TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Redominisasi Memperkuat Kenyataan Inflasi




Rencana penyederhanaan nilai rupiah atau redenominasi kembali digulirkan oleh Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Langkah redenominasi tersebut merupakan satu dari 19 regulasi dalam Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Keuangan tahun 2020-2024.

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) akan memotong jumlah nol dalam rupiah atau redenominasi. Penyederhanaaan rupiah ini tersebut akan tertuang melalui Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan Harga Rupiah (RUU Redenominasi).

Langkah redenominasi tersebut merupakan satu dari 19 regulasi dalam Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Keuangan tahun 2020-2024. Renstra ini tercantum dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 77 tahun 2020.

Kebijakan redominisasi akan memangkas 3 digit nilai rupiah dari belakang. Misalnya, dari Rp 1.000 menjadi Rp 1, atau dari Rp 1.000.000 menjadi Rp 1.000. (lipitan6.com, 19/7/2020)

Sistem Ekonomi Kapitalis Berpotensi Inflasi

Kebijakan redominisasi sering diambil saat terjadi inflasi. Ketika nilai mata uang semakin mengecil saat  digunakan untuk menukarkan barang dan jasa. Artinya dengan nilai nominal uang yang besar hanya bisa mendapatkan sedikit barang.

Tidak bisa dipungkiri bahwa sistem kapitalis sangat berpotensi menimbulkan inflasi. Ini adalah cacat bawaan yang sulit dihindarkan. Bahkan inflasi terjadi secara berkala.

Hal ini terjadi karena sistem kapitalis  menafikkan emas sebagai alat tukar. Sehingga nilai tukar mata uang di dunia tidak pernah stabil. Padahal pada masa-masa awal abad ke enam hingga abad 20an semua mata uang di dunia dicetak dengan back up emas. Artinya emas menjadi satu-satunya devisa negara. Pada waktu itu emas menjadi alat tukar. Hal ini juga sesuai dengan  Sistem Bretton Woods (1944-1976).

Sistem Bretton Woods adalah sebuah sistem perekonomian dunia yang dihasilkan dari konferensi yang diselenggarakan di Bretton Woods, New Hampshire padal tahun 1944. Konferensi ini merupakan produk kerjasama antara Amerika Serikat dan Inggris yang memiliki beberapa fitur kunci yang melahirkan tiga institusi keuangan dunia yaitu Dana Moneter Internasional, Bank Dunia, dan Organisasi Perdagangan Dunia.

Namun, secara sepihak, Amerika membatalkan Bretton Woods System melalui Dekret Presiden Nixon pada tanggal 15 Agustus 1971, yang isinya antara lain, USD tidak lagi dijamin dengan emas. Hal ini dilakukan untuk mencegah dollar USA yang diback up emas tersebut semakin terkuras keluar Amerika. Akibat permintaan negara-negara Eropa yang besar terhadap dollar.

Hingga saat ini dollar tetap menjadi mata uang internasional untuk cadangan devisa negara-negara di dunia. Akibat jebakan hutang dari tiga lembaga keuangan USA kepada negara-negara Eropa pasca perang dunia kedua. Pada titik ini, berlakulah sistem baru yang disebut dengan floating exchange rate. (https://id.m.wikipedia.org/wiki/Sistem_Bretton_Woods)

Sehingga kita melihat USA hingga hari ini memiliki pengaruh yang kuat di dunia. Dengan sistem kapitalismenya USA menancapkan dominasinya ke seluruh wilayah menggantikan Daulah Khilafah Utsmaniyah. Karena pada waktu itu Inggris melalui anteknya bernama Mustafa Kemal Attaturk telah menghapuskan Daulah pada 1924.

Maka, sejak emas tidak lagi menjadi jaminan penerbitan atas mata uang. Sejak saat itulah nilai mata uang hanya ditetapkan berdasarkan nilai ekstrinsiknya. Sebuah nilai yang ditentukan berdasarkan nominal yang tertulis dengan jaminan undang-undang. Bukan berdasarkan nilai intrinsiknya.

Hal ini juga mempengaruhi nilai mata uang rupiah. Kerena negara kita menstandarkan mata uang dengan dollar. Maka potensi inflasi sangat besar. 

Inflasi yang terjadi semakin parah dengan adanya wabah. Kebijakan penanganan yang salah kaprah membuat perekonomian Indonesia melemah. Menurunnya kegiatan produksi menyebabkan lemahnya penawaran. Banyak nya kasus PHK dan penutupan perusahaan atau industri mengakibatkan penurunan penghasilan rakyat. Sehingga daya beli masyarakat mengalami penurunan. Maka yang terjadi adalah tidak stabilnya penawaran dan permintaan.

Berbagai kebijakan seperti utang luar negri, bansos dan lain sebagainya tidak membuat ekonomi Indonesia pulih. Bahkan dengan kebijakan redominisasi rupiah hal ini semakin meyakinkan inflasi sedang terjadi. Sejatinya redominisasi bukanlah solusi tapi kedok untuk menutupi inflasi.

Sistem Ekonomi Islam

Islam adalah agama yang sempurna. Islam memberikan negara Khilafah wewenang menerapkan sistem ekonomi berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah.

Prinsip ekonomi dalam Daulah Khilafah adalah pemenuhan kebutuhan pokok dan kamaliyah (sekunder/tersier) secara ma'ruf. Hal tersebut berlaku bagi setiap kepala dari warga negara.

Khalifah akan memenuhi segala kebutuhan pokok setiap warga negara baik muslim maupun nonmuslim. Dengan cara langsung semisal pendistribusian zakat fitrah dan mal kepada mustahik. Negara juga bisa membagikan tanah atau harta Kepemilikan negara kepada rakyat yang membutuhkannya. 

Kebijakan negara secara tidak langsung semisal membuka lapangan kerja baru, mewajibkan para wali memberi nafkah dengan cara bekerja yang halal dan sebagainya. Sehingga tidak ada pengangguran.

Khalifah akan memastikan sumber daya alam menjadi kepemilikan umum.  Siapapun boleh memanfaatkannya. Negara akan melarang asing dan swasta menguasainya. Kalaupun ada regulasi negara semata untuk menjaga ketertiban. Negara bertindak sebagai pengelola saja. Hasilnya dikembalikan untuk kepentingan umum rakyat. Semisal untuk pembiayaan pendidikan, kesehatan, keamanan dan lain-lain.

Sehingga dengan kebijakan tersebut kegaitan produksi dan kemampuan daya beli masyarakat akan cenderung stabil. Apalagi di saat wabah, saat kegiatan produksi dan distribusi terganggu. Maka praktis kedua kegiatan tersebut diambil alih negara. Negara akan mensuplai secara langsung kebutuhan warga negara. Sehingga rakyat tidak mengalami kelaparan saat sedang ada wabah. Kebutuhan rakyat masih tetap terpenuhi tanpa harus khawatir terpapar ppandemi.

Selain itu, negara akan mencetak mata uang dengan standar emas dan perak. Dua logam mulia ini menjadi cadangan devisa negara. Setiap mata uang Daulah Khilafah akan mudah ditukarkan dengan dua logam tersebut. Penggunaan standar emas dan perak  adalah perintah Allah SWT. Banyak hukum-hukum seputar zakat dan kafarat dalam Al-Qur'an dan Sunnah yang disandarkan pada emas dan perak.

Selain itu emas dan perak merupakan alat tukar paling stabil yang pernah dikenal oleh dunia. Sejak awal sejarah Islam sampai saat ini, nilai dari mata uang Islam yang didasari oleh mata uang bimetal ini secara mengejutkan sangat stabil jika dihubungkan dengan bahan makanan pokok, dahulu harga seekor ayam pada tahun 680’an adalah satu Dirham emas, dan saat ini, 1.400 tahun kemudian, harga seekor ayam tetaplah satu Dirham emas. 

Selama 1.400 tahun nilai inflasinya adalah nol. Hal ini sulit ditemukan fenomena yang sama terhadap Dollar atau mata uang lainnya. Bisa dikatakan bahwa penggunaan emas dan perak memberikan keuntungan karena bebas inflasi. Mungkin hanya biaya produksi lah yang dapat pengarui harga barang terhadap mata uang emas dan perak. (Kompasiana.com, 22 September 2015)

Berdasarkan hal tersebut, maka kegiatan permintaan dan penawaran menjadi stabil. Peluang terjadinya inflasi sangat kecil. Karena faktor kepercayaan masyarakat yang tinggi terhadap alat tukar Daulah Khilafah.

Sudah selayaknya umat kembali kepada penerapan syariah dalam naungan Khilafah. Kesejahteraan merata. Masyarakat merasa tenang bekerja. Distribusi kekayaan merata. Tanpa khawatir inflasi melanda. Wallahu a'lam bi ash-showab. []


Oleh: Najah Ummu Salamah
Forum Peduli Generasi dan Peradaban

Posting Komentar

0 Komentar