TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Perempuan dalam Kubangan Kapitalis



Sistem kapitalis telah menciptakan kesenjangan ekonomi yang melahirkan kemiskinan struktural dan korban yang paling banyak adalah perempuan, termasuk perempuan-perempuan Indonesia.

Karena kemiskinan mereka pergi meninggalkan anak dan suami menjadi tulang punggung keluarga. Kehidupan mereka sebagai tenaga kerja wanita di negeri orang, tak jarang dibayangi mimpi buruk pelecehan seksual dan penyiksaan.

Kemiskinan perempuan hari ini, menjadi salah satu isu yang terus digaungkan para aktivis perempuan. Dilansir dari situs kemenkeu.go.id, 24 April 2019, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan pemberdayaan perempuan penting bagi perekonomian sebuah negara. Kesetaraan gender tidak hanya penting dari sisi moralitas, keadilan, tetapi juga sangat penting dan relevan dari sisi ekonomi.

Hal ini disampaikannya dalam acara Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Kementerian Pembangunan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kementerian PPPA) 2019 dengan tema “Kesetaraan Gender dalam Memperkuat Perekonomian sebuah Bangsa” di ICE BSD Tangerang pada Rabu, (24/04/2019).

Adanya ketidaksetaraan akses pendidikan, layanan kesehatan hingga akses keuangan dianggap para aktivis perempuan sebagai permasalahan perempuan dan kesetaraan genderlah  solusi dari permasalahan perempuan. 

Mereka menuntut perempuan diberi hak yang sama dengan laki-laki di sektor publik. Jadilah banyak perempuan yang terjun dalam pemberdayaan ekonomi perempuan. Kondisi ini menyebabkan kaum perempuan bekerja membantu ekonomi keluarga. Namun alih-alih bisa mensejahterakan ekonomi dan membahagiakan keluarga, justru yang terjadi adalah eksploitasi perempuan. 

Di sisi lain, ketika kaum perempuan bekerja secara masif di luar rumah, beban ganda menjadi dilema yang tak bisa terelakkan. Stres bisa datang sewaktu-waktu dan seringkali menyebabkan konflik dalam keluarga.

Fakta yang tak bisa dibantah, munculnya kemandirian ekonomi perempuan membuat mereka mudah menuntut perceraian. Kondisi ini diperparah dengan hilangnya fungsi ibu sebagai pendidik generasi. 

Dunia kerja yang ketat, membuat para ibu menghilangkan perasaan bersalah meninggalkan kewajiban pengasuhan dan pendidikan anak melalui tempat penitipan anak.

Kecenderungan meningkatnya tingkat kenakalan remaja seperti narkoba, miras, pergaulan bebas, tawuran, disinyalir akibat perceraian. Hasilnya ketahanan keluarga roboh dan generasi hancur. 

Sudah selayaknya program pemberdayaan ekonomi perempuan menjadi kecaman dan kritik pedas atas upaya yang tidak akan pernah menetaskan kemiskinan namun justru banyak menuai kerusakan.

Perempuan dalam Pandangan Islam

Dalam Islam fungsi asal kaum perempuan adalah Ummu warobatul bait sebagai ibu pengatur rumah tangga. Kedudukan wanita dalam islam begitu mulia dan terjaga, karena fungsinya ini, perempuan tidak terbebani sebagai tulang punggung ekonomi keluarga. 

Karena tanggung jawab menafkahi keluarga adalah tugas seorang suami, ayah, atau saudara laki-lakinya. Jika keadaan perempuan tidak memiliki wali, maka segala kebutuhannya akan menjadi tanggung jawab negara.

Seorang perempuan tidak perlu lagi keluar rumah banting tulang mencari nafkah yang tak jarang mendapat perlakuan tak layak di tempat kerja. Semua perlakuan buruk yang sering dialami para wanita tak akan ada lagi jika aturan Islam ini diterapkan.

Islam juga menjamin perempuan mendapatkan perlakuan terbaik dari laki-laki agar terhindar dari segala bentuk kekerasan seperti pelecehan hingga pelanggaran kehormatan, karena perkara-perkara tersebut dilarang dalam Islam.

Seorang suami harus memperlakukan istrinya dengan baik Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda 

     عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُول اللَّه صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ : أَكْمَل الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهمْ خُلُقًا، وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ … رواه الترمذي وغيره

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya dan sebaik-sebaik kamu adalah orang yang paling baik kepada istrinya” (HR. At-Tirmidzi, 3/466;  Ahmad, 2/250 dan Ibnu Hibban, 9/483. Hadits dinyatakan shahih oleh Imam at-Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Syaikh al-Albani).

Allah Swt. telah menjadikan laki-laki dan perempuan masing-masing berperan sesuai dengan predikat sebagai manusia maupun karakter sebagai laki-laki dan wanita, yang menentukan ketinggian derajatnya adalah amal sholeh dan ketaqwaannya bukan status gendernya.

Allah Swt berfirman 

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ 

Artinya: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
(Q.S Al-Hujurat: 13)

Islam bahkan memberikan kesempatan agar kaum hawa bisa berperan di masyarakat selama masih dalam koridor syariat. perempuan bisa berpolitik untuk melakukan kewajiban Amar ma'ruf nahi mungkar dan memaksimalkan kemampuannya untuk ikut berperan dan bermanfaat di masyarakat. 

Karena perannya sebagai pengurus dan pengatur rumah tangga bukan berarti perempuan menjadi sosok yang bodoh dan terbelakang.

Fungsi ibu sebagai Al Ummu madrasatul ula atau sekolah pertama yang membentuk karakter anak sejak dalam kandungan, menuntut seorang muslimah memahami tsaqofah Islam.

Begitulah Islam menjaga dan melindungi perempuan. Hanya dengan penerapan syariat Islam secara kaffah dalam bingkai Khilafah Islamiyah, yang mampu mengembalikan martabat dan kemuliaan para perempuan.[]


Oleh Nabila Zidane
Forum Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban

Posting Komentar

0 Komentar