TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Palestina Tetap di Hati, Meski Kaum Kufar Menghapusnya


Sebuah unggahan viral di sosmes baru-baru ini ketika Google Maps menunjukan bahwa tidak ada lagi Palestina didalamnya. Di lansir dari ANTARA, berita peta Palestina yang hilang dari peta dunia sebenarnya bukan hal yang baru, pada 10 Agustus 2016, situs daring theguardian.com merilis sebuah artikel berjudul "Google Maps accused of deleting Palestine - but the truth is more complicated" (Google Maps dituduh menghapus Palestina - tetapi kenyataanya lebih rumit). 

Dalam artikel tersebut disebutkan Palestina tidak dihapus dari peta Google, melainkan Google tidak pernah memasukkan Palestina ke dalam peta dunia dalam layanan manapun milik Google. Seorang juru bicara Google, dalam laporan The Guardian itu, mengatakan "Tidak pernah ada label 'Palestina' di Google Maps, namun kami menemukan bug yang menghapus label untuk 'Tepi Barat' dan 'Jalur Gaza'. Kami bekerja dengan cepat untuk memasang label itu kembali ke peta".

Palestina negeri yang diberkahi menjadi perebutan antara kaum muslimin dan kafir sepanjang masa. Palestina merupakan kiblat pertama bagi kaum muslimin sebelum kemudian Rasul meminta untuk mengubah arah kiblat kaum muslimin ke ka’bah. Palestina yang tak pernah merdeka, palestina yang selalu tertumpah darahnya. Palestina yang selalu diabaikan oleh mereka yang katanya lebih hebat atas kuasanya. 

Namun dunia bungkam seribu suara ketika kaum muslimin mati dibunuh, diperkosa wanitanya. Dan palestina yang sangat ditakuti oleh kaum kafir karena seorang bayi pun akan mengambil batu melempari mereka. Senjata mereka hanya batu namun mampu menggentarkan para serdadu, sehingga mereka tak segan untuk membunuh yang tak berdosa dan memenjarakan mereka. Palestina yang sangat menganggumkan, tanah yang sangat dirindui kebebasannya agar segera kembali ke pangkuan kaum muslimin.

Palestina awalnya menerima kaum yahudi dengan sangat baik, karena iman mereka yang mengajarkan untuk saling mengasihi sesama manusia. Melihat ketidakberdayaan kaum yahudi yang terusir masa itu, tanpa alas kaki dan baju seutuhnya. Kaum muslimin menerima kedatangan mereka dengan suka cita, namun malah sebaliknya saat itu mereka bermimpi untuk memilikinya. Mereka bekerja keras untuk bisa membeli tanah palestina dari khalifahnya kaum muslimin. Mereka sangat cerdas, dan mereka membuat banyak hal agar bisa mengendalikan ekonomi dunia seperti saat ini.

Menurut kaum yahudi Palestina adalah negeri yang dijanjikan bagi mereka, namun hal itu dibantah oleh seorang khalifah bernama Sultan Abdul Hamid Khan ketika Theodore Hertzl meminta sepetak tanah kaum muslimin di palestina untuk mereka tempati sebagai perkampungan asalnya.

“Mungkin memang benar tanah palestina adalah tanah yang dijanjikan bagi kaum yahudi, karena itu dulu Allah memerintahkan kaum yahudi untuk berjihad menaklukkan tanah itu bersama-sama dengan nabi Musa, tidakah anda ingat apa yang dikatakan kaum yahudi pana nabi musa atas perintah itu?” Dr. Hertzl menggeleng.

“Kaum yahudi berkata, wahai Musa, pergilah engkau berperang dengan Tuhanmu melawan kaum itu, sementara kami duduk-duduk saja disini”. 

Inilah bukti pembangkangannya sendiri terhadap Tuhan dan Utusan-Nya. Dengan kata lain kaum yahudi sendiri yang menolak tanah Palestina karena pembangkangan mereka. Dan ini adalah percakapan yang sangat membekas dihati kaum muslimin dan kaum yahudi tentunya. Dimana ketegasan seorang Khalifah yang dijuluki Sultan Merah mampu menggentarkan musuh-musuhnya di akhir keruntuhan daulah.

“Palestina bukan miliku, tapi milik kaum muslimin. Para mujahidin telah membebaskannya dengan menyiramkan darah mereka di setiap butiran pasirnya. Sampai kapan pun, aku tidak pernah melepaskan tanah palestina dari tubuh Khilafah Islamiyah. Jika nanti ia runtuh, silahkan kalian mengambil tanah itu tanpa membayar sepeser pun. Tapi, selama aku masih hidup, lebih baik aku menerima tusukan pedang di tubuhku, dari pada membiarkan pemisahan itu terjadi”

Maka mereka pun merealisasikan penjajahan atas tanah Palestina setelah kehancuran Daulah Khilafah Utsmaniyah. Mereka caplok secara paksa, mungkin penghapusan peta dunia hanyalah hal yang sudah bisa diprediksi setiap kaum muslim. Konon lagi yang mengendalikan dunia saat ini adalah negara saat ini adalah Amerika. Yang dimana Trump merealisasikan hal itu dengan menetapkan Palestina sebagai Israel. Pada saat itu kita hanya mampu menangis, tak mampu melakukan apapun selain mengutuk mereka.

Tapi tanyakanlah kepada anak-anak palestina, bahwa mereka mengatakan Palestina adalah negeri kaum muslimin, tidak akan pernah menjadi milik Israel meski mereka semua mati, namun mereka akan tetap berdiri mempertahankan Palestina sembari menunggu bantuan dari kaum muslimin datang dengan kemenangan yang Allah janjikan kepada mereka. Keyakinan teguh itulah membuat kaum muslimin murka, namun kita tak bisa berbuat apapun selain terus berjuang agar kembali tegak khilafah rasyidah kedua yang telah dijanjikan.

Saat ini kita tak lagi bisa duduk diam menyaksikan hal-hal yang tidak kita inginkan terus-menerus terjadi pada kaum muslimin. Sungguh Palestina bukti nyata penjajahan yang tak pernah ada akhirnya, bukan hanya palestina, rohingya, uigur, Kashmir dan tragedi bosnia menjadi pelajaran bagi kita bahwa  tanpa Khilafah sebagai pelindung umat kita akan terus diperangi, dirampok, diperkosa hingga marwah kita sebagai muslim hancur, dan dinobatkan sebagai teroris padahal itulah wajah asli mereka saat ini. 

Cukuplah Kemarahannya kita, tangisan kita, doa kita saat ini tanpa begerak dan dan diam membisu hanya melihatnya. Tidak, saatnya bangkit, bergerak dan merubah keadaan menjadi sebuah titik balik dari pengembalian syariat Islam yang kaffah agar kemudian lantang bersuara bahwa tegaknya khilafah adalah kebutuhan yang sangat mendesak bagi kaum muslimin. Wallahu’alam.[]

Oleh : Meutia Teuku Syahnoordin, S.Kom
Aktivis Muslimah Peradaban Aceh

Posting Komentar

0 Komentar