TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Pilkada yang Dikadali: Wajah Asli Demokrasi


Beberapa waktu yang lalu masyarakat Gunungkidul kidul dibuat heboh dengan adanya serangan ubur - ubur, bahkan sampai saat inipun masih hangat bagi masyarakat sekitar. Sebab serangan tersebut melukai ratusan wisatawan di awal New Normal yang diputuskan pemerintah setelah masa pandemi virus Corona.

Belum reda serangan hewan ubur - ubur disepanjang pantai. masyarakat Gunungkidul kidul dihebohkan dengan serangan misterius berupa banyaknya pencatutan nama dan nomor induk Kartu Tanda Penduduk sebagai pendukung salah satu Paslon bupati daerah tersebut. 

Dimana pencatutan nama - nama tersebut hampir merata di wilayah kabupaten Gunungkidul. Padahal setelah dikroscek, tidak satupun diantara mereka yang mendukungnya.Tak Merasa Dukung Paslon Independen, PNS Hingga Pamong Masuk Daftar. Baca selengkapnya di : https://gunungkidul.sorot.co/berita-101735-tak-merasa-dukung-paslon-independen-pns-hingga-pamong-masuk-daftar.html

Kejadian ini tentu melukai rakyat, Pasalnya telah merampas hak - haknya sebagai warga negara.  Tentu saja hal ini termasuk tindak kejahatan berupa kebohongan masal dan pencatutan nama. Di mana diatur dalam KUHP  pasal 378, tentang penipuan

"Barang siapa dengan maksud hendak menguntungkan diri sendiri atau orang lain dengan melawan hukum, baik dengan memakai nama palsu atau keadaan palsu. Baik dengan akal dan tipu muslihat, maupun dengan karangan perkataan ; perkataan bohong. Membujuk orang supaya memberikan suatu barang,membuat hutang atau menghapuskan piutang, dihukum karena penipuan, dengan hukuman selama - lamanya  empat tahun penjara".

Kasus penjualan KTP ke salah satu calon bupati independent  membuat resah masyarakat. kekhawatiran pun menghantui jikalau identitasnya digunakan untuk tindak kejahatan lain. Sebagaimana yang sedang dialami oleh warga kelurahan ngunut playen Gunungkidul. Bahwa pada hari Selasa tanggal 07 Juli 2020 terjadi aksi protes penjualan KTP di depan kelurahan setempat.

Usut punya usut, akhirnya pelaku penjualan KTP pun diketahui dan ternyata adalah salah satu pamong desa setempat. Menurut informasi dari sumber yang dapat dipertanggung jawabkan ( salah satu warga yang tidak mau disebut)  bahwa hal ini dilakukan sendirian.

Tentunya, kejadian ini menambah catatan buruk sistem demokrasi yang dipuja oleh oleh para elit politik praktis negeri ini. Di mana dalam sejarahnya, politik uang dalam sistem demokrasi menjadi  suksesor seorang calon pejabat atau politikus. Yang mana semua dapat dibeli dengan uang. Maka yang muncul adalah kebohongan publik, kecurangan, dan ketidakadilan.

Model sistem demokrasi seperti ini tidak akan menghasilkan seorang pemimpin yang amanah, yang dapat mengurusi rakyat dengan baik. yang ada 
Hanyalah membuat kerusakan dan menyengsarakan rakyatnya. Sebab demokrasi adalah alat penjajahan sistem demi suksesornya para kapitalis dalam rangka merampok sumberdaya alam negeri lain, khususnya muslim.

Maka menjadi hal yang wajar, apabila dalam proses menuju pesta demokrasi. Banyak calon pejabat dan pemangku kekuasaan mengkadali pesta tersebut demi keberhasilan dalam meraih kekuasaan.

Berbeda dengan sistem Islam, sistem yang Allah SWT turunkan untuk mengatur alam dunia demi keselamatan di akhirat kelak. Dalam sistem Islam tidak ada yang berani mengkadalinya, sebab semua tingkah laku dan perbuatan senantiasa terikat dengan syariat Islam dalam rangka mengabdi kepada Allah SWT.

Ketika sistem Islam ditegakkan, tidak ada lagi yang bisa mengkadali proses mencari pemimpin. Semua serba di atur syari'at, jika menyalahi akan berdampak kepada dosa yang mengantarkan ke siksa neraka. Selain itu, seorang calon pemimpin adalah orang yang paham hukum Allah, menguasai bahasa Arab, fiqh Islam, dan tentunya didasari ketakwaan kepada Allah SWT. Yang merasa takut akan pertanggung jawaban dihadapan Allah SWT. 

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُّوا الْاَ مٰنٰتِ اِلٰۤى اَهْلِهَا ۙ وَاِ ذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّا سِ اَنْ تَحْكُمُوْا بِا لْعَدْلِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهٖ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَا نَ سَمِيْعًۢا بَصِيْرًا
innalloha ya`murukum ang tu`addul-amaanaati ilaaa ahlihaa wa izaa hakamtum bainan-naasi ang tahkumuu bil-'adl, innalloha ni'immaa ya'izhukum bih, innalloha kaana samii'am bashiiroo

"Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil. Sungguh, Allah sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Melihat."
(QS. An-Nisa' 4: Ayat 

Rosulullah Saw dalam sabdanya mengingatkan pertanggung jawaban seorang pemimpin.

" Setiap kalian adalah pemimpin, dan Setiap kalian akan ditanya tentang kepemimpinannya. Pemimpin negara yang berkuasa atas manusia adalah pemimpin, dan ia akan ditanya tentang kepemimpinannya. Seorang laki/ suami adalah pemimpin bagi keluarganya dan ia akan ditanya atas kepemimpinannya. Wanita / istri adalah pemimpin terhadap keluarga suaminya dan anak suaminya dan ia akan di tanya tentang mereka. Budak seseorang adalah pemimpin terhadap harta tuannya dan ia akan ditanya tentang harta tersebut. Ketahuilah Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang kepemimpinannya." ( HR.  Bukhari dan Muslim)

Maka sangat wajar, ketika sistem Islam ditegakkan akan membawa Rahmat bagi seluruh manusia. Sebab sistem yang datang dari sang Kholiq untuk menerapkan aturan NYA secara kaffah. Selain itu seorang pemimpin senantiasa terikat pula dengan aturan dari sang Kholiq, tentu saja dalam rangka mengabdi kepada Allah SWT. 

Oleh karena itu, sangat telat manakala sistem Islam sebagai solusi problematika umat manusia yang dapat diterima oleh akal dan menentramkan jiwa. Wallahua'lam bishowwab.[]

Oleh M. Azzam Al Fatih
Penulis dan Aktivis Dakwah

Posting Komentar

0 Komentar