TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Pandemi Butuh Khilafah, Bukan Demokrasi


Ada yang gusar bin nyinyir terhadap suara-suara yang menjadikan Islam sebagai solusi pandemi covid19 yang melanda. Bahkan pihak yang tak suka Islam, menyebut solusi tegaknya Khilafah atas ketidakmampuan sistem demokrasi menangani pandemi covid19, sebagai perusak negeri dan ancaman yang harus dibasmi. 

Padahal siapa pun tidak bisa mengingkari  bahwa dunia internasional saat ini bingung dan nyaris putus asa dalam mengahadapi makhluk mungil, virus covid19 ini.

Bukannya wabah mereda, malah dampak ikutan dari bencana pandemi semakin menghantui penduduk bumi. Akibat pandemi yang tak kunjung pergi setelah enam bulan ini, berbagai krisis mulai terjadi, krisis ekonomi global pun menanti. 

Dilansir dari kontan.co.id, Presiden Asian Development Bank (ADB) Masatsugu Asakawa, menilai  pandemi corona sangat mungkin menimbulkan gelombang kedua dan ketiga yang kemudian akan berdampak pada kemerosotan ekonomi yang lebih dalam lagi. Saat ini saja, berbagai negara sudah dihadapkan pada tantangan besar akibat pandemi yang berdampak pada masyarakat dan dunia usaha.

Bahkan Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) merilis proyeksi terbarunya bahwa Ekonomi global akan terjun ke dalam resesi terburuk dalam satu abad. OECD memperkirakan ekonomi global akan berkontraksi alias minus 6% tahun ini sebelum rebound pada tahun 2021. OECD mengingatkan bahwa gelombang kedua wabah infeksi virus corona akan menyebabkan  lebih banyak gangguan dan bekas luka ekonomi.(11/6/2020).

Di negeri ini pun kondisinya tak jauh berbeda meresahkan. Pandemi covid19 bukan saja berdampak pada aspek kesehatan masyarakat tetapi juga membuat kondisi perekonomian rakyat kian terpuruk. Belum lagi penanganan wabah yang amatiran dari rezim yang berkuasa, membuat rakyat semakin menderita. 

Alih-alih rezim mengerahkan segenap upaya dengan kebijakan efektif  menangani wabah, yang ada rakyat dirayu berdamai dengan corona untuk new normal life demi kepentingan ekonomi para pemilik modal. 

Nyawa rakyat pun  tak dihiraukan. Rezim bukannya menghimpun segala kemampuan para ahli dan akademisi untuk merumuskan dan menemukan vaksin demi mencegah  penularan covid19, malah membayar mahal para buzzer untuk menutupi kegagalan rezim demokrasi menangani pandemi. 

Namun anehnya, ketika rakyat mulai jengah dengan kebijakan rezim yang bikin kondisi negari tambah parah. Rezim berikut kroni-kroninya  menebar fitnah pada Khilafah. Padahal Khilafah adalah ajaran Islam yang membawa rahmah bagi semesta. Mereka menolak mentah-mentah solusi yang ditawarkan Islam dengan dalih yang mengada-ada. 

Sejatinya hanya ada satu alasan mengapa rezim negeri ini menolak khilafah, mereka teramat takut bahwa  Khilafah akan meluluhlantakkan  kezaliman mereka selama ini dan  membongkar segala  persengkokolan mereka dengan para penjajah  yang telah membuat rakyat begitu menderita.

Sesungguhnya Islam adalah agama yang sempurna, karena berasal dari Zat Yang Maha Sempurna, yakni Allah SWT. Dengan hukum-hukumnya yang bersumber dari Al Qur'an dan As Sunnah, Islam akan selalu mampu memberikan solusi yang tepat dan benar bagi semua persoalan manusia. Begitupun persoalan pandemi. Islam memberikan solusi yang menyeluruh. Bukan hanya saat wabah telah melanda, juga akan memberikan edukasi kepada semua rakyat agar benar dalam menyikapi wabah, sebagai ketentuan dari Allah SWT. Sehingga rakyat akan bersikap sabar dan waspada. Sebagaimana firmanNya:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
"Sungguh akan Kami uji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan serta kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Karena itu gembirakanlah orang-orang yang sabar." (TQS al-Baqarah [2]: 155).

Saat pandemi benar-benar terjadi, rakyat dan negara pun siap menghadapi dengan sikap penuh tawakkal. Karena hukum-hukum Islam telah memberikan tuntunan yang jelas ketika pandemi terjadi. Negara Khilafah pun akan mengerahkan segala upaya untuk melindungi rakyat dari penyebaran  wabah yang semakin luas dengan menerapkan lockdown yang bertanggung jawab pada wilayah yang sudah terjangkiti  wabah. Serta  memberikan pelayanan yang terbaik kepada seluruh rakyat agar bisa melewati ujian pandemi ini dengan semakin taat pada Ilahi dan koreksi diri dari perbuatan keji. 

Oleh karenanya negara khilafah tak akan sejengkal pun meninggalkan taggung jawabnya kepada rakyat dalam menghadapi pandemi. Sebagaimana yang telah diingatkan oleh Rasulullah SAW dalam hadist:

فَالأَمِيرُ الَّذِى عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
"Pemimpin masyarakat adalah pengurus rakyat dan dia bertanggung  jawab atas rakyat yang dia urus." (HR Muslim). Wallahu'alam bisshawwab.[]

Oleh: Hafshah Damayanti, S.Pd
Pegiat Literasi Untuk Umat

Posting Komentar

1 Komentar

  1. saya sebenarnya tidak kontra dengan wacana khilafah. tapi melihat narasi ini saya paham ada keinginan yang besar di sebagian umat islam untuk kembali pada khilafah. namun bukan begini juga caranya. ini jatuhnya malah cocokologi. saya harap tidak terulang lagi narasi yang tidak bisa dibuktikan secara empiris seperti. agar wacana khilafah ini tidak menjadi bahan bullyan lagi. trims

    BalasHapus