TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Pelangi yang Tak Dinanti


“Pelangi...pelangi....!” teriakan setiap orang yang melihat hadirnya pelangi dilangit sambil menunjuk cahaya  beraneka warna ciptaan Allah yang indah. Ketika hujan mulai reda, seringkali anak-anak bahkan orang dewasa menunggu dan mencari keindahan pelangi di langit. 


Berbeda dengan pelangi saat hujan ringan, warna pelangi yang digunakan sebagai simbol sebuah kelompok ini  justru meresahkan masyarakat. Sebagaimana dilansir wikipedia bahwa bendera pelangi adalah sebuah simbol dari lesbian, gay, biseksual dan transgender (eLGBT) dan gerakan sosialnya yang digunakan sejak tahun 1970an.

Isu tentang eLGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender) kembali hangat setelah beberapa waktu lalu perusahaan besar Unilever mendeklarasikan dirinya mendukung komunitas tersebut. Pernyataan itu diposting lewat akun instagramnya Unilever Global pada Jum’at 19 Juni 2020. (Unilever LGBT)


Postingan tersebut sontak memunculkan pro dan kontra di tengah masyarakat Indonesia yang berpenduduk mayoritas muslim. Secara umum, masyarakat yang pro eLGBT mendasarkan pendapatnya pada hak asasi manusia, sedangkan yang kontra mendasarkan pendapatnya pada nilai-nilai normatif, terutama norma agama.


Dukungan dan pro eLGBT ini bukan pertama kalinya menjadi perbincangan masyarakat. Dan Unilever bukan satu-satunya perusahaan yang terang-terangan mendukung eLGBT. Dilansir dari hops.id (26/06/2020), bahwa ada 20 perusahaan besar yang juga pro terhadap hal ini.


Di sisi lain, kontra terhadap pernyataan Unilever diwujudkan dalam berbagai bentuk. Tidak hanya berupa opini, postingan di instagram ataupun twitan di twiter, tapi juga dalam bentuk seruan boikot terhadap produknya. Seruan boikot juga disampaikan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Ketua Komisi Ekonomi MUI, Azrul Tanjung, menegaskan akan mengajak masyarakat untuk beralih pada produk lain. “Saya selaku ketua komisi ekonomi MUI akan mengajak masyarakat berhenti menggunakan produk Unilever dan memboikot Unilever,” kata Azrul saat dihubungi Republika, Ahad (28/6). 


Boikot terhadap sebuah produk yang mendukung gerakan eLGBT memang sah saja sebagai upaya melawan kemungkaran. Namun, untuk menekan suatu perusahaan besar sekelas Unilever menjadi sesuatu yang sulit. 
Gerakan eLGBT yang sudah tersistem ini tidak akan dapat terbendung dengan pemboikotan produk/perusahaan yang mendukungnya.


Sistem hanya dapat dihentikan dengan sistem juga. Jadi butuh boikot sistem untuk menghentikan gerakan eLGBT yang semakin mewabah. 
Sistem apa yang dapat melawan sistem mungkar? Sistem yang mungkar/salah tentu hanya dapat dilawan dengan sistem sohih yaitu Islam. Karena Islam bukan sekedar agama, tapi merupakan sebuah ideologi sebuah sistem yang aturannya berasal langsung dari sang Pencipta melalui Firman-Nya yaitu Al-Qur’an.
  

Bagi umat Muslim, isu eLGBT selalu tergambar perilaku kaum Nabi Luth AS yang dikenal sebagai penyuka sesama jenis (homoseksual). Hal ini disampaikan di beberapa ayat Al-Qur’an:
“Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, kamu benar-benar kaum yang melampaui batas” (Q.S. al-A’raf [7]: 81).


“Dan kepada Luth, Kami telah berikan hikmah dan ilmu, dan telah Kami selamatkan dia dari (azab yang telah menimpa penduduk) kota yang mengerjakan perbuatan-perbuatan keji. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat lagi fasik,” (Q.S. al-Anbiya’ [21]: 74).


Tafsir dari kata keji di sini maksudnya adalah perbuatan homoseksual dan menyamun yang dilakukan secara terang-terangan.
Dalam hal ini, eLGBT tak terpisahkan dengan perbuatan yang melanggar fitrah manusia. Kelompok ini lekat dengan perbuatan zina, Liwath (Gay), Sihaq (Lesbi), dan transgender. Islam memiliki hukuman yang tegas dari semua perbuatan yang melanggar syariah tersebut. Berikut sedikit penjelasan dalam Islam:

Zina merupakan hubungan asusila antara laki-laki dengan wanita yang bukan pasangan suami-istri sah. Bagi pelaku zina yang belum menikah, hukumannya adalah dipukul (dera) sebanyak 100 kali, tanpa perlu dikasihani (Q.S. al-Nur [24]: 2). Bagi pelaku zina yang sudah menikah, hukumannya adalah dihukum mati dengan cara dirajam atau dilempari batu dan sejenisnya.


Liwath (Gay) yaitu hubungan homoseksual antara laki-laki dengan laki-laki. Perbuatan ini  jauh lebih buruk dibandingkan zina. Salah satu alasannya adalah Allah SWT menimpakan azab kepada kaum Nabi Luth AS, dengan azab yang tidak pernah ditimpakan kepada siapapun sebelumnya.
“Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.” (Q.S. Hud [11]: 82).


Menurut Imam Syafi’i, hukuman bagi pelaku Liwath (gay) disamakan dengan hukuman pezina, yaitu apabila berstatus telah menikah, maka dihukum mati. Apabila berstatus belum menikah, maka dipukul sebanyak (dera) 100 kali tanpa belas kasih.
Pendapat berbeda dikemukakan oleh Imam Hanafi yang menilai bahwa pelaku gay (liwath) adalah dita’zir. Ta’zir berarti hukuman yang didasarkan pada kebijakan hakim yang berwenang. Dalam kasus ini, hukuman ta’zir tidak boleh berupa hukuman mati.
    

Sihaq (Lesbi) merupakan hubungan homoseksual antara wanita dengan wanita. Rasulullah SAW pernah bersabda: “Perilaku lesbi antar kaum wanita adalah perzinahan” (H.R. al-Thabarani). Hukuman pelaku lesbi (sihaq) adalah dita’zir sesuai dengan kebijakan hakim yang berwenang.


Ada dua penjelasan Fikih terkait Transgender. Pertama, jika Transgender dalam pengertian laki-laki yang berperilaku seperti wanita (waria) atau sebaliknya, maka hukumnya diharamkan, berdasarkan Hadist yang melarang laki-laki berpenampilan seperti wanita atau sebaliknya. Kedua, jika Transgender dikaitkan dengan operasi mengubah kelamin, dari laki-laki menjadi wanita atau sebaliknya, maka hukumnya juga diharamkan, karena tergolong tabdil atau mengubah ciptaan Allah SWT.


Dari pemaparan di atas, bisa kita tarik kesimpulan bahwa eLGBT merupakan perilaku keji yang dilarang dalam ajaran Islam. Selain menimbulkan berbagai macam dampak buruk bagi pelaku, juga berdampak pada masyarakat umum lainnya. Hukuman bagi pelakunya juga sangat berat karena perbuatan tersebut termasuk dosa besar. 

Jadi, jangan pernah dukung  eLGBT, bahkan harus kita upayakan untuk menghentikannya. Memahamkan kepada masyarakat tentang eLGBT yang tidak sesuai syariat Islam merupakan salah satu upaya untuk menghentikan perkembangannya. Lakukan boikot sistem dengan penerapan sistem Islam secara kaffah untuk menghentikan penyebaran penyakit masyarakat ini. Karena hanya Islam sistem sohih yang dapat melawan sistem mungkar.

Wallahu a’lam bi al-Shawab.[]

Oleh. R. Raraswati
Freelance Author, Muslimah Peduli Generasi

Posting Komentar

0 Komentar