TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Pentingnya Memahami Hadhoroh dan Madaniyah


Beberapa hari terakhir, viral sebuah meme iklan produk kurma yang mendiskreditkan kue klepon dengan mengklaim kurmanya sebagai jajanan Islami sementara klepon itu tidak Islami. Entah siapa pemilik nama yang tertera di dalam desain meme tersebut.

Yang jelas, viralnya meme itu menimbulkan keriuhan di dunia maya. Para netizen merespon dengan berbagai macam cara. Satire, ejekan bahkan hinaan ditujukan kepada pembuat meme dan penyebarnya. Orang-orang liberal pun tak ketinggalan melempar narasi buruk terhadap umat Islam.

Tak bisa dipungkiri, sebab meme tersebut membawa-bawa identitas Islam, sehingga citra Islam menjadi seolah-olah kaku dan kuno. Membandingkan kurma yang disebutnya Islami dan klepon yang dia tuduh tak Islami menjadikan para pembenci Islam bersorak sorai melakukan serangan opini.

Terlepas dari semua kontroversi seputar meme tersebut, harus disadari bahwa inilah urgensi memahami Islam secara utuh wal kaffah. Bil khusus pembahasan hadhoroh dan madaniyah. Agar umat tak mudah terpengaruh dan tak mudah menuduh sesuatu itu tak Islami sehingga mesti dihindari, sementara yang ia punya adalah Islami.

Dalam kitab Nizhamul Islam, Al-'Allamah Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani -rahimahullah- menulis satu bab khusus tentang hadhoroh dan madaniyah ini, bahkan al-Khalil Syaikh Abdul Qadim Zallum -rahimahullah- menulis kitab berjudul “Khatmiyatu Shira'il Hadhorot” yang berisi tentang keniscayaan benturan peradaban.

Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani -rahimahullah- mendefinisikan hadhoroh sebagai kumpulan mafahim (ide yang dianut dan mempunyai fakta) tentang kehidupan. Sedangkan Madaniyah adalah bentuk-bentuk fisik dari benda-benda yang terindera yang digunakan dalam berbagai aspek kehidupan. Perbedaannya, hadhoroh bersifat khas, terkait dengan pandangan hidup. Sementara madaniyah bisa bersifat khas, bisa pula bersifat umum untuk seluruh umat manusia. (Nizhamul Islam, hlm.109)

Dari definisi di atas, kita bisa memahami bahwa kapitalisme dan turunannya berupa demokrasi adalah hadhoroh yang haram diterapkan oleh kaum Muslimin. Sementara klepon yang tidak ada hubungannya dengan hadhoroh adalah halal bagi umat Islam. Kecuali madaniyah khusus seperti patung-patung atau aksesoris yang mengandung  hadhoroh di luar Islam, misalnya kalung salib, maka hukumnya haram digunakan.

Kaidah ushul fiqih yang berkaitan dengan ini berbunyi:

“Hukum asal benda adalah mubah selama tidak ada dalil yang mengharamkannya.” 

Jadi, kue klepon hukum asalnya halal, alias Islami karena termasuk madaniyah umum dan berdasarkan firman Allah:

”Wahai manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi.” (QS. Al-Baqarah [2]: 168)

Sesungguhnya, faktor kemunduran kaum Muslimin adalah rendahnya taraf berfikir umat yang tidak bisa membedakan hadhoroh dan madaniyah sehingga demokrasi yang harunya ditolak, malah diadopsi. Sementara madaniyah umum berupa hasil teknologi industri termasuk kue klepon yang halal dipersoalkan.

Oleh karena itu, untuk kembali membangkitkan kaum Muslimin, umat harus meningkatkan taraf berfikirnya dan mengambil Islam sebagai ideologinya. Dengan begitu, umat Islam akan memenangkan benturan peradaban dan mewujudkan peradaban Islam di seluruh dunia. Wallahu a’lam bish-shawab.[]

Oleh: Al Azizy Revolusi 
Forum Intelektual Muda Konawe

Posting Komentar

0 Komentar