TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Pembukaan Pariwisata di Tengah Wabah, Efektifkah?


Wabah corona yang terjadi saat ini membuat perekonomian Indonesia lumpuh. Pemerintah beserta jajarannya berusaha menormalkan kembali denyut nadi perekonomian agar bisa kembali berjalan normal. Kebijakan New Normal yang dikeluarkan oleh pemerintah sebagai pengesahan dibukanya sejumlah fasilitas umum. Salah satu fasilitas umum yang di buka adalah sektor pariwisata. 

Hal ini sebagaimana di Jawa Timur. Sejumlah fasilitas umum mulai kembali dibuka. Padahal kondisi wabah corona sampai saat ini masih tinggi di sana. Hampir seluruh daerah di Jatim berzona merah. Namun pemerintah daerah membuka sektor pariwisata. 

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) yang merupakan salah satu destinasi wisata di Jawa Timur akan kembali dibuka. Ini setelah 4 Bupati di wilayah TNBTS menandatangani Standar Operasional Prosedur (SOP) Kunjungan Wisata Secara Bertahap.

Penandatanganan itu dilakukan usai Rapat Koordinasi Pelaku Jasa Wisata dalam rangka Penyusunan dan Pembahasan Standar Operasional Prosedur (SOP) Kunjungan Wisata Alam di TNBTS pada masa pandemi COVID-19 yang bertempat Hotel Lava View, Bromo, Probolinggo, Kamis (16/7).

Bupati Lumajang, Thoriqul Haq menyambut baik rencana pembukaan TNBTS. Dirinya mengatakan rencana pembukaan tersebut bakal kembali menggairahkan perekonomian khususnya di sektor wisata. Thoriqul Haq menjelaskan saat ini Pemerintah tengah dilema antara memilih kesehatan atau perekonomian. Menurutnya, pilihan terbaik saat ini adalah pemerintah sebagai kendali dan pengambil kebijakan harus pandai mengatur 'gas' dan 'rem'.

Lebih lanjut, dirinya menjelaskan Pemerintah mulai melonggarkan kegiatan masyarakat untuk memastikan perekonomian kembali tumbuh. Namun ia menekankan agar seluruh pelaku wisata mematuhi protokol kesehatan yang telah disusun. (Detiknews.com jumat 17/07/2020)

Menurut hemat penulis pembukaan sektor pariwisata ini tidaklah efektif di tengah wabah corona yang saat ini masih tinggi hal itu dikarenakan.

Pertama,  lonjakan korban corona semakin bertambah. Meski diterapkan protokoler kesehatan di tempat-tempat pariwisata hal ini tidak menjamin virus corona tidak menyebar. Pasalnya konsisi Jatim sampai hari ini masih berstatus zona hitam. Artinya penyebaran virus corona masih sangat tinggi. Hal ini sangat membahayakan pengunjung jika sektor pariwisata tetap di buka. 

Kedua,  kesadaran masyarakat terhadap protokoler kesehatan masih sangat rendah. Banyak masyarakat yang keluar rumah tanpa menggunakan masker. Padahal masker adalah alat yang vital di tengah pandemi ini untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona. Selain itu banyak masyarakat yang masih saja berkerumun tanpa tujuan yang jelas. 

Ketiga, pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) oleh asing. Permasalahan utama perekonomian Indonesia adalah cengkraman tangan asing dalam mengelola SDA yang ada di Indonesia. Dengan dalih keterbatasan teknologi Indonesia mendatangkan asing dalam rangka mengelola kekayaan yang ada di negeri ini. Namun faktanya SDA yang ada di Indonesia di keruk untuk di bawa ke luar negeri. Banyak tambang-tambang yang ada di negeri ini sudah dimiliki oleh asing. Sedang penduduk pribumi menjadi buruh di negeri sendiri. Tambang-tambang yang melimpah ruah sudah bertuan orang-orang asing. Rakyat hanya disisakan ampasnya saja. Akhirnya rakyat mati dalam hamparan tambang-tambang yang menganga.

Keempat, investasi asing. Atas nama investasi, asing para investor diundang ke negeri kita untuk mengelola SDA kita. Investor asing bisa berhubungan langsung dengan pemerintah daerah untuk mengelola SDA yang ada di daerah. Akibatnya SDA kita dikuasai oleh asing dan kekayaan kita diangkut ke negara mereka. Rakyat hanya disisakan ampasnya saja. 

Kelima, privatisasi. Privatisasi (istilah lain: denasionalisasi, swastanisasi, atau penswastaan) adalah proses pengalihan kepemilikan dari milik umum menjadi milik pribadi. Lawan dari privatisasi adalah nasionalisasi. (Wikipedia). Ingatan kita masih segar dengan film Sexy Killer. Film ini menggambarkan tentang privatisasi yang terjadi di negeri ini. Tambang batubara di miliki oleh segelintir orang yang berduit. Sisa-sisa galian batubara dibiarkan menganga sampai memakan korban. Namun pemerintah tak peduli dengannya. Jeritan atau aspirasi rakyat setempat disampaikan oleh pemerintah daerah namun hal ini tidak ditindaklanjuti. 

Keenam, Kapitalisme yang dianut negeri ini semakin memperparah ambruknya ekonomi. Faham kepemilikan yang ada dalam kapitalisme membuat si kaya semakin berkuasa. Faham kebebasan kepemilikan adalah bagi siapa saja yang mempunyai modal raksasa bisa membeli apa saja yang ada di negara kita. Hal ini jelas akan semakin membuat kesenjangan semakin menganga. Kita bisa bayangkan ketika seseorang yang bermodal bisa membeli pulau, maka rakyat biasa tidak dapat merasakan kekayaan alam yang ada di pulau tersebut. Kita bisa merasakan fakta yang ada di Indonesia. Kekayaan alam kita dikuasai oleh segelintir konglomerat. Perusahaan-perusahaan raksasa bercokol di negara kita. 

Inilah yang menjadi faktor utama ambruknya ekonomi di negara kita. Solusi menggenjot pariwisata untuk memutar roda perekonomian sangatlah jauh dari impian. Pengeloaan SDA yang tepat itulah jawaban untuk mengembalikan agar roda ekonomi kembali berputar dan akan mensejahterakan. Privatisasi dihilangkan, negara yang akan mengelola kekayaan. Rakyat akan sejahtera di bawah independen negara bukan dibawah cengkraman asing.

Pengelolaan SDA dalam Islam 
Dalam pandangan Islam hutan dan barang tambang adalah milik umum yang harus dikelola hanya oleh negara. Hasilnya harus dikembalikan kepada rakyat dalam bentuk barang yang murah dan subsidi untuk kebutuhan primer misalnya pendidikan, kesehatan dan fasilitas umum. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh An Nabhani berdasarkan hadits riwayat Iman At Tirmizi dari Abyadh bin Hamal. Dalam hadits tersebut, Abyadh diceritakan telah meminta kepada Rasulullah untuk dapat mengelola sebuah tambang garam. Rasulullah meluluskan permintaan itu tapi segera diingatkan oleh seorang shahabat. 

"Wahai Rasulullah tahukan engkau, apa yang engkau berikan kepadanya? Sesungguhnya engkau telah memberikan sesuatu yang bagaikan air mengalir (ma'u al-'iddu). Rasulullah kemudian bersabda: "Tariklah tambang itu darinya"

Ma'u al-'iddu adalah air yang karena jumlahnya sangat banyak digambarkan mengalir terus menerus. Hadits tersebut menyerupakan tambang garam yang kandungannya sangat banyak dengan air yang mengalir. Semula Rasulullah memberikan tambang garam kepada Abyadh menunjukkan kebolehan memberi tambang kepada seseorang. Tetapi ketika Rasulullah tahu bahwa tambang tersebut merupakan tambang yang cukup besar, maka Rasulullah mencabut pemberian itu. Karena tambang tersebut dikategorikan milik umum. Semua milik umum tidak boleh dikuasai oleh individu.[]

Oleh Siti Masliha, S.Pd 
Aktivis Muslimah Peduli Generasi

Posting Komentar

0 Komentar