TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Redenominasi Rupiah, Bisakah Jadi Solusi?



Menteri Keuangan Sri Mulyani memutuskan Rancangan Undang-undang Redenominasi untuk masuk ke dalam rencana strategis Kementerian Keuangan Tahun 2020-2024. Redenominasi ini kemudian tertuang di dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 77/PMK.01/2020.
Kemenkeu mencatat setidaknya ada dua alasan mengapa penyederhanaan nilai mata uang rupiah harus dilakukan. Pertama, untuk menimbulkan efisiensi berupa percepatan waktu transaksi, berkurangnya risiko human error, dan efisiensi pencantuman harga barang/jasa karena sederhananya jumlah digit rupiah.

Kedua, untuk menyederhanakan sistem transaksi, akuntansi dan pelaporan APBN karena tidak banyaknya atau berkurangnya jumlah digit rupiah.(cnbcindonesia.com, 9/7/2020)

Dikutip dari KBBI, redenominasi artinya penyederhanaan nilai mata uang rupiah tanpa mengubah nilai tukarnya.

Sebenarnya rencana redenominasi rupiah ini adalah rencana lama dan mencuat lagi dipermukaan, berharap akan menjadi solusi ditengah pandemi yang menjatuhkan Indonesia dan semua negara di dunia dalam situasi resesi ekonomi.

Redenominasi rupiah adalah menyebut nominal yang baru. Jadi kalau kita membawa uang  Rp. 1.000 setelah dilakukan redenominasi (kalau misalnya diputuskan tiga angka digit yang disederhanakan), maka dikenallah satu  Rp 1.000 itu menjadi  Rp 1 tanpa memotong atau memangkas nilainya.

Apa yang menjadi alasan antara lain, karena dipandang tidak praktis dalam pencatatan dan sebagainya sehingga harus di susun ulang nominalnya adalah kurang tepat.

Justru yang menjadi pertanyaan adalah kenapa ada banyak sekali angka 0 di dalam satuan mata uang rupiah? Jika kita analisis, maka persoalannya tidak sesederhana solusi yang ditawarkan tadi. Karena banyaknya angka 0 dalam satuan mata uang rupiah itu seiring dengan nilai mata uang rupiah yang terus turun dari waktu ke waktu. 

Sebagai contoh, menjelang idul Adha ini, berapakah harga satu ekor kambing di tahun 2020? Yaitu antara Rp 2.200.000 hingga 2.900.000. Bandingkan dengan tahun 1990, berapakah harga satu ekor kambing? cukup Rp.500.000 kita sudah bisa mendapatkan 1 ekor kambing. Artinya untuk mendapatkan barang yang sama persis, maka dalam satuan mata uang rupiah  setelah berjalan beberapa puluh tahun dibutuhkan jumlah uang yang jauh lebih besar.

Penyebab Turunnya Nilai Mata Uang Rupiah

Banyak hal yang menjadi penyebab turunnya nilai mata uang rupiah diantaranya;

Pertama, karena legalnya sistem ekonomi riba. Indonesia sebagai negara dengan jumlah Muslim terbesar, besar pula kemaksiatannya karena mau menerapkan sistem riba dalam berekonomi. Padahal  riba ini adalah aktifitas yang diharamkan oleh Allah Swt namun justru menjadi aktivitas yang legal, diperbolehkan oleh negara bahkan menjadi tumpuan dalam perekonomian negara dan ketika itu dilegalkan maka transaksi bisa menggelembung(adanya bunga dan denda) dan otomatis dibutuhkan jumlah mata uang yang banyak

Kedua, apa yang menjadi penyebab tidak stabil atau turun nilai rupiah, karena dia terbuat dari kertas sehingga kapan pun negara bisa mencetak uang dan hal tersebut menyebabkan nilainya akan mengalami penurunan.

Ketiga, adanya serangan dari mata uang negara lain terutama karena hutang Indonesia sedang jatuh tempo, sering diserang oleh mata uang dolar. 

Sebagai contoh; selama tahun 2010, nilai tukar rupiah rata-rata bertengger di angka Rp 9.081 per dolar Amerika Serikat. Di tahun 2020, nilai tukar rupiah rata-rata bertengger di angka Rp. 14.608 per dolar Amerika Serikat. Artinya ada peningkatan nilai dolar, tentu saja hal ini berimbas kepada hutang dan bunga luar negeri Indonesia dimana saat jatuh tempo wajib membayarnya sesuai nilai dolar di tahun 2020.

Hal ini tentu tidak bisa diselesaikan hanya dengan redenominasi rupiah (dengan memangkas berapa digit angka di belakangnya) tetapi yang harus dicari solusinya adalah mencari sistem mata uang yang stabil.

Sistem Ekonomi Islam 

Sistem ekonomi Islam dengan sistem moneter berbasis dinar(emas) dan dirham(perak) merupakan alat tukar yang adil bagi semua pihak, terukur dan stabil.

Dalam perjalanan sejarah dinar dirham sudah terbukti sebagai mata uang yang nilainya stabil karena didukung oleh nilai intrinsiknya.

Tiap mata uang emas yang dipergunakan di dunia ditentukan dengan standar emas. Ini akan memudahkan arus barang, uang dan orang sehingga hilanglah problem kelangkaan mata uang kuat(hard currency) serta dominasinya.

Selama ini mata uang dolar sering dijadikan alat oleh Amerika Serikat untuk mempermainkan ekonomi dan moneter suatu negara. Bahkan Amerika sebagai pencetak dolar bisa dengan mudahnya membeli barang-barang dari negara-negara berkembang dengan mata uang dolar yang mereka miliki.

Dalam satuan yang diatur dalam Islam, 1 dinar  setara dengan 4,25 gram emas dan 1 dirham itu setara dengan 2, 975 gram perak. Dengan satuan mata uang dinar dan dirham yang pernah diterapkan dalam peradaban Islam dalam negara Khilafah Islam yang di bangun oleh Rasulullah Saw. dilanjutkan dengan para khalifah setelah beliau, berjalan selama 1.300 tahun lebih, maka sistem mata uangnya selalu stabil, anti inflamasi dan anti krisis.

Kita lihat berapakah nilai harga satu ekor kambing di masa peradaban Islam, kita akan temukan harganya sebesar 1 dinar( 4,25 gram emas X Rp 700.000 = Rp 2.975.000) dan kalau kita hitung hari ini pun, berapakah harga jual 1 ekor kambing di tahun 2020? Harganya sama dengan harga kambing super, bobot 30 kg yaitu sekitar Rp. 2.900.000.

Artinya jika yang digunakan oleh manusia adalah sistem mata uang yang diatur oleh Islam, maka tidak diperlukan langkah semacam redenominasi ini. Karena mata uangnya terbukti efisien bahkan setelah berjalan selama ratusan tahun. 

Maka sekali lagi kita lihat betapa manusia membutuhkan aturan Allah Swt. dalam mengatur seluruh aktivitasnya termasuk dalam sistem mata uang yang mereka gunakan dalam bertransaksi.

Dan untuk bisa mengimplementasikan sistem mata uang emas dan perak, maka tentu saja deposit emas yang diciptakan Allah di permukaan bumi ini harus dalam pengelolaan negara yang amanah yang akan mengatur pengelolaannya berdasarkan prinsip syariah. Islam menetapkan bahwa deposit emas merupakan barang tambang yang ditetapkan Allah Swt. menjadi milik umat manusia(milik umum) bukan milik korporasi ataupun negara.

Maka, saatnyalah kita kembali kepada aturan syariat Islam untuk mengatur seluruh gerak kehidupan kita.[]

Oleh Nabila Zidane
Forum Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban

Posting Komentar

0 Komentar