Pro Kaum Sodom, Pemikiran Nyeleneh Jangan Anggap Receh


Perusahaan raksasa multinasional yang bergerak di bidang pelengkap peralatan rumah tangga, beberapa waktu lalu mengeluarkan logo baru sebagai dukungan terbukanya pada kaum Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender dan queer (LGBT+).

Hal tersebut mengakibatkan banyak terjadi pro dan kontra. Utamanya di media sosial terlontar protes dan ajakan boikot netizen terhadap perubahan logo warna-warni dan pengumuman perusahaan raksasa itu dalam mendukung kelompok LGBT+. Namun ada pula yang mendukung upaya perusahaan tersebut. Bahkan bersikap sarkasme terhadap penolakan yang di lontarkan. “Perusahaan mereka besar dan nggak bangkrut walaupun kalian nggak beli produk mereka,” kata salah satu netizen tersebut.

Narasi untuk memboikot atau mendukung perusahaan yang mendukung LGBT+ memang bukan hingar bingar perdana, bahkan sudah sering terjadi. Kondisi saat ini yang terjadi di sebagian negara terutama di luar negeri bahwa keberadaan LGBT+ mulai diterima dan diakui sebagai warga negara dan hak-haknya pun kian dipenuhi. Sejumlah negara seperti Amerika, Inggris, dan negara-negara Eropa bahkan membolehkan pelaksanaan parade rutin setidaknya setahun sekali di jalanan untuk merayakan yang menurut mereka pergerakan kesetaraan yang semakin maju. 

Penerimaan yang meningkat tersebut sejalan dengan hak ekonomi mereka yang membaik. Keberpihakan sejumlah perusahaan-perusahaan raksasa yang tentu saja jadi raja di puncak kapitalisme bahkan mulai memperhatikan hak-hak pekerja LGBT+ dan membangun lingkungan inklusif. Hal ini merupakan salah satu agenda dari tujuan gerakan kaum pembela LGBT+ yang "diikhtiarkan" kebanyakan aktivisnya.

Sedangkan bagi kelompok yang menolak keberadaan LGBT+ dianggap sebagai kelompok sok religius yang dangkal pemikirannya. Bahkan ada kelompok pendukung LGBT yang memiliki pemikiran bahwa tak ada yang salah untuk menjadi seorang LGBT+ dan religius pada saat yang bersamaan.

Bahkan di Indonesia yang penduduknya  Mayoritas Islam, sebagai Negara berbudaya dan menjunjung tinggi nilai moral, kelompok LGBT+ ini sudah "berani" bahkan bisa dikatakan "amat bebal" terhadap protes dan penolakan, bahkan upaya mereka dikategorikan sebagian besar terorganisir rapi. 

Aktivis mereka bekerja keras tidak cuma dengan cara main "nempel" ke perusahaan yang mendukung, namun juga berupaya mendulang influencer dalam rangka memiliki pengikut dan pendukung tak surut langkah, baik secara terselubung atau terang-terangan, Itu sebabnya perdebatan nasional tentang LGBT+ tak beranjak dari pandangan-pandangan biner dengan bingkai kesetaraan.

Islam telah menetapkan bagi laki-laki dan perempuan peran dan tanggungjawab. Masing-masing menjalankan perannya dengan sempurna dalam rangka menggapai keridhoan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Allah berfirman yang artinya:
"dan tidaklah laki-laki seperti perempuan"
(QS.Ali Imran ayat 36)

Dari Firman Allah tersebut maka jelas sudah, bahwa hak setiap laki-laki maupun perempuan sesuai standar manusia adalah merupakan anugerah Allah Azza wa Jalla. Sehingga setiap insan tidak perlu lagi bersusah payah untuk menuntut atau menunjukkan keberadaan eksistensi dirinya menyangkut gender.

Demikian pula perasaan kasihan atau pembelaan terhadap kaum LGBT+ tak jarang kita dengar di sekitar kita atau dari seorang publik figur yang kita ketahui sebagai muslim dengan alasan hak azasi manusia. Begitulah, banyak hal yang di anggap receh sehingga mendorong umat berbuat hal yang tidak di ridhoi Allah.

Maka sangat menyedihkan bagi kaum muslim yang termakan ide yang menipu ini walaupun hanya dengan sekedar ungkapan kasihan. Sebagai muslim kita seharusnya membangun argumen yang kuat dan terstruktur agar umat dapat melihat dengan jelas mana ide yang lurus yang merupakan al-haq dan mana ide yang jelas bengkok.

Dalam QS Az-Zariyat Ayat 56 yang artinya 
"Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku".

Bahwa posisi manusia di dunia sebagai hamba Allah berkewajiban melaksanakan semua hal yang berkenaan dengan ketundukan kita kepada Allah. Maksud dari ketundukan adalah melaksanakan semua perintah dan menjauhi larangan Allah. Positioning ibadah dalam kaca mata Islam tidaklah sempit atau berkisar dalam pelaksanaan ibadah ritual saja. Segala bentuk manifestasi terhadap taqwa sebagai bentuk ketundukan kepada Allah adalah merupakan ibadah.

Sehingga kita tidak boleh memilih dan memilah ibadah mana yang akan dilakukan. Seyogianya, kita harus pandai mengambil dan membuka semua pintu yang berisi peluang untuk ibadah, tidak semata mata hanya untuk kesholihan diri sendiri. Tapi harus berada di garda terdepan untuk mengajak umat bersama sama melaksanakan ketetapan yang sudah jelas dalam Al-Qur'an dan Hadits sebagai bagian dari ketundukan kita yang merupakan bagian dari ibadah.

Maka jelaslah tak ada peluang yang membuat kita menundukkan kepala terhadap ide yang jelas tidak sesuai dengan Al-Qur'an.

"Mereka berkehendak memadamkan cahaya(agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, sementara Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukainya. Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur'an) dan agama yang benar untuk Dia menangkan atas segala agama walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai. (QS. at-Taubah ayat 32-33)
Wallahu 'alam bishawab.[]

Oleh: Ummu Azwa

Posting Komentar

0 Komentar