TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Peran Orang Tua dalam Pendidikan Saat Pandemi



Pandemi Covid 19 memberikan banyak hikmah bagi kaum muslimin.  Terutama dari sisi pendidikan anak. Ketika pembelajaran dilakukan dengan cara jarak jauh, alias peserta didik di rumah dan guru di tempatnya masing-masing melahirkan banyak perenungan bagi kita semua yang mungkin tidak akan banyak terpikirkan  tanpa pandemic covid 19 ini. 

Banyak pihak mendesak agar para pelajar kembali ke sekolah, hal ini didasari keprustasian orang tua untuk memberikan pengajaran pada anak- anak. Berbagai keprustasian ini selain datang dari permasalahan keluarga dan pribadi orangtua, ada juga permasalahan yang terjadi akibat carut marut sistem pendidikan yang sudah banyak masalah tanpa pandemik, apalagi ditambah dengan pandemic Covid 19 ini. 

Sejatinya Pendidikan adalah Tanggung Jawab Orang Tua.

Allah ta’ala berfirman dalam sebuah ayat yang telah kita ketahui bersama,
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (At Tahrim: 6). Seorang tabi’in, Qatadah, ketika menafsirkan ayat ini mengatakan,

“Yakni, hendaklah engkau memerintahkan mereka untuk berbuat taat kepada Allah dan melarang mereka dari berbuat durhaka kepada-Nya. Dan hendaklah engkau menerapkan perintah Allah kepada mereka dan perintahkan dan bantulah mereka untuk menjalankannya. Apabila engkau melihat mereka berbuat maksiat kepada Allah, maka peringatkan dan cegahlah mereka.” (Tafsir al-Quran al-’Azhim 4/502).

Demikian pula, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memikulkan tanggung jawab pendidikan anak ini secara utuh kepada kedua orang tua. Dari Ibnu radhiallahu ‘anhu, bahwa dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggunjawabannya dan demikian juga seorang pria adalah seorang pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari: 2278).

Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma berkata,
أدب ابنك فإنك مسؤول عنه ما ذا أدبته وما ذا علمته وهو مسؤول عن برك وطواعيته لك
“Didiklah anakmu, karena sesungguhnya engkau akan dimintai pertanggungjawaban mengenai pendidikan dan pengajaran yang telah engkau berikan kepadanya. Dan dia juga akan ditanya mengenai kebaikan dirimu kepadanya serta ketaatannya kepada dirimu.”(Tuhfah al Maudud hal. 123).

Tanggung jawab disini maknanya kesadaran untuk menjamin pengadaan seluruh proses belajar bagi anak. Konsekuensi dari jaminan yang harus dilaksanakan orangtua ini, sebagai kata lain tanggung jawab. Sehingga di kemudian hari orangtualah yang menanggung segala sesuatunya.  Jika terjadi apa-apa orangtua yang  dituntut, dipersalahkan, diperkarakan dan dibebankan atas apa yang terjadi pada anak. Pertanggungjawaban ini yang paling hakiki adalah di hadapan Allah. 

Adapun secara teknis apakah anak tersebut belajar bersama orangtua atau dibantu pihak lain, itu sangan subjektif. Kita tidak bisa menyamaratakan teknis pembelajaran harus bersama orangtua atau harus dibantu lembaga pendidikan. Butuh kajian mendalam dalam potensi keluarga masing masing untuk menentukan prioritas aktivitas orangtua tersebut apakah harus mengajari anaknya langsung atau dibantu lembaga pendidikan. Yang jelas, Prioritas (aulawiyat) ini tidak didasarkan pada hawa nafsu masing masing orangtua, melainkan harus berdasarkan hukum syara.

Aktivitas wajib akan menang melawan  yang sunnah dan mubah. Lalu perkara haram harus ditinggalkan, sedangkan yang makruh sebisa mungkin ditinggalkan. Idealnya berbagai aktivitas tidak bertabrakan, namun ketika berbenturan, kita harus memilih hal yang paling tinggi derajat kuat hukumnya. 

Misal sesungguhnya seorang ibu yang punya ilmu mumpuni juga  berkecukupan nafkah dari suami, lalu aktivitas kewajiban sebagai hamba Allah dan pengembanan dakwah di masyarakat bisa dimanajemen dengan baik oleh ibu tersebut meski mengajari anaknya langsung, tentu akan lebih baik ibu tersebut memang mengajari anaknya secara langsung.

Namun bila ada kondisi kondisi tertentu yang berbenturan dengan kewajiban yang lain, bisa jadi seorang ibu tersebut meminta bantuan pihak tertentu untuk mengajari anaknya. Namun perlu dipahami disini, sifatnya hanya bantuan. Seperti guru sekolah, pemilik tempat belajar, tempat les, tempat magang dll adalah mitra yang bergerak dalam skema manajemen Visi misi belajar dari orangtua untuk anaknya. Maka mereka hanya bertanggung jawab sejauh akad dengan orang tua tersebut atas bantuan tertentu yang sudah digariskan dalam format belajar anak. Tidak lebih.


Peran Negara Dalam pendidikan Generasi 


Adapun pada tahapan tertentu, dimana orang tua sudah habis ilmunya untuk diajarkan pada anaknya, Negara adalah pihak yang bertanggung jawab atas pendidikan warga negaranya. Kecemerlangan peradaban tentu dimulai dengan investasi pendidikan bagi anak bangsa. 

Dalam Islam, hubungan Pemerintah dengan rakyat adalah hubungan pengurusan dan tanggung jawab. Negara (Khalifah) bertanggung jawab penuh dalam memelihara urusan rakyatnya. Rasulullah saw. bersabda:

Imam (Khalifah/kepala negara) adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawabannya atas rakyat yang diurusnya (HR al-Bukhari dan Muslim).

Dulu Rasulullah Saw. pernah membebaskan budak tawanan Perang Badar dengan tebusan mereka mengajari anak-anak Madinah. Padahal harta tebusan itu sebenarnya milik Baitul Mal (kas negara). Dengan demikian, Rasulullah saw. telah membiayai pendidikan rakyatnya dengan harta dari baitulmal. Hal ini menjadi dalil kewajiban negara membiayai pendidikan rakyatnya.

Biaya pendidikan yang dimaksud tentu bukan hanya untuk gaji pengajar. Berbagai keperluan pendidikan lainnya, baik sarana prasarana, infrastruktur –mulai dari ruang belajar hingga perpustakaan, laboratorum dan lainnya– hingga keperluan pendukung lain seperti transportasi dan sebagainya seharusnya disediakan negara. Sehingga rakyat tidak kesulitan mendapatkan akses pendidikan berkualitas.

Sebagai bagian dari ri’ayah itu maka pendidikan harus diatur sepenuhnya oleh negara berdasarkan akidah Islam. Tujuan pendidikan dalam Islam adalah untuk membentuk kepribadian islami (syakhshiyah islamiyah) setiap Muslim serta membekali dirinya dengan berbagai ilmu dan pengetahuan yang berhubungan dengan kehidupan. Untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut kurikulum Islam memiliki tiga komponen materi pokok yaitu: (1) pembentukan kepribadian Islam; (2) penguasaan tsaqafah Islam; (3) penguasaan ilmu kehidupan (iptek, keahlian dan keterampilan). Hal demikian akan mampu mencetak peserta didik yang menghiasi segenap aktivitasnya dengan akhlak mulia dan memandang Islam sebagai sistem kehidupan satu-satunya yang benar.

Dengan itu, maka pendidikan bermutu dengan gratis atau biaya sangat rendah bisa disediakan dan dapat diakses oleh seluruh rakyat. Hal itu memang menjadi hak mereka semua tanpa kecuali dan menjadi kewajiban negara.

Pelaksanaan pendidikan formal di masa kejayaan Islam, berdasarkan sirah Rasul hingga masa tarikh Daulah Khilafah, dapat dideskripsikan sebagai berikut:

Kurikulum pendidikan didasarkan pada Aqidah Islam. Mata pelajaran dan metodologi pendidikan untuk menyampaikan pelajaran seluruhnya disusun sejalan dengan asas aqidah Islam.

Tujuan penyelenggaraan pendidikannya merupakan penjabaran dari tujuan pendidikan Islam yang disesuaikan dengan tingkatan pendidikannya.

Sejalan dengan tujuan pendidikannya, waktu belajar untuk ilmu-ilmu Islam (tsaqofah Islamiyyah) diberikan setiap minggu dengan proporsi yang disesuaikan dengan waktu pelajaran ilmu-ilmu kehidupan (iptek dan keterampilan).

Pelajaran ilmu-ilmu kehidupan/terapan dan sejenisnya (iptek dan keterampilan) dibedakan dari pelajaran guna membentuk syakhsiyyah Islamiyah dan tsaqofah Islamiyyah. 

Khusus untuk materi guna membentuk syakhsiyyah Islamiyah mulai diberikan di tingkat dasar sebagai materi pengenalan dan kemudian meningkat pada materi pembentukan dan peningkatan setelah usia anak didik menginjak baligh (dewasa). 

Sementara materi tsaqofah Islamiyyah dan pelajaran ilmu-ilmu terapan dan sejenisnya diajarkan secara bertingkat dari mulai tingkat dasar.

Bahasa Arab menjadi bahasa pengantar diseluruh jenjang pendidikan, baik negeri maupun swasta.

Materi pelajaran yang bermuatan pemikiran, ide dan hukum yang bertentangan dengan islam, sepertiideologi sosialis/komunis atau liberal/kapitalis, aqidah ahli kitab dan lainnya, termasuk sejarah asing, bahasa maupun sastra asing dan lainya, hanya diberikan pada tingkat pendidikan tinggi yang tujuannya hanya untuk pengetahuan, bukan untuk diyakini dan diamalkan.

Libur sekolah hanya diberikan pada hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha (termasuk hari tasyri’). Masa pendidikan berlangsung sepanjang tahun dan tujuh hari dalam seminggunya. Hal ini menjadikan umat Islam biasa beretos kerja tinggi.

Pendidikan sekolah tidak membatasi usia. Yang ada hanyalah batas usia wajib belajar bagi anak-anak, yakni mulai umur tujuh tahun.


Bagaimana sikap kita menghadapi pendidikan di masa pandemi Ini ?

Pastikan kesehatan anak kita, itu yang utama. Bila memang sekolah anak kita ada di Zona merah, kuning atau oranye. Keputusan terbaik tetap di rumah. 

Ketika anak harus belajar di rumah, kuatkan visi misi kita, adakan musyawarah keluarga untuk memanajemen pembelajaran anak kita.

Tingkatakan kompetensi kita sebagai guru, pelajari berbagai  hal tentang dunia mengajar. 

Prioritaskan alokasi keuangan keluarga untuk membeli hal hal primer dan kebutuhan kesehatan serta pendidikan anak kita. Saat ini kuota lebih penting disbanding perabotan atau peralatan dapur, komputer atau gadget canggih lebih penting disbanding kendaraan atau alat rumah tangga lainnya.

Bersinergi dengan lembaga pendidikan agar kita bisa optimal dalam membersamai pembelajaran anak.

Bagaimana bila kondisi tak memungkinkan sehingga anak tetap harus ke sekolah?

Pastikan pihak sekolah mematuhi standar protokol kesehatan

Beri pemahaman anak kita tentang Covid-19 dan bagaimana dia harus bersikap.
Bekerjasama dengan orangtua murid lainnya untuk mewujudkan protokol kesehatan.

Bekerjasama dengan pihak sekolah untuk bersinergi dalam pendidikan anak.
Tetap tawakal dan meminta perlindungan kepada Allah ketika anak kita keluar rumah, karena sebaik baik penjaga adalah Allah. Wallahu ‘alam bishowwab.[]

Oleh: Ekha Putri M S, S. P

Posting Komentar

0 Komentar