TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Pentingkah RUU HIP?



RUU HIP yang diinisiasi oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan ditetapkan sebagai inisiasi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menuai pro kontra ditengah-tengah masyarakat.
RUU HIP mendapat penolakan keras dari masyarakat, khususnya elemen kaum Muslim. Majelis Ulama' Indonesia (MUI), Muhammadiyah, Nadhatul Ulama' sepakat menolak pengesahan RUU ini.

Salah satu yang menjadi sorotan masyarakat yaitu adanya celah terhadap berkembangnya paham Komunisme karena TAP MPRS XXV/1966 yang melarang ajaran Komunisme tidak dimasukkan dalam konsideran RUU ini.
Menurut Anwar Abbas (SekJen MUI), RUU HIP sangat sekuler dan ateistik, sehingga MUI menolak seluruh isi RUU HIP.

Tidak bisa dipungkiri bahaya Ideologi Komunisme yang telah membuat sejarah pahit Indonesia, bahkan tercatat banyak kasus pertumpahan darah.
Sejarah G30S PKI tidak akan terlupakan sepanjang masa. Pembunuhan terhadap para jenderal-jenderal TNI AD, Ulama, dan tokoh muslim masyarakat di berbagai daerah di Indonesia pada waktu itu.
Menurut Taufik Ismail, Partai Komunis Indonesia (PKI) berontak 3 kali merupakan pelanggaran Hak Asasi Manusia Luar Biasa (icmi.or.id, 25/08/25).
Komunisme mengambil jalan kekerasan untuk perubahan masyarakat. Menurut Marx, "Kekerasan adalah Bidan untuk setiap masyarakat lama yang hamil tua dengan masyarakat baru.
Sehingga tak aneh Ideologi ini senantiasa banjir darah.

Namun perlu disadari oleh semua kalangan bahwa terdapat ancaman yang tidak kalah bahayanya dari Komunisme yaitu ideologi Kapitalisme dengan asas Sekulerisme.
Ideologi ini telah lama bercokol di berbagai negara terutama negeri zamrud khatulistiwa. Meskipun konon katanya negeri ini menganut ideologi Pancasila.

Ideologi Kapitalisme membahayakan masyarakat, dengan aqidah sekulerisme melahirkan empat kebebasan yaitu kebebasan beragama, berperilaku, kepemilikan, dan berpendapat.

Kebebasan beragama membuat orang bebas berganti-ganti agama bahkan membuat agama sendiri, tanpa ada pencegahan aturan negara. Belum lagi keberadaan banyak kelompok sesat yang tidak terusik oleh hukum, dan bebas beraktivitas seperti Ahmadiyah dan Lia Eden.
Begitupun kebebasan berpendapat melahirkan pendapat tanpa nilai baik buruk bahkan sangat mudah ditemukan penistaan agama.

Kebebasan berperilaku pun merusak tatanan sosial masyarakat, penelitian Reckitt Benckiser Indonesia, 33% remaja di lima kota besar di Indonesia pernah berzina, sehingga berdampak pada pembuangan bayi. Menurut catatan IPW, selama 2018 terdapat 178 bayi baru lahir dibuang.
Selain itu ideologi sekuler kapitalisme melegalkan penyimpangan perilaku seksual seperti LGBT, begitupun industri pornografi makin marak yang merusak kaum Millenials saat ini.
Tak hanya itu, kebebasan kepemilikan dalam ideologi kapitalisme ini sangat merusak perekonomian masyarakat. 
Menurut Global Wealth Report 2018, 1% orang terkaya di Inggris menguasai 46,6% total kekayaan penduduk dewasa, dan 10 % orang terkaya menguasai 75,3% total kekayaan penduduk Indonesia. Maksudnya roda perekonomian di negeri ini dinikmati oleh beberapa orang kaya raya saja.

Konon katanya Pancasila sudah final. Namun mengapa masih ditafsirkan bahkan sengaja diperas-peras menjadi Trisila hingga Ekasila, gotong royong?  Bahkan ini tak sekedar pada level memeras Pancasila namun diduga akan menggantinya. Sehingga mitos NKRI harga mati hanyalah ilusi. Jika Pancasila diganti lantas siapakah yang harus dibubarkan? 
Sehingga perlulah kiranya negeri ini berbenah. Ideologi manakah yang akan diemban di negeri ini.
Ideologi di dunia ini ada tiga. Komunisme termasuk sosialisme, Kapitalisme, dan Islam. Komunisme telah nampak sepak terjang kekejamannya. Kapitalisme yang sedang diterapkanpun terasa nyata kezaliman dimana-mana. 
Lantas, harus kemana lagi berlabuh jika tidak pada aturan Pencipta manusia, Al Khalik dan Al Mudabbir.
Kiprahnya nyata berpengalaman memimpin dua pertiga dunia hampir 14 abad lamanya.

Ketika ideologi Islam itu diterapkan, nyata mewujudkan keadilan, pengangguran dan kemiskinan nyaris tidak ada, sumber daya alam diolah negara hasilnya dikembalikan kepada rakyat, biaya kesehatan dan pendidikan gratis, dan lain-lain. 
Bahkan penanganan seperti wabah Covid 19 terjadi saat ini akan tersolusi dengan tepat.

Sehingga sudah saatnya di dalam negeri menerapkan Islam, taat dan patuh terhadap aturan Allah SWT. Begitupun keluar negeri mendakwahkan Islam. Mewujudkan Rahmatan Lil 'Alamin, sesuai Manhaj Kenabian Muhammad SAW, yaitu Khilafah Rasyidah yang menyejahterakan umat manusia.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُوْدَ وَا لنَّصٰرٰۤى اَوْلِيَآءَ ۘ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَآءُ بَعْضٍ ۗ وَمَنْ يَّتَوَلَّهُمْ مِّنْكُمْ فَاِ نَّهٗ مِنْهُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin(mu); mereka satu sama lain saling melindungi. Barang siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim."
(QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 51)

Wallahu 'Alam bi Showab.[]

Oleh : Sahna Salfini Husyairoh, S.T
Aktivis Muslimah

Posting Komentar

0 Komentar