TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Radikalisme Bentuk Perang Melawan Islam



Para pendengki Islam, baik negara-negara Barat maupun para antek-anteknya di negeri-negeri Muslim, senantiasa melakukan pernusuhan terhadap Islam dan kaum Muslim. Setelah jargon terorisme tidak laku, kini jargon baru digunakan untuk menyerang Islam. 

Sama seperti jargon sebelumnya, definisinya dibuat multitafsir sehingga memungkinkan untuk menggebuk siapa saja, baik yang masuk dalam definisi tersebut maupun yang dianggap mengancam negara ala rezim yang berkuasa saar ini.

Setiap keompok Islam yang kritis dan bersebrangan dengan sepak terjang penguasa senantiasa dicap kelompok radikal. Ironisnya, stigma negatif kelompok radikal itu disematkan hanya pada kelompok Islam saja dan tidak berlaku bagi kelompok di luar Islam.

Sebenarnya, terminologi radikal yang membentuk istilah radikalisme, awalnya berasal dari bahasa latin radix, radices, yang artinya akar (roots). Istilah radikal dalam konteks perubahan kemudian digunakan untuk menggambarkan perubahan yang mendasar dan menyeluruh. Berpikir secara radikal artinya berfikir hingga ke akar-akarnya. Hal ini yang kemudian besar kemungkinan akan menimbulkan sikap-sikap anti kemapanan (Taher, 2004 : 21).

Menurut The Concise Oxfort Dictonary (1987), radikal berarti akar atau asal mula. Dalam kamus Oxford ini disebutkan istilah radical, kalau dikaitkan dengan perubahan atau tindakan, berarti relating to or affecting the fundamental nature of something, far - reachine or through (berhubungan atau yang mempengaruhi sifat dasar dari sesuatu yang jauh jangkauannya dan menyeluruh).

Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 1990), radikal diartikan sebagai "secara menyeluruh", "habis-habisan", "amat keras menuntut perubahan", dan "maju dalam berpikir dan bertindak". Dalam pengertian yang lebih luas, radikal mengacu pada hal-hal mendasar, pokok dan esensial.

Dalam konotasi yang luas, kata radikal mendapatkan makna teknis dalam berbagai ranah ilmu politik, ilmu sosial. Bahkan dalam ilmu kimia dikenal dengan istilah radikal bebas. Adapun istilah radikalisme, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi kedua, cet. Th. 1995. Balai pustaka, didefinisikan sebagai paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaruan sosial dan politik dengan cara kekerasan atu drastis.

Dengan demikian, dari sisi bahasa, istilah radikal sebenarnya istilah yang netral, bisa positif dan negatif. Namun, kini istilah radikalisme dimaknai lebih sempit sehingga memunculkan macam-macam seperti "radikalisme agama", "Islam radikal", dan lain-lain. Semuanya cenderung berkonotasi negatif pada Islam. Ini tentu sangat disayangkan. Pasalnya, kini istilah radikal menjadi kata-kata politik (political words) yang cenderung multitafsir, bias dan sering digunakan sebagai alat penyesatan atau stigma negatif lawan politik.

Istilah radikal menjadi alat propaganda yang digunakan untuk kelompok atau negara yang bersebrangan dengan ideologi dan kepentingan Barat. Penggunaan istilah "Islam Radikal" sering dikaitkan dengan terorisme, penggunaan kekerasan untuk mencapai tujuan, skriptualis (hanya merujuk pada teks) dalam menafsirkan agama, menolak pluralitas (keberagaman) dan julukan-julukan yang dimaksudkan untuk memberikan kesan buruk.

Istilah tersebut juga digunakan secara sistematis untuk menyebut pihak-pihak yang menentang sistem ideologi Barat (Kapitalisme, Sekularisme, dan Demokrasi), ingin memperjuangkan Syariah Islam, Khilafah Islam, menginginkan eliminasi Negara Yahudi dan melakukan jihad melawan Barat. Pantas saja, jika ada kesimpulan di masyarakat bahwa istilah radikalisme sengaja dibuat oleh Barat untuk menghancurkan umat Islam.

Isu radikalisme yang kembali di trendingkan pada opini publik sejatinya adalah dalam rangka mengalihkan persoalan dari kegagalan kapitalisme-liberalisme di negeri ini. Korupsi menjerat para pejabat dan politisi semakin masif. Penguasaan Sumber Daya Alam (SDA) oleh asing dan aseng semakin tak terbendung. Kenaikan BBM dan tarif dasar listrik serta kebijakan pengutan pajak yang semakin mencekik rakyat terus terjadi.

Proyek radikalisme yang sesungguhnya bentuk permusuhan terhadap Islam, akan menuai kegagalan atas izin Allah swt. Sebab, proyek ini justru akan mempertebal keyakinan ummat Islam atas kebenaran agamanya, dan semakin memperbesar ketidakpercayaan umat terhadap para penguasa sekular yang anti Islam. Jika ini terjadi, insyaAllah, pertolongan Allah swt. Akan diturunkan kepada Kaum Muslim dalam waktu yang tidak akan lama lagi. Wallahu a’lam bisshawab.[]

Oleh : Rantika Nur Asyifa
Aktivis Dakwah, Pemerhati Remaja 



Posting Komentar

0 Komentar