TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Redenominasi Rupiah dan Problem Mata Uang Kertas


Baru-baru ini pemerintah menghidupkan kembali wacana redenominasi rupiah yakni menghilangkan angka 0 (nol), sebanyak tiga buah. Wacana ini sejatinya sudah mulai digulirkan semenjak tahun 2010, ketika Bank Indonesia melakukan studi banding tentang redenominasi mata uang ke beberapa negara.

Menurut Kemenkeu setidaknya ada dua alasan mengapa penyederhanaan nilai mata uang rupiah harus dilakukan. 

Pertama, untuk menimbulkan efisiensi berua percepatan waktu transaksi, berkurangnya risiko human error dan efisiensi pencantuman harga barang/jasa karena sederhananya jumlah digit rupiah. 

Kedua, untuk menyederhanakan system transaksi, akuntansi dan pelaporan APBN karena tidak banyaknya atau berkurangnya jumlah digit rupiah. 

Sangat jelas bahwa redenominasi merupakan langkah teknik. Redenominasi bukanlah suatu langkah strategis yang akan memperbaiki kondisi perekonomian.

Redenominasi rupiah sejatinya pernah diterapkan dibeberapa Negara. Ada yang sukses seperti Turki, Rumania, Polandia, dan Ukraina. Namun ada juga yang gagal seperti Rusia, Argentina, Zimbabwe, dan Korea Utara. Faktor utama keberhasilan atau kegagalan redenomiasi dibeberapa Negara tersebut adalah terkait ketepatan timing redenominasi yang dilakukan ketika ekonomi sedang stabil. Ketika ekonomi tidak stabil, redenominasi bisa berujung depresi. Sehingga langkah redenominasi ditengah ekonomi yang terpukul akibat covid-19, sangat tidak tepat.

Sebab, pemotongan angka nol secara langsung akan berdampak pada inflasi dan memperparah kondisi ekonomi.  Misalnya, barang yang biasanya dijual Rp 4.500, tidak akan dijual dengan harga Rp 4,5 namun akan dijual dengan harga Rp 5. Teknik pemasaran yang selama ini menerapkan harga psikologis semisal Rp 999.999 juga tidak ada. Harga tersebut akan dijual Rp 1000. 

Bisa dibayangkan jika hal itu terjadi secara agregat, dampaknya akan terjadi inflasi besar-besaran dan daya beli masyarakat akan terpukul. Artinya pemerintah sedang berjudi dengan redenominasi; untung belum tentu diraih, ancaman sudah ada didepan mata.

Kalaupun redenominasi sukses, hanya sukses menghilangkan angka 0 (nol), bukan sukses meningkatkan kinerja ekonomi. Redenominasi tidak berhubungan dengan peningkatan kapasitas produksi ekonomi atau distribusi hasil-hasil ekonomi secara merata. Apalagi meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang merupakan perkara yang sangat diperlukan. Melainkan hanya sebatas pengurangan angka nol yang tertera dilembaran mata uang. 

Problem Mata Uang Kertas

Problem utama mata uang kertas sejatinya bukan pada angka-angka yang tertera pada uang tersebut. Namun terletak pada uang yang tidak mengandung nilai intrinsik. 

Uang yang ada tidak memiliki nilai seharga emas, namun bisa ditukar dengan emas. Jika saat ini harga emas 1 gram adalah Rp 900.000 maka cukup mencetak uang Rp 100.000 sebanyak 9 (Sembilan) lembar, emas 1 gram bisa diperoleh. Sedangkan biaya untuk mencetak sejumlah uang kertas Rp 100.000 jauh lebih murah. 

Misalnya, jika untuk mencetak satu lembar uang Rp 100.000 dibutuhkan biaya sebesar Rp 5.00, maka keuntungannya adalah sebesar Rp 99.500, hanya dengan menuliskan Rp100.000 diatas lembaran kertas tersebut. 

Bisa dibayangkan keuntungan yang diperoleh dari mencetak begitu banyak lembaran uang kertas. Oleh karena itu, percetakan uang menjadi sumber pendapatan yang paling mudah dan menjelma menjadi bisnis yang sangat menggiurkan di dunia.

AS misalnya, jika nilai instrinsik yang dikeluarkan untuk mencetak satu lembar dolar (U$D) sekitar 25 sen. Sedangkan nilai nominal mata uang mencapai $ 100. Besarnya keuntungan sudah bisa dibayangkan. 

Amerika telah mencetak uang dengan nominal  US $ 100 dalam jumlah yang banyak dan disebar ke seluruh penjuru dunia. Negara tersebut menyedot begitu banyak komoditas barang dan jasa dari seluruh dunia dengan hanya bermodalkan selembar kertas mirip kwarto dan tinta warna serta sebuah mesin cetak.

Pola yang sama terjadi diseluruh dunia. Yakni, semenjak perjanjian Bretton Woods yang sejatinya digagas untuk mem-backing mata uang Negara-negara dunia dengan emas diakhir secara sepihak oleh AS pada 15 Agustus 1971. Saat ini, tidak ada satu negarapun didunia yang menyandarkan nilai mata uangnya dengan emas. Dunia hidup dibawah rezim pencetak uang (fiat money).

Di bawah rezim fiat money, uang disebut sebagai “uang” hanya ditopang oleh undang-undang yang dibuat pemerintahan suatu negara. Jika keadaan politik dan ekonomi negara tersebut tidak stabil maka tingkat kepercayaan terhadap mata uangnya juga akan menurun.

Para pemilik uang akan beramai-ramai beralih ke komoditas yang dianggap bernilai sehingga nilai uang tersebut terpuruk. Itulah yang terjadi selama pendemik saat ini, ketika pasar modal mengalami goncangan maka orang berpindah ke emas sehingga harga emas naik. 

Selain itu, semenjak era fiat money masalah keuangan selalu menghantui. Beberapa persoalan yang muncul akibat penerapan fiat money antara lain:

1. Inflasi

Ekonom peraih Nobel, Mundell (1997), mengatakan bahwa terus membanjirnya uang kertas tanpa didukung oleh likuiditas akan memicu terjadinya resesi ekonomi. Kegiatan mencetak uang akan menyebabkan inflasi dan berujung pada resesi ekonomi.

Inflasi/resesi sangat merugikan kegiatan ekonomi masyarakat terutama kelas bawah, menekan daya beli, meningkatkan pengangguran dan penyakit social ditengah masyarakat. Sehingga, resesi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari rezim pencetak uang (fiat money). Resesi selalu terjadi secara berulang dalam skala waktu tertentu.

Salah satu sejarah kelam resesi di Indonesia adalah kejadian pada tahun 1965. Saat itu inflasi mencapai 635,3%. Pemerintah melalui bank Indonesia melakukan pemotongan nilai uang (sanering) dari Rp. 1.000,- menjadi Rp.1,-. Bisa dibayangkan kekayaan orang saat itu terpangkas 1.000 kali lipat. Kejadian inflasi yang mengganas pernah dirasakan oleh perekonomian hampir diseluruh dunia.

2. Ketidakadilan ekonomi

Ketidakdilan ekonomi mudah terlihat dengan realitas nilai kurs. Misalnya nilai kurs saat ini Rp 14.463 per USD. Bagaimana mungkin kertas dengan ukuran yang sama hanya karena perbedaan gambar dan warna memiliki nilai yang berbeda? Satu kertas bergambar Washington (1 USD) harus ditukar dengan rupiah sebanyak 14.463. Nalar waras tidak akan bisa menerima realitas ini.

Dengan harga USD yang tinggi di luar AS, maka AS bisa mencetak USD sebanyak-banyaknya untuk membeli apapun diseluruh dunia. Barang dan jasa yang diproduksi oleh negara lain terus mengalir ke AS.

Sehingga Negara tersebut sebagai salah satu Negara peng-impor terbesar di dunia. Impor yang cukup dibayarkan dengan mencetak uang, tanpa komoditas yang dipertukarkan. Sekalipun mencetak uang dalam jumlah yang massive, AS tidak terlalu khawatir dengan inflasi. Selama mata uangnya kuat maka inflasi bisa diekspor keseluruh dunia.

Solusi, Tinggalkan Sistem Fiat Money!

Serangkaian krisis keuangan yang selalu terjadi secara berkala menjadi bukti bahwa rezim fiat money sangat rapuh dan harus segera ditinggalkan. Nafsu dunia untuk mencetak uang sudah menyebabkan malapetaka perekonomian. 

Jika ini berlangsung terus, tidak menutup kemungkinan akan tiba masanya nasib uang kertas seperti uang monopoli. Tertera harganya tapi tidak ada nilainya.

Oleh karena itu, jika redenominasi merupakan langkah teknis yang spekulatif. Maka Indonesia dan dunia membutuhkan langkah moneter yang lebih strategis. Meninggalkan langkah spekulatif menuju sistem moneter yang lebih adil dan stabil. 

Sistem uang emas sangat layak diperhitungkan sebagai sistem moneter dunia yang adil dan stabil. Sejarah dunia sudah membuktikan emas bertahan selama ribuan tahun sebagai alat transaksi sebelum dilibas oleh arogansi AS yang menggantinya dengan USD. Emas terbukti memiliki imunitas yang kuat terhadap inflasi.

Sebagai contoh, di zaman Nabi Muhammad (1400 tahun yang lalu) harga 1 ekor kambing adalah 1 dinar (4,25 gram emas). Dalam hitungan rupiah, 1 dinar adalah 4,25 gram x Rp 900.000 (harga LM saat ini) = Rp 3.825.000. Dengan rupiah sebesar Rp 3.825.000 saat ini masih dapat ditukar dengan seekor kambing.

Artinya, harga kambing saat ini sama dengan harga kambing ribuan tahun lalu jika diukur dengan standar emas.  Menjadi berbeda jika menggunakan standar rupiah. Kambing yang saat ini dibeli dengan harga Rp 3.825.000, jika dibeli pada tahun 2000-an misalnya (sekitar 20 tahun yang lalu) bisa dibeli dengan harga Rp 500.000 saja. 

Oleh karena itu, dengan standar emas harga komoditas selalu stabil selama ribuan tahun! Tanpa perlu menarok nominal tertentu dikepingan emas, harganya senantiasa tetap. Tidak perlu melakukan redenominasi harga emas, karena harganya senantiasa stabil terhadap semua komoditas. 

Harga 1 kg serbuk emas _equal_ dengan harga 1 kg emas batangan dg kadar yg sama dalam bentuk apapun dimanapun. Berbeda dengan 1 lembar kertas Rp 100 (jika masih ada) tidak sama dengan satu lembar kertas $ 100. Sedangkan 1 juta uang kertas jika sudah menjadi serbuk, maka tidak ada lagi harganya. Dengan standar mata uang emas, tidak perlu melakukan sanering seperti Presiden Soekarno karena inflasi emas mendekati 0 (nol).[].

Oleh: Dr. Erwin Permana
(Dosen Ilmu Ekonomi)

Posting Komentar

0 Komentar