TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Pernikahan Vokasi-Industri, Pembajakan Potensi Generasi


Pendidikan vokasi telah menjelma menjadi pemandangan baru di dunia pendidikan. Orientasinya tidak lain yaitu untuk menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang siap memenuhi kebutuhan pasar kerja dan mampu menghadapi era Industri 4.0.Tujuan itu nampak nyata dari pernyataan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim. Pemerintah melalui Kemendikbud bakal menggelontorkan Rp3,5 triliun untuk mengawinkan pendidikan vokasi dengan industri (Muslimah News.Id, 11 Juli 2020)
 
Dilansir dari laman resmi Kemdikbud RI, Direktoriat Jendral Pendidikan Vokasi (Ditjen Diksi) mendorong terwujudnya “Paket Pernikahan”, yaitu kolaborasi antara dunia pendidikan dengan dunia Industri (Link and match).Begitulah prinsip sekarang yang digagas pemerintah Hal ini yang ditancapkan dibenak para penuntut ilmu dalam pengaruh kapitalisme. 

Keterampilan dan kompetensi kerja menjadi poin utama seberapa besar serapan tenaga kerja di dunia industri. Dengan mengadopsi kebijakan Knowledge Based Economy, pendidikan diarahkan hanya untuk memenuhi pasar kerja. Ilmu tak lagi bertujuan mencerdaskan anak bangsa. Menuntut ilmu hanya terdorong lantaran lulus langsung kerja.

Dalam hal ini World Bank merumuskan konsep empat pilar yang dibutuhkan oleh sebuah negara untuk menumbuhkembangkan ekonomi berbasis pengetahuan. 

Pertama, memiliki kebijakan dan regulasi untuk menstimulasi dan melindungi pertumbuhan ekonomi/industri dalam negeri. 

Kedua, Memiliki sistem pendidikan dan pelatihan nasional yang unggul untuk menghasilkan manusia yang memiliki kompetensi untuk bekerja/menciptakan nilai tambah ekonomi dalam negeri. 

Ketiga, memiliki strategi dan sistem inovasi nasional berbasis riset dan pengembangan (R&D). Keempat, memiliki teknologi informasi dan komputer (TIK) yang mampu memfasilitasi proses penyimpanan, penyebaran dan pemanfaatan pengetahuan/ informasi kepada seluruh masyarakat di wilayah negaranya.

Konsep The Triple Helix Model, juga mengubah wajah pendidikan. Dalam konsep University-Business-Government, industri berperan sebagai rumah produksi, pemerintah sebagai regulator dan fasilitator, dan Universitas sebagai katalisator. Penggabungan ketiga sektor ini makin mengukuhkan transformasi pendidikan berbasis kapitalisasi pengetahuan, yang melahirkan SDM dalam inovasi, daya saing, dan skill siap kerja. Diharapkan setiap lulusan memiliki bekal dalam menghadapi dunia kerja. 

Paradigma diatas menegaskan komersialisasi Pendidikan Tinggi dan Riset, yang memandulkan fungsi negara sebagai raa’in pada pendidikan untuk rakyat. Bahaya yang timbul dari konsep “The Triple Helix Model” diantaranya sebagai berikut :

Pertama, biaya pendidikan akan semakin mahal sementara askesnya terbatas. 

Kedua, bahaya kurikulum sekuler dan pro industri berpeluan menjadi bisnis pembajakan potensi intelektual generasi (buruh digaji murah dan kapitalisasi ilmu yang pro kepada pasar bisnis bukan kemaslahatan). 

Ketiga, Mencetak intelektual sekuler (ilmu untuk melegalisasi kapitalisasi SDAE dan mencegah kebangkitan Islam)

Pandangan Islam

Dalam Islam, pendidikan tidak sekadar berorientasi mengejar lulusan siap kerja. Namun, orientasi lulusannya haruslah memiliki kepribadian Islam yang tinggi sekaligus menguasai kompetensi yang dibutuhkan dalam berbagai aspek kehidupan. 

Hal ini dibuktikan dengan lahirnya ilmuwan-ilmuwan muslim yang tak hanya pandai ilmu saintek namun juga cakap dalam ilmu agama. Pendidikan Islam juga mendorong para lulusan bermental pemimpin peradaban. Islam memadukan orientasi dunia dan akhirat menjadi satu kesatuan. Selain berhasil membentuk generasi mulia yang beradab, Islam juga sukses mencetak SDM unggul di segala bidang, baik politik, ekonomi, sosial, dan saintek.

Demikianlah,saat sistem pendidikan Islam diterapkan dalam bingkai khilafah. Khilafah bertanggung jawab penuh untuk menyelenggarakan pendidikan bagi semua warga negara, tanpa membedakan apa pun latar belakang warganya. Negara hadir sebagai pelaksana sistem pendidikan. Ini semata karena Islam telah memandatkan kepada negara berupa tanggung jawab pengurusan seluruh urusan umat, termasuk di dalamnya adalah sistem pendidikan. Sebagaimana dalam sabda Rasulullah Saw ;

“Imam/Khalifah adalah pengurus dan ia bertanggung jawab terhadap rakyat diurusnya.” (HR Muslim dan Ahmad).

Dengan peran selaku penanggung jawab ini, Khilafah akan bersungguh-sungguh untuk memberikan sarana prasarana, kurikulum yang sahih berasaskan akidah Islam, serta peta jalan pelaksanaan sistem pendidikan. Khilafah juga memastikan agar setiap warga negara dapat mengakses kebutuhan pendidikan untuk semua jenjang usia. Untuk mewujudkannya, maka pendidikan haruslah berbiaya murah bahkan gratis.

Hanya dengan penegakan khilafahlah, pendidikan sebagai salah satu kebutuhan pokok warga negara akan bisa dipenuhi. Generasi yang dihasilkannya adalah generasi yang mampu tampil sebagai pemimpin umat, yang tidak hanya mumpuni dalam menyelesaikan problematika, namun juga memiliki kepedulian untuk memberikan yang terbaik bagi kemaslahatan umat. Generasi yang akan menghantarkan peradaban Islam sebagai mercusuar yang akan menerangi kegelapan dunia dengan cahayanya. Wallahu’alam bisshowab.[]

Oleh: Diana Wahyuningsih
Aktivis Mahasiswa

Posting Komentar

0 Komentar