilah penyebab utama krisis keuangan global. Karena itulah uang hanya dijadikan semata-mata sebagai alat tukar dalam perekonomian. Karena itu ketika sektor ini ditutup atau dihentikan oleh Khilafah maka semua uang akan bergerak disektor riil sehingga roda ekonomi akan berputar secara optimal.

4. Khilafah akan membenahi sistem pemilikan sesuai dengan syariah Islam.

Sistem ekonomi kapitalis, dengan konsep kebebasan kepemilikan, telah mengakibatkan terjadinya monopoli terhadap barang dan jasa yang seharusnya milik bersama sehingga terjadi kesenjangan yang luar biasa. Sebaliknya, dalam sistem ekonomi Islam dikenal tiga jenis kepemilikan: kepemilkan pribadi; kepemilikan umum dan kepemilikan negara.

Seluruh barang yang dibutuhkan oleh masyarakat banyak dan  masing-masing saling membutuhkan, dalam sistem ekonomi Islam, terkategori sebagai barang milik umum. Benda-benda tersebut tampak dalam tiga hal: (1) yang merupakan fasilitas umum; (2) barang tambang yang tidak terbatas; (3) sumberdaya alam yang sifat pembentukannya menghalangi untuk dimiliki oleh individu. Kepemilikan umum ini dalam sistem ekonomi Islam wajib dikelola oleh negara dan haram diserahkan ke swasta atau privatisasi.

5. Khilafah akan mengelola sumberdaya alam secara adil. 

Dalam sistem Islam, Khilafah akan melaksanakan politik dalam negeri dan politik luar negeri. Politik dalam negeri adalah melaksanakan hukum-hukum Islam termasuk pengelolaan sumberdaya alam, sedangkan politik luar negeri menyebarkan Islam ke seluruh penjuru dunia.

Pelaksanaan politik dalam negeri dan politik luar negeri  mengharuskan Khilafah menjadi negara yang kuat dari sisi militer sehingga mampu mencegah upaya negara-negara imperialis untuk menguasai wilayah Islam dan SDA yang terdapat di dalamnya. Dengan demikian penguasaan dan pengelolaan SDA di tangan negara tidak hanya akan berkontribusi pada kemananan penyediaan komoditas primer untuk keperluan pertahanan dan perekonomian Khilafah, tetapi juga menjadi sumber pemasukan negara yang melimpah pada pos harta milik umum. 

Karena itulah dalam sistem ekonomi Islam yang akan diterapkan oleh Khilafah, setiap warga negara baik Muslim maupun ahludz-dzimmah akan mendapatkan jaminan untuk mendapatkan kebutuhan pokok barang seperti sandang, pangan dan papan; juga kebutuhan pokok dalam bentuk jasa seperti pendidikan, kesehatan dan keamanan secara murah bahkan bisa gratis.

Demikianlah sistem ekonomi Islam melalui penerapan khilafah Islam akan mampu mengatasi resesi ekonomi baik di Indonesia maupun secara global. Tentu saja dengan solusi tuntas bukan solusi tambal sulam semisal sekarang. Maka, mari berbenah menuju Indonesia berkah di bawah naungan Khilafah 'alaa minhaajin nubuwwah. Wallahu a’lam bish shawab.[]

Oleh: Iffah Komalasari, S.Pd 
Pengkaji Sistem Ekonomi Islam

Posting Komentar

0 Komentar