TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Pro LGBT? Tak Cukup hanya Boikot



Dukungan Unilever terhadap gerakan lesbian, gay, biseksual, transgender, dan queer (LGBTQ+) telah menuai kecaman di dunia maya. Tak sedikit seruan untuk memboikot produk Unilever.

Seruan boikot juga disampaikan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI). Ketua Komisi Ekonomi MUI, Azrul Tanjung, menegaskan akan mengajak masyarakat untuk beralih pada produk lain.

Sebelumnya, Unilever perusahaan yang berbasis di Amsterdam, Belanda, pada 19 Juni lalu resmi menyatakan diri berkomitmen mendukung gerakan LGBTQ+. Hal tersebut disampaikan melalui akun Instagram. Unilever juga membuka kesempatan bisnis bagi LGBTQ+ sebagai bagian dari koalisi global. (republika.co.id, 29/6/2020)

Menjadi LGBT akan membuat bencana dan malapetaka bagi manusia itu sendiri. Karena kalau seandainya seluruh manusia di atas bumi ini melakukan atau menjadi LGBT maka sudah bisa dipastikan 100 tahun yang akan datang kehidupan manusia akan punah di dunia ini.

Membuat aksi boikot memang akan merugikan produsen, tapi tidak ada jaminan bahwa dukungan terhadap kebobrokan (LGBT) akan dihentikan.

Kondisi ini disebabkan relatifnya nilai kebenaran dalam sistem sekular-liberal. Tak ada standar baku untuk menilai benar-salah, baik-buruk, terpuji-tercela. Individu bebas membuat standar sendiri, apakah LGBT itu baik ataukah buruk.

Menurut HAM, LGBT tidak bisa diperlakukan berbeda, hanya karena orientasi seksnya.  Sehingga pemerintah daerah tidak berhak mencampuri urusan privasi mereka. 

Hak Asasi Manusia (HAM) selalu menjadi dalih bagi para LGBT untuk memperoleh justifikasi atas perilakunya. HAM digunakan sebagai benteng untuk melindungi aktivitas menyimpang ini. Karena HAM menjamin kebebasan individu dalam bertingkah laku.

Dalam pandangan HAM, setiap orang bebas bertingkah laku apa saja selama tidak mengganggu kebebasan orang lain. Mau heteroseksual boleh, homoseksual juga boleh. Mau menikah dengan lawan jenis boleh, sesama jenis juga boleh. Bahkan memamerkan aktivitas homoseksual di ruang publik juga boleh.

Dalam masyarakat sekular-liberal yang mengagungkan HAM seperti saat ini, tidak ada penyelesaian bagi LGBT. Meski korban LGBT telah berjatuhan, namun perilaku homoseksual tidak akan dipersalahkan. Yang disalahkan hanya pelakunya.

Faktanya di era dominannya kapitalisme, MNC perusahaan Multinasional yang mendukung LGBT berpijak pada liberalisme yg diagungkan dan bahkan memberi lahan subur bagi bisnis mereka. Dalam sistem kapitalisme yang standarnya materialisme, perilaku LGBT justru didukung penuh, karena menguntungkan.

Perlawanan terhadap LGBT harus dilakukan dengan upaya sistematis menghapus faham, sistem dan individu- institusi atau lembaga liberal. Diganti dengan dominannya ideologi Islam yg melahirkan individu-institusi atau Lembaga taat dan menebar rahmat.

Khilafah Satu-satunya Solusi

Islam adalah satu-satunya sistem yang mampu menyelesaikan persoalan LGBT. Khilafah membentuk akidah Islam yang kokoh di tengah masyarakat melalui pendidikan formal dan dakwah Islam. Islam mengatur bagaimana sistem pergaulan yang benar menurut syariat  diantaranya:

Pertama, menutup aurot bagi laki laki dan perempuan,

kedua, memudahkan urusan untuk menikah, tidak mempersulit. Pasalnya menikah adalah sarana penyaluran naluri seksual yang sah. Menikah juga akan menjaga kehormatan masing-masing pasangan,

Ketiga, melarang perempuan untuk berdandan berlebihan yang merangsang naluri seksual laki-laki, 

Keempat, mencegah laki-laki dan perempuan melakukan aktivitas yang merusak akhlak. Perempuan tidak diperbolehkan bekerja yang mengeksploitasi Sisi kewanitaannya seperti sebagai SPG dan lain-lain,

Kelima, memerintahkan mahram untuk menemani perjalanan perempuan yang lebih dari sehari semalam dalam rangka menjaga kehormatannya,

Keenam, memerintahkan laki-laki dan perempuan untuk menjaga interaksi dalam kehidupan sehari-hari. Tidak bercampur baur kecuali dalam hal yang ada kebutuhan dan diperbolehkan oleh syari'at, 

Ketujuh memerintahkan untuk memisahkan tempat tidur anak-anak ketika menginjak usia 10 tahun. 

Dengan itu terbentuk pandangan khas masyarakat Islam terhadap interaksi laki-laki dan perempuan dalam rangka melestarikan manusia dan bukan pandangan seksualitas semata seperti pandangan barat sekular.

Ditambah lagi adanya larangan telanjang, mandi bersama, tidur satu selimut, menceritakan jimak’ suami-istri dll. meski pada sesama lelaki maupun perempuan. Juga larangan berperilaku dan berpakaian yang tidak sesuai jenis kelaminnya.

Ibnu Abbas berkata, “Rasulullah melaknat lelaki yang kewanita-wanitaan (banci) dan perempuan yang kelaki-lakian.” (HR Tirmidzi)

Selain itu, Islam memiliki standard benar-salah yang baku dan sahih. Kesahihan Islam telah dijamin wahyu. Syariat Islam memposisikan aktivitas liwath alias homoseksual sebagai perbuatan buruk dan tercela.

Allah Swt. berfirman yang artinya: “Dan (Kami juga telah mengutus) Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya, Mengapa kamu melakukan perbuatan keji, yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun sebelum kamu (di dunia ini).” (QS Al-A’raf 7: Ayat 80)

Aktivitas liwath diposisikan sebagai keharaman dan pelakunya berdosa sehingga kelak akan diazab Allah SWT dengan siksa nan pedih di neraka.

Hukuman bagi pelaku liwath adalah hukuman mati. Hal ini sekaligus sebagai pencegah orang lain meniru perilakunya.

Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa yang kalian dapati melakukan perbuatan kaum Nabi Luth, maka bunuhlah pelaku dan pasangannya.” (HR Tirmidzi dan yang lainnya, disahihkan Syekh Al-Albani)

Keberadaan kaum LGBT itu memang bersifat merusak. Bagaimana mungkin perubahan dunia menuju kebaikan dan kebenaran yang diridhoi Allah SWT itu terwujud, jika identitas para generasi sebagai pengemban perubahan ternyata adalah sosok-sosok yang dilaknat Allah Swt. Sebagaimana Allah telah firmankan dalam Al-Quran tentang kehancuran kaum Nabi Luth as sebagai salah satu adzab Allah paling dahsyat. Na’udzubillaahi min dzaalik.[]

Oleh Nabila Zidane
Forum Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban

Posting Komentar

0 Komentar