TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

OTG Milenial dan Penanganannya dalam Islam



Kasus COVID-19 di Indonesia kian marak. Ditambah lagi dengan adanya status OTG (Orang Tanpa Gejala) berpeluang menjadi pembawa virus COVID-19. Jika tidak ditangani dengan tepat, OTG ini bisa menularkan virusnya kepada yang lain tanpa disadari. Walhasil, pemutusan rantai virus COVID-19 akan sulit. Sebagaimana dilansir dari CNNIndonesia.com, Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19, Achmad Yurianto menyatakan sebagian besar kasus pasien positif virus corona (COVID-19) yang baru ditemukan hari ini kebanyakan berstatus sebagai Orang Tanpa Gejala (OTG).

"Secara keseluruhan sebagian kasus baru yg kita dapatkan pada hari ini adalah kasus baru yang tidak ada indikasi untuk dirawat di rumah sakit," kata Yurianto dalam konferensi persnya di kantor BNPB, Jakarta, Minggu (12/7). (CNNIndonesia.com, 12/07/2020).

OTG tidak hanya dari kalangan orang tua. Namun, juga dari kalangan milenial. Bahkan kebanyakan anak muda yang terpapar virus COVID-19 adalah OTG. Sebagaimana dilansir dari VIVA.com (04/07/20) Anggota Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Budi Santoso menyatakan, "Bagi kaum muda, COVID-19 kebanyakan tidak ada gejala atau tidak ada gejala klasik yang sering kita sebut sebagai orang tanpa gejala," kata dia saat jumpa pers secara daring di akun YouTube BNPB Indonesia, Rabu (6/5). 

Berbagai upaya telah dilakukan untuk memutus rantai penyebaran virus COVID-19. Namun, upaya tersebut nyatanya sampai sekarang terbukti belum efektif. Ditambah dengan adanya kebijakan pemerintah untuk newnormal dan adanya pelonggaran PSBB tentu akan menjadi ancaman Indonesia kedepannya. Yakni Indonesia akan menghadapi ledakan COVID-19 gelombang kedua. Tentu hal ini perlu perhatian khusus mengingat grafik kurva COVID-19 yang terus meningkat sedangkan tenaga medis dan alat-alat pengobatan di Indonesia belum memadai.

Terkait penyebaran virus COVID-19, World Health Organization (WHO) telah menerbitkan ringkasan ilmiah Transmisi SARS-Cov-2 sejak tanggal 29 Maret 2020. Isinya mengenai penyebaran COVID-19 melalui udara dan berikut pola pencegahannya. Selain itu, 239 ilmuwan dari berbagai negara sebelumnya juga telah melakukan riset mengenai penyebaran virus covid-19 ini. 

Mereka mendapati bahwa virus dapat menular melalui udara. Hal tersebut berdasarkan riset mereka yang bertajuk: It is Time to Address Airborne Transmission of COVID-19. Penemuan-penemuan baru terkait sebaran virus Covid-19 ini seharusnya diiringi tindakan nyata pemerintah untuk memastikan putusnya rantai penularan. Mengingat bahwa ada peluang sebaran virus Covid-19 lewat udara (airborne). 

Namun, tampaknya tidak ada kebijakan antisipasi terhadap penyebaran virus ini terutama bagi pekerja kantoran, pegawai BUMN bahkan PNS. Semua rekomendasi yang diberikan hanya berpulang pada kesadaran dan kehati-hatian individu saja. Padahal sudah menjadi kewajiban pemerintah untuk segera mengambil langkah tepat untuk pemutusan rantai COVID-19. Pemerintah tidak boleh menganggap sepele kasus OTG tersebut karena alasan tidak membebani Rumah Sakit. Sebab, OTG terutama dari kalangan milenial di era pelonggaran bisa menjadi sumber ledakan besar. 

Sebenarnya jika kita telisik masalah kasus COVID-19 yang tak kunjung usai ini. Penyebabnya hanya satu yaitu pemberlakuan sistem kapitalis-sekuler di negeri ini. Akibatnya, penanganan virus covid-19 kerap menjadi ajang komoditi dan korupsi. Walhasil, rakyatlah yang menjadi korban.

Berbeda dengan sistem Islam dengan asasnya yang cemerlang yakni akidah Islam. Ketika terjadi wabah atau virus di suatu negeri, maka negara bertanggung jawab penuh dalam penanganannya. Khalifah memberlakukan  lockdown untuk daerah yang terpapar virus. Sedangkan daerah yang belum terpapar, maka tetap berjalan normal. 

Daerah yang terlockdown, benar-benar diurusi segala keperluannya. Terkhusus pangan serta perlengkapan alat-alat medis dan tenaga kinerjanya. Sehingga para tenaga medis tidak menjadi korban paparan virus selanjutnya. Kebersihan juga sangat dijaga. Sedangkan pasien akan dilayani dengan perhatian penuh sampai mereka sembuh termasuk OTG sekalipun. Inilah yang akan dilakukan di dalam sistem Islam oleh khalifah  dalam upaya pemutusan rantai wabah termasuk COVID-19. 

Semua ini berdasarkan sabda Nabi Muhammad Saw, "Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu." (HR Bukhari).

Masyarakat dan negara dalam naungan khilafah akan bersatu melawan wabah. Khalifah juga akan menghimbau rakyatnya  agar bermuhasabah diri serta semakin mendekatkan diri kepada Allah Swt. Memperbanyak taubat serta ibadah. Sebab, wabah yang melanda suatu negeri merupakan teguran Allah Swt. untuk umat manusia agar sadar dan kembali ke jalan yang benar. Wallahu a'lam bish-shawab.

Oleh: Nadia Ayuni
Aktivis Dakwah Komunitas Remaja Peduli Negeri

Posting Komentar

0 Komentar