TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Genosida Muslim di Tengah Benua Eropa, Umat Butuh Khilafah


Masih kita ingat pada Juli 1995, terjadi pembantaian massal Sebrenica (disebut juga genosida Srebrenica) dimana sekitar 8000 laki-laki dewasa dan remaja etnis muslim Bosnia dibunuh secara massal di daerah Srebrenica, Bosnia oleh pasukan Republik SRPSKA yang dipimpin Jendral Ratco Mladic. 

Saat itu ratusan muslim sedang menuju ke markas Belanda di dekat Srebrenica namun diusir sehingga mereka jatuh ke tangan pembantai yang menyerang. Nyatanya pasukan penjaga perdamaian PBB yang memegang senjata ringan, yang ada di wilayah yang dinyatakan  sebagai “ daerah aman” PBB, tidak melakukan apapun ketika kekerasan berkobar disekitar mereka.

Kejadian Srebrenica

Seperti dilansir kompas.com (12/7/20), Republik sosialis Bosnia dan Herzegovina yang ketika itu bagian dari Yugoslavia adalah wilayah multi etnis Bosniak muslim, Serbia ortodoks, dan Kroasia katolik. Bosnia  herzegovina mendeklarasikan kemerdekaannya pada tahun 1992 setelah referendum dan diakui tidak lama kemudian oleh pemerintah AS dan Eropa.

Tetapi kelompok Serbia Bosnia memboikot referendum. Segera setelah itu pasukan Serbia Bosnia didukung oleh pemerintah Serbia menyerang negara baru yang terbentuk. Mereka mengeluarkan Bosniak (sebutan untuk Muslim Bosnia) dari wilayah itu untuk mencipatakan “Serbia Raya” kebijakan yang dikenal sebagai pembersih etnis.

Orang-orang Bosnia yang sebagian besar adalah muslim adalah keturunan dari slavia Bosnia yang menganut Islam dibawah pemerintahan Turki Utsmani (Otoman Turki) pada abad pertengahan.

Pasukan Serbia  Bosnia merebut kembali  Srebrenica pada tahun 1992 tetapi wilayah itu segera diambil kembali oleh tentara Bosnia. Pengepungan dan bentrok antara kedua belah pihak pun terjadi.

Ketika  pengepungan terus berlanjut, persediaan makanan hampir habis untuk warga sipil. Penduduk Bosniak pun mulai mati kelaparan. 

Pada April 1993, dewan keamanan PBB menyatakan Srebrenica  adalah merupakan daerah  aman, bebas dari serangan bersenjata atau tindakan permusuhan lainnya. Lalu pada Juli 1995 pasukan Serbia Bosnia menyerang Srebrenica. Pasukan PBB menyerah  atau mundur ke kota , dan serangan udara Nato  yang dipanggil  untuk membantu tidak berbuat banyak untuk meredakan serangan.

Sekitar 20.000 pengungsi muslim pun melarikan diri ke pangkalan utama tentara PBB dan pembantaian terhadap muslim pun dimulai.

Ketika para pengungsi muslim menaiki bus untuk menyelamatkan nyawa mereka, pasukan Serbia Bosnia memisahkan pria dewasa dan anak laki-laki dari kerumunan untuk kemudian mereka bawa dan tembaki. Ribuan muslim di eksekusi dan kemudian di dorong ke kuburan massal dengan buldoser, beberapa saksi mengatakan sebagian dari mereka dikubur hidup-hidup. Beberapa orang dewasa dipaksa untuk menyaksikan anak-anak mereka dibunuh.

Sementara itu, perempuan dewasa dan anak perempuan dikeluarkan dari kerumunan pengungsi dan diperkosa. Begitu kejam dan biadab apa yang mereka lakukan terhadap muslim bosnia. 

Keadilan Hilang untuk Srebrenica

Pasukan tentara Belanda yang saat itu dikirim oleh PBB sebagai pasukan perdamaian nyatanya hanya diam tidak melakukan apapun ketika menyaksikan agresi Serbia. Bahkan mereka menyerahkan 5000 muslim Bosnia yang berlindung dipangkalan mereka ke pasukan militier Serbia Bosnia. 

Karena genosida itu ribuan nyawa muslim melayang, dibantai dengan kejinya oleh pasukan serbia bosnia . Bahkan hingga hari ini sisa pembantaian itu masih belum juga usai seperti dilansir kompas.com (12/7/20) kuburan masal baru dan tubuh korban masih ditemukan hingga hari ini seperempat abad setelah peristiwa genosida. 

Pada 2017, pengadilan PBB di Den Haag menghukum komandan Mladic atas genosida dan kekejaman lainnya. Komandan itu bersembunyi setelah berakhirnya perang pada 1995. 

Pada 2019, Mahkamah Agung negara itu menguatkan putusan bahwa Belanda ikut bertanggung jawab atas 350 kematian di Srebrenica (BBC.Com,11/7/2020). 

Pelajaran dari Peristiwa Srebrenica

Sesungguhnya kekejaman, pembantaian tidak hanya terjadi paa muslim Bosnia saja. Muslim di Palestina, Rohingya, Suriah dan lainnya pun tak ayal mengalami hal serupa.

Sungguh Umat Islam sudah banyak mengalami, penindasan, kekejaman, kedzoliman, pembantaian,terampas harta dan jiwa serta masih banyak lagi duka yang dialami Umat Islam hingga hari ini.  

Negara-negara lain pun tak bisa bertindak banyak karena terbentur sekat nasionalisme. Memang benar, atas nama kemanusiaan mereka mencoba menolong, menampung sementara, dan memberi bantuan seadanya.

Akan tetapi, mereka tak bisa menuntaskan penyikasaan yang terjadi di negeri-negeri muslim hingga saat ini.

Tragedi Srebrenica dan perang Bosnia menjadi pelajaran penting bagi umat ini bahwa tanpa khilafah negeri muslim akan terus menjadi medan pertarungan kepentingan negara yang tak segan  mengorbankan ribuan nyawa muslim. 

Tragedi ini juga menjadi bukti tidak adanya perlakuan yang adil dari PBB terhadap negara berpenduduk muslim, bahkan PBB menjadi alat melegitimasi kebengisan segelintir penjahat untuk memuaskan nafsu kedengkiannya terhadap islam dan umat islam.

Pandangan Islam

Kepemimpinan dalam Islam adalah kepemimpinan yang satu dan terpusat, yaitu Khilafah yang dipimpin oleh Khalifah. Ketika satu wilayah terdzalimi oleh pihak lain, maka Khalifah akan segera mengirim bantuan, menyelamatkan nyawa, bahkan tak segan untuk memeranginya. 

Dahulu, Muhammad bin Harun Ar-Rasyid yang dikenal dengan julukan Al-Mu'tashim Billah (Yang Berlindung kepada Allah) adalah salah seorang Khalifah di masa Abasiyah.

Musuh nyata saat itu adalah Byzantium. Dalam penyerbuan ke Kota Zabetra, pasukan Byzantium bertindak buas, membunuh para lelaki dan menawan anak-anak serta wanita. Mereka mencungkili mata dan memotong hidung serta telinga mereka.

Kemudian ketika  seorang wanita muslimah  berteriak memanggil-manggil nama Khalifah Al-Mu'tashim. Ketika berita itu sampai ke telinga sang Khalifah, ia segera mengerahkan pasukannya. Pasukan Byzantium tak bisa bertahan. Mereka melarikan diri ke daerah Dasymon. 

Di sana berlangsung pertempuran sengit yang dalam panggung sejarah dikenal dengan Perang Dasymon. Sisa-sisa pasukan Byzantium bersembunyi di Benteng Amorium, di Galatia, kota kelahiran Kaisar Theopilus. Setelah mengalami pengepungan cukup lama, akhirnya benteng itu bisa ditaklukkan. Kota Galatia dihancur-leburkan hingga rata dengan tanah.

Begitulah pembelaan seorang pemimpin kepada rakyatnya  yang tertindas dan teraniaya. Semua itu dilakukan tersebab iman dilandasi ketaatan pada Allah, sebab seorang pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban terhadap apa-apa yang dipimpinnya.

Membela saudara seaqidah yang dizalimi. Sebagaimana diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Umar radliyallahu ‘anhuma, Nabi saw. bersabda, 

“Seorang muslim itu saudara bagi muslim yang lainnya. Tidak boleh mendzaliminya dan tidak boleh pula menyerahkan kepada orang yang hendak menyakitinya. Barangsiapa yang memperhatikan kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memperhatikan kebutuhannya. Barangsiapa yang melapangkan kesulitan seorang muslim, niscaya Allah akan melapangkan kesulitan-kesulitannya di hari kiamat. Dan barangsiapa yang menutupi kesalahan seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi kesalahannya kelak di hari kiamat." (HR. Bukhari no. 2442, Muslim no. 2580, Ahmad no. 5646, Abu Dawud no. 4893, at-Tirmidzi no. 1426).

Namun demikian, pembelaan itu tidak dapat dilakukan selama muslim di muka bumi ini masih tersekat nasionalisme. Hanya Khilafahlah yang akan mampu mewujudkan pembelaan itu, dengan mengirim pasukan untuk memerangi kaum kafir harbi laknatullah. Wallahua'lam bish-showab.[]

Oleh: Utiya Choirunisa

Posting Komentar

0 Komentar