TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Penghalang Persatuan Umat Islam



Kaum Muslimin wajib bersatu kapan pun dan di mana pun jika ingin bangkit. Sebab, ia merupakan kunci utama kekuatan untuk mencapai kemenangan kaum Muslimin. Sebaliknya, perpecahan yang terjadi juga menjadi kunci utama yang mempersulit langkah untuk mencapai kemenangan.

Perpecahan antar kaum Muslimin yang dirasakan saat ini menjadi problem utama yang dihadapi umat. Bagi musuh, persatuan umat Islam adalah mimpi buruk yang harus dihalangi. Karena itu, setelah berhasil memecah belah negara-negara Islam yang bersatu di bawah Daulah Khilafah Turki Utsmani, mereka terus membuat propaganda yang menghancurkan upaya kaum Muslimin untuk bersatu.

Persatuan umat Islam dibawah satu sistem khilafah dan satu kepemimpinan yaitu Khalifah sangat mungkin diwujudkan oleh kaum Muslimin sebab catatan sejarah telah menunjukkan semua itu dan benar-benar telah berhasil diwujudkan oleh kaum Muslimin terdahulu bahkan bukti-bukti bangunan bersejarah dimasa khilafah masih berdiri kokoh hingga saat ini semisal, Kompleks istana Alhambra di Granada dan Masjid-Katedral di Cordoba merupakan peninggalan penting kerajaan Islam dan menjadi objek turis utama di Spanyol.

Namun untuk mewujudkannya bukanlah perkara mudah karena ada beberapa penghalang persatuan umat ini diantaranya;

Pertama, penghalang itu bisa datang dari luar yaitu dari musuh-musuh Islam.

Perang pemikiran menjadi salah satu kendala bagi kaum muslimin untuk meningkatkan izzahnya. Yang menjadi sasaran tentu saja adalah pola pikir, akhlak (perilaku), dan aqidah dari kaum Muslimin.

Apabila seseorang sering menerima paham sekuler, maka ia pun akan berpikir ala sekuler. Bila seseorang dicekoki dengan pola pikir komunis, materialis, liberalis, kapitalis atau yang lainya, maka merekapun akan cenderung berpikir dengan salah satu paham tersebut. Perang pemikiran dilahirkan dalam bentuk media-media baik cetak maupun elektronik.

Salah satu keberhasilan perang pemikiran musuh dapat ditandai dengan kemampuan orientalis dalam mencetak kader dari generasi umat Islam. Kader-kader tersebut mereka bentuk karakternya dan siap menjadi agen-agen yang bekerja untuk mereka.

Kedua, penghalang dari internal umat berupa; kondisi atau sikap mereka yang keliru. Perjuangan yang panjang dan tidak kunjung membuahkan hasil yang diharapkan akan bisa dirasa melelahkan. Akibatnya metode yang telah diadopsi bisa mulai diragukan. 

Kebenaran metode tidaklah diukur dari cepat tidaknya membuahkan hasil, tetapi semata-mata dinilai dari kebenaran istinbathnya dan kesesuaiannya dengan metode Rasulullah Saw. Jika ini terpenuhi, tidak ada alasan untuk tidak melakukannya.

Akibat lainnya adalah munculnya pesimisme dan keputusasaan. Padahal kita tidak bertanggung jawab atas hasil, yang dipertanggungjawabkan di sisi Allah Swt. adalah perjuangan itu apakah sudah dilakukan sebaik mungkin dengan mengacu pada metode Rasulullah Saw. atau tidak.

Umat harus senantiasa ingat bahwa Allah Swt. melarang berputus asa dari rahmatnya. 

"Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi)." (QS az-Zumar: 53- 54).

Ketiga, halangan juga bisa muncul dari sikap pragmatis. menerima tawaran atau mengambil jalan yang diamankan atau diduga bisa lebih cepat membuahkan hasil. 

Pragmatisme politik menurut Kamus Politik sikap dari politisi yang bersifat pragmatis yaitu menjadikan politik sebagai sarana untuk mencapai keuntungan dan kepentingan pribadi. Pragmatisme politik menganggap bahwa berpolitik merupakan cara mudah untuk meraih status sosial terhormat, kedudukan dan jabatan tinggi serta kemampuan ekonomi. Politik bukan sebagai idealisme untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat, berpolitik hanya sebagai mata pencaharian bukan untuk memperjuangkan nilai-nilai dan aspirasi rakyat. 

Contoh nyata dari sikap pragmatisme politik adalah mudah ber-pindahnya seorang politisi dari suatu partai ke partai lainnya untuk mendapatkan kedudukan atau jabatan.

Sikap ini justru mengalihkan perjuangan dari garis yang seharusnya dan dari tuntunan ideologi Islam, juga bisa menjerumuskan ke dalam perangkap sistem yang tidak islami dan strategi musuh. Untuk itu, umat khususnya para aktivis dakwah harus semakin mengentalkan kesadaran ideologi Islamnya. 

Keempat,  sikap ingin menang sendiri, menganggap pendapat sendiri paling benar dan yang lain salah. Fanatisme mazhab serta tidak proporsional menyikapi perbedaan. 

Perbedaan dalam masalah furu' memang diperbolehkan tetapi tidak boleh dikembangkan sikap menghujat, menyesatkan atau bahkan mengkafirkan dan memusuhi pihak lain yang pendapatnya berbeda. 

Adanya perbedaan itu mestinya justru menyadarkan dan semakin mendorong kita untuk mewujudkan seorang Khalifah yang akan bisa menghilangkan perbedaan itu dalam tataran praktis.

Kaidah Syariah mengatakan, "Perintah Imam menghilangkan perselisihan".

Kelima, sikap berpegang pada qawmiyah, nasionalisme, patriotisme dan sikap 'ashabiyah lainnya. 

sabda Rasul saw.:

إِنَّ اللهَ قَدْ أَذْهَبَ عَنْكُمْ عَصَبِيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ وَفَخْرَهَا بِاْلآبَاءِ، إِنَّمَا هُوَ مُؤْمِنٌ تَقِيٌّ أَوْ فَاجِرٌ شَقِيٌّ، النَّاسُ بَنُوْ آدَمَ، وَآدَمَ مِنْ تُرَابٍ، وَلاَ فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى عَجَمِيٍّ إِلاَّ بِالتَّقْوَى

Sesungguhnya Allah telah menghilangkan dari diri kalian ‘ashabiyah Jahiliyah dan kebanggaan Jahiliyah karena keturunan. Seseorang hanyalah seorang Mukmin yang bertakwa atau seorang pendosa yang celaka. Manusia itu anak cucu Adam, sedangkan Adam berasal dari tanah. Tidak ada kelebihan orang Arab atas non-Arab kecuali karena ketakwaannya. (HR Abu Dawud dan Ahmad).

Inilah hal-hal yang dapat menghalangi persatuan umat Islam.[]

Oleh Nabila Zidane
Forum Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban

Posting Komentar

0 Komentar