TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

OTG Milenial, yang Muda yang Berbahaya?



Kasus positif virus Covid-19 di Indonesia menjadi 83.130 orang dan kasus suspek total 46.493 pasien per 17 juli 2020. Berdasarkan data pemerintah pusat, baik tes real time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) maupun Tes Cepat Molekuler (TCM).

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan mengatakan bahwa, 66 persen dari kasus positif Covid-19 baru di Ibu Kota merupakan orang tanpa gejala atau OTG (Tempo.co.12/7)

Lonjakan kasus corona ini menjadi hal yang perlu diwaspadai karena hingga saat ini, sebaran penambahan kasus baru masih banyak terjadi di sejumlah daerah diantaranya seperti yang terjadi di Jawa Timur tercatat secara nasional sebagai daerah dengan kasus terbanyak.

Sebagian besar kasus pasien positif virus corona (Covid-19) yang baru ditemukan kebanyakan berstatus sebagai orang tanpa gejala (OTG).

Hingga saat ini para ahli masih meneliti mengenai obat dan penyebarannya terlepas dari faktor resiko virus yang tergantung kepada daya tahan tubuh manusia. Dalam keadaan demikian maka penyebaran virus ini sangat rentan terhadap orang usia lanjut. 

Namun bukan berarti yang usia muda tidak bisa terinfeksi, bahkan saat ini angka terjangkitnya kaum muda diketahui cukup tinggi, dan kebanyakan tanpa menimbulkan gejala klinis, sehingga hanya menjalankan isolasi mandiri tanpa perawatan di rumah sakit. Namun jika abai hal ini sangat beresiko membuat kaum milenial tersebut dapat menjadi agen penyebar virus (Carrier).

PSBB transisi secara proposional yang diterapkan saat ini menjadi salah satu pendorong yang menyebabkan keadaan tersebut. Faktor pemikiran sebagian masyarakat terutama kalangan usia muda yang berasumsi bahwa PSBB transisi di era new normal yang di tetapkan pemerintah diartikan sebagai "bebas beraktifitas". Sehingga tak jarang kita temukan kaum muda yang kumpul-kumpul, di cafe dan sebagian area sudah terlihat ramai sebagai ajang tempat nongkrong.

Bahkan tak jarang masyarakat yang meremehkan dan sama sekali tidak mempercayai adanya sebaran virus, sehingga sangat di sesalkan adanya pemikiran tersebut. Menimbulkan tanda tanya apakah harus banyak korban dan bukti paparannya terlebih dahulu, baru percaya bahwa virus itu nyata adanya.
 
Kebijakan pemerintah yang melakukan pengereman PSBB secara mendadak menyebabkan kasus terus melonjak. PSBB yang di buat pemerintah terkesan inkonsisten sehingga terlambat diadakan dan terburu-buru ditiadakan. Jika saja sejak awal pemerintah jelas dan tegas mengeluarkan kebijakan yang lugas. Maka tak akan membuat masyarakat bingung dan was-was.

Harusnya kita menyadari semua hal yang terjadi merupakan peringatan dari Allah agar kita merenung dan menyadari. Bahwa Islam seringkali di tinggalkan dalam penyelesaian masalah. Padahal hakikatnya Islam adalah solusi.

Seperti halnya melihat situasi saat ini pembatasan keluar rumah dan meniadakan aktifitas yang melibatkan publik secara besar, adalah salah satu cara efektif mencegah penyebaran virus. 

Edukasi kepada masyarakat bahwa hal itu semata-mata dilakukan bukan tanpa alasan melainkan sebab ketundukan kita kepada Allah karena virus itu memang membahayakan dan secara sunatullah kita diperintahkan untuk menghindarinya. Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda:

"Jauhilah penyakit kusta sebagaimana engkau lari dari kejaran singa" (HR.Ahmad)

Upaya menghindarnya kita terhadap virus ini tidak berarti membuat kita takut secara berlebihan namun sebaliknya kita juga tidak boleh meremehkan dan menganggap enteng.

Maka peran serta masyarakat terutama kaum muda dalam pemikiran disiplin menjalankan protokol kesehatan guna meningkatkan kebersihan dan kewaspadaan terhadap penularan serta berupaya dalam penanggulangan dengan menyebarkan informasi yang benar dan bermanfaat.

Sehingga semua hal yang kita lakukan ketika wabah ini melanda, semata-mata adalah wujud ketundukan kita kepada Syariah karena Rasulullah ﷺ bersikap yang sama ketika dihadapkan dengan wabah, dan itu juga  adalah bagian dari upaya dan ikhtiar, yang kita lakukan tanpa mengurangi sedikit pun keyakinan tentang qadha dan qadar Allah Swt. Juga keyakinan tidak ada satu pun yang menimpa di bumi ini kecuali dengan seizin-Nya. Firman Allah yang artinya:

"Tidak ada sesuatu musibah yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah"
(QS al-Taghabun [64]: 11)

Kebijakan disiplin juga seharusnya di terapkan oleh pejabat yang notabene mewakili pemerintah sebagai contoh bagi masyarakat. Saling  koordinasi dengan lembaga terkait dan melibatkan pertimbangan para ahli dibidangnya sesuai zona keamanan di masing-masing wilayah agar tidak terjadi kebijakan yang berubah-ubah atau tumpang tindih sehingga membuat masyarakat bingung.

Pemerintah hendaknya bersinergi dengan tenaga ahli dan masyarakat, tidak abai dan melakukan upaya ketat dalam memisahkan pembawa virus dengan yang sudah sehat. Upaya learning by doing dalam  melihat dan mempelajari pengalaman negara tetangga atau wilayah yang berhasil dalam meredam perluasan virus bisa dijadikan sebagai solusi percontohan.

Dengan sifat covid-19 yang cepat menular, maka situasi saat ini seperti berperang menghadapi musuh yang tak terlihat membahayakan, bisa saja tetangga, keluarga, anak, suami, istri dan orang tua kita. Maka limited movement. Membatasi pergerakan manusia harus dilakukan sebagai antisipasi berbagai dampak yang lebih luas.

Setelah semua usaha kita upayakan maka pada akhirnya, kita hanya memohon kepada Allah Swt agar kita semua dilindungi dari wabah ini dan segala marabahaya. Wallahu'alam.[]


Oleh: Sri Suarni A.Md
Aktivis Revowriter Indonesia

Posting Komentar

0 Komentar