TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

New Normal atau New Problem


New Normal, kebijakan ini hingga saat ini masih menjadi perbincangan panas yang menuai banyak pro kontra selama kebijakan ini keluar. Dimana berbagai pihak, baik pihak medis maupun dari kalangan masyarakat yang sebenarnya cemas apabila menerapkan kebijakan New Normal ini. Karena melihat kondisi di negeri ini yang belum mengalami penurunan jumlah korban positif Covid-19. 

Bahkan sebaliknya, berdasarkan laporan terkini jumlah korban setiap harinya terus bertambah dan kurva menunjukkan peningkatan yang luar biasa. Bagaimanpun juga kebijakan New Normal ini belum tepat jika diterapkan di Indonesia. 

Karena berdasarkan WHO, new normal bisa diterapkan jika memenuhi berbagai syarat. Salah satunya yakni turunnya angka persebaran hingga mencapai titik nol. Sehingga jelas, bahwa mustahil untuk diterapkan dalam kehidupan yang benar-benar masih darurat. 

Namun meskipun fakta dilapangan telah ditunjukkan belum siap untuk menuju New Normal, beberapa kota ataupun wilayah telah menerapkan kebijakan seingga masyarakat  menjalaninya kehidupan layaknya normal kembali. Hal ini tentu berakibat banyaknya masalah yang muncul karena sejatinya penyebaran virus Covid-19 ini masih berlangsung. Karena tidak ada yang menjamin keadaan akan aman ketika masyarakat menjalani keidupan berdampingan dengan virus tersebut. 

New Normal ini jumlah korban positif semakin meningkat mencapai rekor yang dahsyat. Ditambah lagi dengan adanya Rapid tes yang saat ini banyak dilakukan masyarakat untuk mengecek atau memastikan apakah positif Covid-19.

Hal ini tidak menjadi solusi malah berakibat cepatnya pentebaran virus dari satu orang ke orang lain karena keadaan yang kerumunan yang memicu peluang tersebarnya virus dengan cepat. 

Dalam warta berita CNN Indonesia 22/6, disebutkan bahwa kasus positif corona (Covid-19) hingga Minggu (21/6) mencapai 45.891 kasus. Dari jumlah itu, 18.404 orang dinyatakan sembuh dan 2.465 orang lainnya meninggal dunia. Jumlah kumulatif kasus virus corona sudah tembus 40 ribu dalam kurun waktu tiga bulan sejak kasus pertama diumumkan 2 Maret 2020. Terhitung dari 1 Juni sampai 18 Juni lalu, jumlah positif corona bertambah 13.927 kasus.

Dalam berita lain juga disampaikan bahwa penambahan angka kasusu positif disebabkan pelacakan yang dilakukan secara agresif. Juru bicara Pemerinta untuk penanganan Covid-19 Ahmad Yurianto menyebut masih tingginya kasus baru Covid-29 karena pelacakan yang dilakukan secara agresif. 

“Penambahan ini sangat signifikan di beberapa daerah karena kontak tracing dari kasu konfirmasi positif yang kami rawat lebi agresif dilaksanakan di dinas keseatan di daerah” kata Yurianto dalam keterangannya di Graha BNPB, Jakarta, Sabtu Sore (20/06)

Hal ini jelas menunjukkan bahwa pemerintah kurang tepat dalam mengambil beberapa kebijakan seperti akan memberlakukan New Normal. Karena ketika pemerintah mengambil langkah yang tepat dan mempertimbangkan setiap kebijakan yang diberlakukan. Maka hal seperti demikian akan segera terselesaikan. 

Didukung dengan peliknya sistem ekonomi yang begitu tercekik maka jelas prioritasnya adalah keselamatan ekonominya bukan keselamatan rakyatnya. Hal ini menunjukkan betapa kejamnya sistem kapitalis-sekulerisme yang mementingkan nilai materi daripada melindungi rakyatnya yang merupakan kewajiban utamanya. 

Seperti dalam islam, maka pemerintahan atau penguasa bertugas sebagai pengurus urusan rakyat. Sehingga semua urusan ada pada pundak penguasa. Dengan menjamin semua hajat hidup rakyatnya  keamanan, kesehatan, pendidikan dan menyelesaikan segala permasalahan dengan solusi yang tepat tanpa mempertimbangkan keuntungan atau kerugian baginya. Hal ini bisa diwujudkan ketika dinaungi dalam sebuah sistem yang shahih, yakni sistem Khilafah Islamiyyah yang menjamin semua Umat dan rakyat dapat berlindung dengan tenang, aman, dan tentram dibawah naungannya. 
Wallahu a’lam bis showab.[]

Oleh : Elvira Masitho R. Agustin

Posting Komentar

0 Komentar