Nasionalisme Terlalu Ringkih, Pandemi Global Butuh Solusi Sistemis



“Nasionalisme adalah penyakit yang kekanak-kanakan. Itu adalah penyakit campak dari ras manusia (Albert Einstein)”

Tak bisa dibantah, hingga detik ini dunia mengalami kalut menghadapi Covid-19. Tak kenal ras semua dilibas. Tak ada bangsa superior yang bebas dari terror. Tidak ada satupun Negara adikuasa yang kuasa menahan laju corona. Makhluk yang tak terlihat itu dengan mudah melintas benua menyeberang samudera, memakan korban dimana saja. Menerabas gunung yang tinggi menghantui setiap negeri. 

Hingga detik ini, belum ada tanda-tanda wabah akan berhenti. Sudah lebih dari 200 negara yang terinfeksi. Jumlah ini melebihi Negara yang menjadi anggota PBB sebanyak 193 negara. Total korban terinfeksi sudah mencapai sekitar 11 juta dengan lebih dari 600.000 meninggal dunia.

Beberapa waktu lalu Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), meminta negara-negara yang dilanda pandemi virus Corona (COVID-19) serius menghentikan penyebaran virus. WHO mendesak negara yang diterpa Corona untuk 'bangun' dan melihat kenyataan di lapangan. 

Sebelumnya, pakar kesehatan diluruh dunia sepakat untuk karantina wilayah hingga lockdown. Tidak ada pelonggaran hingga virus mereda atau minimal kurva penularan melandai. Sebagaimana dinyatakan oleh dokter ahli penyakit menular, Anthony S Fauci: “Anda harus realistis dan mengerti, bahwa bukan Anda yang membuat timeline, viruslah yang membuat timeline”. Hal ini untuk merespon kebijakan pelonggaran karantina wilayah.

Kenyataannya, para kepala Negara dunia mengabaikan seruan pakar kesehatan dunia dan WHO. Karena disamping pertimbangan pemulihan ekonomi. Ada faktor nasionalisme. Dibawah kungkungan nasionalisme masing-masing Negara merasa bahwa seruan tersebut tidak relevan dengan negaranya. 

Masing-masing Negara mengira mereka memiliki gen special yang super, daya tahan tubuh yang lebih unggul, dan kekuatan yang lebih baik dibanding Negara lain. Meski sudah jatuh banyak korban, tidak kunjung juga membuka mata mereka bahwa dihadapan corona semua gen/ras manusia sama saja. 

Negara yang terbukti manjur menerapkan lockdown adalah New Zealand dan Vietnam. Ternyata keberhasilan dua Negara tersebut tidak diadopsi oleh para kepala Negara dunia. Para kepala Negara terlalu sibuk memikirkan dampak turunan, yakni ekonomi. Sedangkan sumber masalahnya yakni Covid belum dituntaskan. 

Keberhasilan new Zealand dan Vietnam tidak ada artinya, ditengah kepungan Negara yang mewabah. Satu dua Negara yang sudah berhasil akan kembali disambar wabah jika dikelilingi oleh Negara-negara hotspot Covid. Sehingga besar kemungkinan Negara yang sudah “sembuh” akan kembali “sakit” sebab adanya kebijakan pelonggaran pergerakan manusia. 

Di China misalnya, setelah beberapa waktu dinyatakan tidak ada lagi tambahan kasus, belakangan muncul kembali kasus baru di Beijing dan Shanghai. Pada akhirnya tidak ada yang dapat memprediksi secara pasti pendemik global kapan akan berakhir.
Disini terlihat bahwa konsep nasionalime terbukti sangat ringkih dihadapan pendemik global. Oleh karena itu, dibutuhkan solusi sistemik global terhadap pendemik global seperti Covid. Sebuah konsep yang tidak egosentris dengan territorial masing-masing. Solusi global tersebut adalah penerapan Islam secara kaffah.

Penerapan Islam secara kaffah akan mengeleminir sekat-sekat nasionalisme, yang sudah mengungkung Negara-negara dunia. Luas wilayah daulah Islam melewati benua-antar samudra tanpa sekat. Belum sampai masa 100 tahun setelah wafatnya baginda Nabi, hal ini sudah terealisir ditangan para sahabat. Sebuah kekuatan adidaya dunia nyaris tanpa pesaing dibawah supremasi Islam.

Dengan adanya satu kesatuan pemimpin politik global, menjadi mudah bagi kepala Negara dalam Islam (Khalifah), untuk melakukan karantina terhadap covid. Khalifah bukan hanya menyeru seperti yang WHO lakukan. Namun secara langsung memberikan instruksi kepada gubernur untuk mengambil langkah-langkah detail penanganan Covid. 
Dengan bekal keimanan dan ketaatan kepada pemimpin, para gubernur di wilayah Islam menjalankan instruksi hingga wabah bisa diatasi dan nyawa manusia berhasil diselamatkan. Satu kesatuan kepemimpinan global inilah yang saat ini hilang dari kaum muslim. Namun, pasti akan kembali! Sebab, janjinya Nabi, menyelisihinya laksana menyelisihi kemunculan mentari pagi.[]

Oleh Dr. Erwin Permana

Posting Komentar

0 Komentar