TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Pendidikan Berbasis Aqidah


Miris memang, ingin mencapai cita-cita yang tinggi namun kandas karena skripsi. Bunuh diri jadi solusi, apakah yang sebenarnya terjadi dinegeri ini? Sebagaimana kita lihat dari informasi  yang terkait dengan unggahan meninggalnya mahasiswa semester akhir lantaran skripsinya kerap mengalami penolakan dari dosennya viral di media sosial baru-baru ini. Adapun informasi tersebut diunggah oleh akun Twitter @collegemenfess pada Senin (13/7/2020).

Konsultan pendidikan dan karier Ina Liem mengungkapkan, mahasiswa yang bunuh diri karena skripsi dapat dilihat dari berbagai faktor.

"Salah satu faktornya yakni mungkin mahasiswa tersebut punya masalah psikologis, ketahanan terhadap stres yang tergolong rendah. Skripsi hanya pemicunya," ujar Ina saat dihubungi Kompas.com, Rabu (15/7/2020).

Ina menyayangkan mengenai tipe universitas di Indonesia yang hanya memiliki satu macam sistem pembelajaran yakni research based university.

Meski begitu, Ina menjelaskan bahwa Indonesia sendiri belum tergolong negara dengan ekonomi berbasis inovasi, di mana salah satu ciri aktivitasnya adalah penelitian (research). (kompas, 15/7/2020)
=== 

Sejati pendidikan yang tinggi makin membuat seseorang makin bijak dan tepat mencari solusi atas persoalannya. Pendidikan tinggi bukan sekedar ajang eksistensi diri  tapi butuh komitmen untuk mampu mengaplikasikan segala ilmu yang di dapat selama menempuh pendidikan.

Pendidikan saat ini hanya menilai  hasil dan mengabaikan proses yang ada. Kadang prosedur yang dilalui pun tidak masuk akal dan manusiawi. Perguruan tinggi saat ini ibarat sebuah pabrik yang memproduksi para sarjana yang cuma bisa manut dan kurang kreatifitas. Salah satu penyebabnya akibat tekanan kampus yang membatasi kreatifitas itu sendiri.

Sepantasnya  perguruan tinggi memang  harus berbasis riset agar menghasilkan peneliti-peneliti yang handal dan bermanfaat.  Namun keberadaan mereka kurang menjadi daya tarik bagi industri. Sementara yang kita lihat hari ini, perusahaan perindustrian pun sedikit menawarkan lapangan kerja bagi para sarjana. Karena perusahaan hanya butuh skill tenaga untuk operator yang bisa dilakukan oleh tamatan sekolah menengah atas dan kejuruan.

Maka wajar jika pengangguran para sarjana pun tak terbendung. Apalagi negara hanya membisu tanpa memberikan solusi jitu agar mereka bisa diberdayakan. Lalu, bagaimana dengan kecendrungan mahasiswa yang bunuh diri, apakah musti dimaklumi saja? 

Sementara itu, menurut WHO temuan kematian akibat bunuh diri sebanyak 10,5 orang per 100.000 orang pada 2016. Angka tersebut diperkirakan terus meningkat.

Dalam pendidikan ala kapitalis minim penanaman nilai-nilai moral dan agama. Sikap putus asa dan pragmatis sepertinya sudah mendarah daging. Apalagi dengan mencari solusi dengan melampiaskan persoalan pada penyalahgunaan zat adiktif pun tidak jarang ditemukan.

Sikap empati terhadap sesama perlu dibangun agar kepekaan  terhadap lingkungan bisa meminimalisir sehingga hal-hal negatif seperti bullying sebagai  salah satu pemicu bunuh diri pun bisa dihindarkan.

===
Konsep Pendidikan  Islam

Rasulullah mengajarkan konsep pendidikan yang pertama kali adalah membuka kehidupan mulai dari lahir sampai mati  dengan kalimat Laa ilaaha illallaah. Ini artinya diperlukan stimulasi naluri beragama yang berlandaskan tauhid, aqidah Islam. Agar setiap orang  memahami hakekat dirinya, siapa yang menciptakannya, untuk apa dia diciptakan dan kemana dia setelah mati. 

Jika hal ini sudah ditanamkan  maka ini akan menjadi landasan berfikir bagi setiap orang dalam menyelesaikan persoalan kehidupannya. Hidup adalah pilihan,  bahwasanya apa yang kita lakukan semata-mata hanya karena Allah SWT. Begitu juga dalam menuntut ilmu, hendaknya ilmu yang kita cari bisa membawa kebaikan di dunia dan menjadi amal ibadah untuk akhirat nanti. 

Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (TQS Yunus [10]:26)

Makin tinggi tingkat pendidikan, hendaknya juga makin mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Dengan bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu dan tidak gampang putus asa.  Karena pilihan hidup ada ditangan kita masing-masing. Apakah akan menjadi orang yang bermanfaat atau orang orang yang membawa mudharat?

Hendaknya kita belajar pada ilmuan Muslim yang banyak mempersembahkan pengembangan sains dan teknologi. Islam sebagai sebuah ideologi mendorong setiap orang untuk berfikir dan memperoleh pendidikan.

Untuk mencapai tujuan itu umat Islam diperintahkan untuk membangun kekuatan material. Khalifah bertanggung jawab untuk memanfaatkan segala sarana dan koridor hukum Islam untuk mengurus umat. Oleh karena itu semua faktor tersebut dapat mendorong kaum muslim memulai pencapaian teknologi, sejumlah akademi didirikan di banyak tempat di dunia Islam. 

Untuk melaksanakan proses penerjemahan selama masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah terutama di bawah kepemimpinan Al Mansur dan Al Makmun. Aktivitas berskala besar dilakukan dalam rangka mempersiapkan dan menerjemahkan karya ilmiah. Para ilmuwan muslim tidak keberatan menerima kesimpulan ilmiah dari pihak lain tergantung pada verifikasi eksperimental mereka dan melakukan pengamatan dan eksperimen baru yang melahirkan penemuan baru.  

Di bawah pemerintahan Islam para ilmuwan tidak hanya berkontribusi orisinal bagi sains tetapi juga menerapkan penemuan ilmiah mereka dalam bentuk inovasi teknologi seperti Ibnu Yunus memaparkan pendulum untuk mengukur waktu. Ibnu Sina menggunakan termometer udara untuk mengukur suhu udara itu semua membawa revolusi yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam peradaban Islam.

Namun kaum muslim saat ini digambarkan dengan kegagalan perpecahan dan stagnasi dalam sains teknologi .  Kenyataannya  bahwa kaum muslim memiliki kekayaan yang luar biasa, namun mereka masih tertinggal dalam pengembangan industri.  

Keadaan menyedihkan ini bukan karena mereka berpegang kepada Islam sebaliknya kondisi ini merupakan akibat langsung dari tidak diterapkannya Islam. Konstitusi hukum dan cara berpikir yang berlaku di dunia islam saat ini berakar pada pemikiran sekuler. 

Kemunduran sains dan teknologi di dunia Islam terjadi akibat rasa puas diri dalam pemahaman dan penerapan Islam. Salah satunya cara agar umat Islam dapat kembali mengambil alih kepemimpinan di bidang sains dan teknologi adalah melalui ketaatan total terhadap Islam sebagai sebuah ideologi yaitu dengan mengadopsi aqidah Islam dan menerapkan Islam secara menyeluruh.

 Kepemimpinan dalam sains dan teknologi sangat diperlukan agar umat Islam dapat menyumbang Islam ke seluruh dunia penerapan Islam akan menciptakan lingkungan yang kondusif untuk penelitian dan pengembangan sumberdaya yang tepat akan dialokasikan ke perguruan tinggi,  universitas dan pusat penelitian dan transformasi gagasan menjadi penerapan praktis guna meningkatkan taraf hidup rakyat juga akan didorong.  Bahkan industrialisasi akan menjadi prioritas negara Islam.

Tidak diragukan lagi bahwa dalam waktu singkat Negara Islam akan sekali lagi memimpin dunia dalam sains dan teknologi . Arnold dan Guillaume dalam Legacy  of Islam berkomentar tentang sains dan kedokteran Islam: 

Dengan menengok ke masa lalu kita dapat mengatakan bahwa ilmu kedokteran dan Islam memancarkan cahaya mentari Helenis.  ketika siang berlalu,  mereka bersinar laksana bulan menerangi malam gelap gulita Abad  Pertengahan di Eropa. Mereka seperti bintang kejora yang meminjamkan cahayanya. Bulan dan bintang itu sama-sama lenyap ketika fajar baru terbit- Renaisans. Karena mereka atau kaum muslimin memiliki andil dalam mengarahkan dan memperkenalkan gerakan besar itu,   dapat dikatakan bahwa mereka masih bersama kita.

Wallahu'alam bish-shawab.

Oleh Sri Nova Sagita
Institut Kajian Politik dan Perempuan

Posting Komentar

0 Komentar