TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Resesi di Depan Mata, Masyarakat Bagaimana?



Pandemi Covid-19 telah membuat perekonomian dunia gempar. Berbagai negara diprediksi akan mengalami resesi, termasuk Indonesia. Negara terdekat yang sudah resmi mengalami resesi adalah Singapura. Suatu negara dikatakan resesi apabila pertumbuhan ekonomi dalam dua kuartal berturut-turut negatif. Pertumbuhan ekonomi Singapura pada kuartal I 2020 minus 0,7 persen dan pada kuartal II minus 41,2 persen (money.kompas.com, 15/07/20). Sedangkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2020 hanya naik 2,9 persen, lebih rendah dari kuartal IV 2019 yaitu 4,97 persen. Pada kuartal II tahun ini pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi turun karena dijalankannya PSBB (cnbcindonesia.com, 18/07/20).

Membekali masyarakat menghadapi resesi ini, beberapa ekonom menyarankan untuk memulai gaya hidup hemat. Ekonom INDEF, Bhima Yudhistira mengatakan masyarakat harus berhemat mulai dari sekarang untuk menyiapkan dana darurat selama resesi. Sebab tidak ada yang mengetahui akan berlangsung sampai kapan jika resesi ini benar terjadi. Hal yang sama juga dikatakan oleh Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Piter Abdullah. Menurutnya, di saat seperti ini masyarakat jangan boros dan harus mempersiapkan kondisi terburuk untuk mencukupi keuangan (finance.detik.com, 19/07/20).

Memang benar harus ada upaya persiapan menghapi resesi ekonomi oleh masyarakat, tetapi yang terbaik adalah akar penyebab resesi harus segera diselesaikan agar tidak kembali berulang. Pasalnya dalam sistem ekonomi kapitalisme resesi adalah suatu hal yang niscaya pasti akan terjadi. Karena sistem ekonominya berbasis kepada uang kertas yang tidak memiliki nilai intrinsik, ditambah lagi riba yang menggurita, dan perekonomian yang difokuskan pada sektor non ril. Buktinya beberapa resesi besar telah terjadi, seperti The Great Depression 1930, resesi 1998, dan The Great Recession 2008. Bahkan masih ditambah dengan resesi-resesi kecil lainnya. 

Yang paling mengenaskan adalah resesi ini pasti memakan korban jiwa, dengan meningkatnya angka kemiskinan dan kelaparan, serta angka pengangguran dan kriminalitas yang semuanya dapat berujung pada kematian. Maka jika resesi ini disebabkan oleh permasalahan yang sistemik, penyelesaiannya pun harus sistemik pula. Yaitu dengan mengganti sistem ekonomi kapitalisme dengan sistem ekonomi Islam. Tetapi sistem ekonomi Islam hanya mampu hidup di dalam sistem pemerintahan Islam, yakni khilafah, yang akan mensupport dengan berbagai sistem Islam lainnya.

Mata uang dalam sistem ekonomi Islam adalah dinar dan dirham yang terbuat dari emas dan perak. Hal ini menjamin kestabilan harga dari masa ke masa dan tahan terhadap inflasi. Keampuhannya melawan inflasi membuat negara-negara adidaya memborong emas yang ada di dunia, dengan Amerika menduduki posisi teratas negara dengan cadangan emas terbesar. 

Hal ini menunjukkan kehiprokitan Barat, di saat yang bersamaan mereka mempropagandakan uang kertas ke seluruh dunia untuk menjajah mereka tetapi mereka malah menimbun emas untuk menjaga dirinya. Sistem ekonomi Islam juga mengharamkan transaksi riba. Dan terbukti riba lah yang menyebabkan gelembung ekonomi resesi dan inflasi yang membuat rapuh sistem ekonomi kapitalisme. Selain itu sistem ekonomi Islam ditopang oleh perekonomian sektor ril sehingga pertumbuhan ekonomi yang dihasilkan sangat kuat dan stabil walaupun tidak secepat pertumbuhan ekonomi kapitalisme yang meroket meski hanya dikuasai segelintir kapitalis.

Inilah beberapa keunggulan sistem ekonomi Islam dalam menghadapi resesi ekonomi. Sudah saatnya umat Islam sadar akan potensi yang dibawa oleh agamanya sendiri yang tidak hanya mengatur perkara ibadah tetapi juga perkara dunia. Karena akidah Islam adalah akidah ruhiyah sekaligus akidah siyasiyah yang melahirkan peraturan bagi seluruh permasalahan manusia.[]

Oleh: Finadefisa 
Komunitas Annisaa Ganesha

Sumber berita:
https://money.kompas.com/read/2020/07/15/133718026/singapura-resesi-ini-kinerja-perdagangannya-dengan-indonesia?page=all
https://www.cnbcindonesia.com/market/20200718072930-17-173700/jika-sebuah-negara-alami-resesi-ini-dampak-mengerikannya

Posting Komentar

0 Komentar