TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Moderasi Agama: Upaya Menutupi Ajaran Islam?



Setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk pendidikan anak-anaknya terutama untuk pendidikan agamanya. Sedini mungkin pelajaran agama harus sudah ditanamkan kepada mereka, agar kelak menjadi generasi penerus peradaban Islam yang gemilang.

Sangat disayangkan ketika Kemenag mengambil keputusan menjadikan moderasi agama untuk para siswa madrasah. Moderasi agama hanya menjadikan para siswanya tidak memahami Islam yang sesungguhnya.

Moderasi beragama merupakan bagian dari deradikalisasi yang menjauhkan umat dari Islam, dengan menempelkan umat pada Islam moderat akan mengaburkan pemahaman umat tentang Islam yang utuh sehingga terjadi sekularisasi ajaran Islam. Memberikan kebebasan kepada siapapun dalam beragama.

Seperti yang dilansir dari TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Senin, 13 Juli 2020. Menteri Agama Fachrul Razi meminta jajaran Kementerian Agama untuk tidak ragu berbicara tentang moderasi beragama. Fachrul mengungkapkan moderasi beragama telah menjadi bagian dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024.

"Saya ingin menggarisbawahi, kita tidak boleh pernah ragu sedikitpun, untuk berbicara soal moderasi beragama. Dan itu sudah masuk dalam RPJMN," ujar Fachrul melalui keterangan tertulis, Senin (13/7/2020).

Meski begitu, Fachrul mengakui mewujudkan moderasi beragama bukanlah hal yang mudah di tengah masyarakat Indonesia.Menurutnya, banyak tantangan dari kelompok tertentu dalam mewujudkan moderasi beragama.

Ini (moderasi beragama) pun, menghadapi banyak hantaman dari kelompok-kelompok tertentu, yang kita tahu motifnya apa itu," kata Fachrul.

Fachrul meminta jajarannya untuk konsisten dalam mewujudkan moderasi beragama.

"Tapi kita tidak usah terpengaruh. Kita konsisten bicara moderasi beragama. Kita kan ingin menciptakan kondisi beragama yang betul-betul damai. Karena itu adalah kunci utama pembangunan di Indonesia," pungkas Fachrul.

Siapapun yang mengaku dirinya muslim sudah pasti sangat keberatan dengan keputusan Kemenag yang mengambil moderasi agama untuk para anak didik madrasah. Seharusnya mereka mendapatkan pendidikan agama yang seutuhnya dengan mempelajari islam secara sempurna, temasuk jihad dan khilafah.


Seperti dikutip dalam Tabloid Mediaumat Edisi 212, Ulama Nusantara, Syeikh Sulaiman Rasyid, dalam kitab fikih yang terbilang sederhana namun sangat terkenal berjudul Fiqih Islam, juga mencantumkan bab tentang kewajiban menegakkan khilafah. Bahkan bab tentang khilafah juga pernah menjadi salah satu materi di buku-buku madrasah (MA/MTs) di Tanah Air. 

Bukti Historis Khilafah

Bukti tak terbantahkan tentang adanya khilafah dalam sejarah kehidupan umat Islam telah diabadikan dalam kitab-kitab tarikh yang ditulis oleh para ulama terdahulu hingga ulama mutakhir. Sebut saja, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, karya at-Thabari [w. 310 H], al-Kamil fi at-Tarikh, karya Ibn Atsir [w. 606 H], al-Bidayah wa an-Nihayah, karya Ibn Katsir [w. 774 H], Tarikh Ibn Khaldun, karya Ibn Khaldun [w. 808 H], Tarikh al-Khulafa, karya Imam as-Suyuthi [w. 911H], at-Tarikh al-Islami, Mahmud Syakir.

Dalam rentang sejarah, selama 14 abad, tidak pernah umat Islam di seluruh dunia tidak mempunyai seorang khalifah, dan khilafah, kecuali setelah runtuhnya Khilafah pada 3 Maret 1924 M.

Dalam sepanjang sejarah khilafah, tidak ada satu pun hukum yang diterapkan, kecuali hukum Islam. Dalam seluruh aspek kehidupan, baik sistem pemerintahan, ekonomi, sosial, pendidikan, sanksi hukum dan politik luar negeri, semuanya merupakan sistem Islam.

Karena itu, menurut Syeikh Dr. Musthafa Hilmi, dalam tesis masternya di Universitas Alexandria, Mesir, Nadhariyyatu al-Imamah Inda Ahli as-Sunnah wa al-Jamaah [1387 H/1967 M], setelah memaparkan fakta negara Islam sejak zaman Nabi, Khilafah Rasyidah, Umayyah, Abbasiyah hingga Utsmaniyyah, akhirnya sampai pada kesimpulan:

Pertama, pemikiran Sunni menentang penghapusan khilafah. Karena itu, Ahlussunnah wal jamaah memegang teguh pendirian mereka, dengan cara yang sama sejak awal, membela dan mempertahankan Islam menghadapi berbagai gempuran yang berlangsung dalam rentang sejarah panjang umat Islam.

Kedua, khilafah yang menerapkan Islam tetap ada hingga runtuhnya Khilafah Utsmaniyah. Inilah yang menjadi alasan utama permusuhan Barat terhadap Khilafah Utsmaniyah, sebab selama ia masih ada, maka sistem Islam pun tetap ada. Dengan adanya sistem pemerintahan Islam ini, maka suatu saat bisa kembali menguasai dunia, sehingga Eropa pun takut sejarah kejayaan umat Islam akan kembali dalam naungan khilafah. Karena itu, hanya ada satu kata, menghilangkan khilafah, dan menghalangi tegaknya kembali. [Lihat, Dr. Musthafa Hilmi, Nidzam al-Khilafah fi al-Fikri al-Islami, hal. 457].

Melalui pendidikan yang tepat dan penuh dengan ketaatan pada syariat akan menghasilkan generasi-generasi hebat, seperti Muhammad Alfatih dalam usia yang sangat muda yaitu 21 tahun, beliau mendapatkan julukan Alfatih sang penahluk, karena sudah berhasil menaklukkan konstantinopel, lalu membentuk ulama muda seperti Imam Syafiie dan masih banyak yang lainnnya.

Sejatinya menuntut ilmu agama adalah sebuah kewajiban bagi seorang muslim yang harus ditunaikan.

Hadist Wajibnya Menuntut Ilmu:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
Latinnya: “Tholibul ilmi faridhotan a’la kulli muslimin

Artinya: Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim [HR. Ibnu Majah no. 224], dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu anhu, dishahihkan Al Albani dalam [Shahiih al-Jaamiish Shaghiir no. 3913]
 
Sistem demokrasi yang diusung oleh  orang kapitalis saat ini tidak perduli dengan baik atu tidaknya sebuah kebijakan yang diambil, yang ada dalam fikiran mereka adalah bagaimana cara mendapatkan sebesar besarnya keutungan walaupun kebijakan yang mereka buat tidak sesuai dengan tuntunan Alqur'an dan As-sunah.

Jika mengambil keputusan, seorang muslim sudah seharusnya mengembalikan setiap permasalahan kepada Allah dan Rasul-Nya.

“Dan jika kalian berselisih pendapat tentang satu masalah maka kembalikanlah kepada Allah dan kepada RasulNya jika kalian benar-benar beriman kepada Allah Subhanahu wa Taala dan hari akhir. Yang demikian itu adalah lebih baik dan akibatnya pun juga lebih baik. (QS. An-Nisa[4]: 59).

Ketika kita sudah bicara tentang syariat maka jangan sekali-kali kita mencoba untuk mengganti atau mencari jalan tengah untuk/  sebuah permasalahan dalam hidup, karena sejatinya akal manusia itu terbatas dan sebaik baik pemberi aturan hanyalah Allah SWT yang Maha adil kepada seluruh hamba-Nya. Wallahualam A'lam Bishawab.[]

Oleh Yuslinawati
Aktivis Muslimah Peduli Umat

Posting Komentar

0 Komentar