Positif Covid-19 Terus Meningkat, Pemerintah Butuh Evaluasi Kebijakan



Positif Covid-19 Terus Meningkat, Pemerintah Butuh Evaluasi Kebijakan
Corona Virus Disease 19 (Covid-19) masih menjadi bahasan khusus di Indonesia. Pasalnya virus yang pertama kali di Wuhan Cina ini masih menjadi musuh warga Indonesia. Sejak awal ditetapkannya Covid-19 sebagai bencana Nasional-non alam, hingga saat ini, 9 juli 2020  tercatat sebanyak 70.736 positif, 32.651 sembuh dan 3.417 meninggal. Dilansir dari CNN Indonesia, kasus positif covid-19 per 9 juli 2020 menjadi tambahan kasus harian tertinggi sejak ditetapkannya pertama kali pada 2 Maret lalu, dengan jumlah tambahan sebesar 2.657 kasus. 

Indonesia sudah  4 bulan menghadapi pandemi global ini, berbagai kebijakan telah dikelurkan mulai dari PSBB hingga kebijakan New Normal pun telah dikeluarkan oleh presiden Jokowi. Tetapi seperti yang kita tahu dan berdasarkan data di awal menunjukkan kasus di Indonesia terus meningkat bahkan angka peningkatannya sangat tinggi yakni, dengan rata – rata peningkatan diatas 1000 kasus perhari. 

Fakta – fakta yang ada memberitahukan bahwasannya Indonesia masih dalam keadaan darurat covid-19. Pandemi Covid-19 belum bisa dikendalikan di Negara ini. Kasus pun semakin melonjak setelah ditetapkannya kebijakan “new normal”. New Normal sendiri adalah kehidupan normal baru dengan  tetap memperhatikan protokol – protokol kesehatan sesuai yang ditetapkan gugus tugas penanganan Covid-19. Adanya kebijakan ini bertujuan memperbaiki serta menjalankan kembali perekonomian yang lumpuh akibat pandemi Covid-19. 

Namun fakta yang ada menunjukkan adanya kebijakan new normal justru menyebabkan kasus Covid-19 semakin bertambah. Hal ini jelas saja terjadi, karena masyarakat sudah mulai melakukan aktivitas diluar rumah seperti biasa, mal serta sarana public lainya pun sudah dibuka, sehingga kemungkinan penyebaran virus pun semakin tinggi. Kurangnya kedisiplinan masyarakat pun menjadi sebab kenaikan kasus ini. Banyak masyarakat yang masih mementingkan dirnya sendiri dan abai dengan protokol – protokol kesehatan yang ada. 

Kedisiplinan masyarakat memang sebab utama dari melonjaknya kasus, tetapi di lain sisi pemerintah juga turut andil terkait melonjaknya kasus Covid-19, karena pemerintah merupakan penentu kebijakan, regulator sekaligus pengontrol masyarakat. 

Seolah tidak terima jika new normal dijadikan alasan melonjaknya kasus, bulan juni lalu, Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto  menjelaskan, kenaikan penambahan kasus baru terjadi karena tracing atau pelacakan semakin agresif dilakukan. 

Adanya  pelacakan yang semakin agresif tentu tidak dapat dijadikan dalih terkait melonjaknya kasus, karena pelacakan memang seharusnya dilakukan oleh Negara dalam rangka mengontrol melayani serta memastikan kondisi rakyatnya. 

“Pemimpin adalah pengurus rakyat dan dia bertanggung jawab atas rakyat yang dia urus” (HR al-Bukhari) pemimpin adalah penentu sekaligus pelaksana  dari setiap kebijakan. Karenanya pemimpin harus mempertimbangkannya masak – masak setiap kebijakan yang akan diambil, Allah berfirman dalam surah Al-Qiyamah 36 yang artinya “Apakah manusia mengira bahwa dia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)” ayat ini mengandung makna bahwasannya apa pun memiliki konsekuensi didalamnya dan ada pertanggunjawaban atasnya. 

Maka dari itu, hendaknya seorang pemimpin senantiasa melakukan refleksi atas apa yang telah diputuskannya, terlebih jika kebijakannya tidak membuahkan hasil, seperti yang terjadi dengan kasus Covid-19 ini, yang semakin hari semakin meningkat. Bukan hanya marah didepan para pembantunya, seorang pemimpin pun  harus memperhatikan kembali setiap kebijakan yang telah dibuat, menghilangkannya dari unsur – unsur kepentingan pribadi dan mengutamakan kesejahteraan rakyatnya.

Seperti yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad, dan para khulafaur Rasyidin, dimana semasa beliau menjadi pemimpin beliau selalu mengedepankan kemaslahatan umatnya, senantiasa mengedepankan empati dan tidak gegabah dalam mengambil keputusan. Rasulullah senantiasa mempertimbangkan keputusannya, apakah mengandung manfaat atau mudharat, karena Rasulullah tidak mau rakyatnya celaka, dan Rasul senantiasa mendoakan kebaikan bagi umatnya. 

Allah SWT berfirman yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18).[]

Oleh Sastika Melda

Posting Komentar

0 Komentar