+
YUK JOIN di TINTA INTENS 4

Moderasi Agama: Gombalisasi Jauhkan Khilafah Ajaran Islam



Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi menyatakan pihaknya telah menghapus konten-konten terkait ajaran radikal dalam 155 buku pelajaran agama Islam.
Menurutnya, penghapusan konten radikal ini merupakan bagian dari program penguatan moderasi beragama yang dilakukan Kementerian Agama (Kemenag).

Fachrul menjelaskan ratusan judul buku yang direvisi berasal dari lima mata pelajaran, yakni Akidah Akhlak, Fiqih, Sejarah Kebudayaan Islam, Alquran dan Hadis, serta Bahasa Arab.

Dalam buku agama Islam hasil revisi itu masih terdapat materi soal khilafah dan nasionalisme. Meski demikian, buku itu akan memberi penjelasan bahwa khilafah tak lagi relevan di Indonesia.(cnnindonesia.com, 2/7/2020)

Keputusan Menteri Agama merombak materi khilafah merupakan bentuk penyesatan sistematis terhadap ajaran Islam sekaligus mengkonfirmasi islamophobia akut dalam tubuh rezim. 

Kebijakan ini menghasilkan kurikulum pendidikan sekuler anti Islam. Kurikulum yang seharusnya mengarahkan anak umat untuk memperjuangkan tegaknya Islam diganti dengan materi yang mendorong mereka mengganti Islam dengan sistem buatan manusia.

Sebagaimana dipahami bahwa khilafah adalah sistem pemerintahan yang diwariskan Rasulullah Saw. Sanad khilafah sampai ke Beliau, sedangkan sistem demokrasi kapitalis yang diterapkan di Indonesia saat ini adalah sistem buatan manusia, sanadnya dari bangsa Yunani yang ironisnya kini nyaris ambruk atau mengalami krisis parah akibat pandemi Corona.

Adapun pernyataan bahwa khilafah tidak relevan untuk zaman sekarang adalah salah besar. Sebab Islam termasuk khilafah adalah ajaran yang diturunkan Allah Swt. untuk seluruh umat manusia. Maka Islam cocok diterapkan di semua tempat dan zaman.

Program penguatan moderasi beragama juga seakan menggiring opini bahwa lawan dari radikal adalah moderat, seolah-olah radikal itu buruk dan karenanya menjadi muslim tidak boleh radikal. Kemudian ajaran-ajaran yang dipandang radikal harus disingkirkan. Padahal tuntutan moderasi dalam berislam tidaklah memiliki landasan filosofis, teologis dan ideologis.

Kebijakan Pendidikan Daulah Khilafah Islamiyah

Islam memerintahkan umatnya untuk berislam secara Kaffah. Islam dijalankan dalam seluruh aspek kehidupan dalam keluarga, masyarakat dan negara.

Pendidikan sekuler hari ini hanya melahirkan kurikulum sekuler yang menjauhkan umat Islam dari ajaran-ajaran Islam termasuk ajaran jihad dan khilafah. Padahal dua ajaran inilah yang menjadi kekuatan besar umat Islam, yang pernah membangun peradaban Islam. Karenanya kurikulum sekuler ini wajib digantikan dengan kurikulum pendidikan Islam. Hanya saja kurikulum pendidikan Islam akan lahir dari institusi Islam juga yaitu khilafah.

Dalam kitab Usus at-Ta'lim al-Manhaji fi Dawlah al-Khilafah(hlm.9-12) karya Syeikh ‘Atha bin Khalil menjelaskan bahwa kebijakan pendidikan Daulah Khilafah Islamiyah sebagai berikut;

1. Asas pendidikan formal adalah Aqidah Islam dimana seluruh mata pelajaran dan metode pengajaran harus berdasarkan Aqidah Islam.

2. Kebijakan pendidikan adalah pembentukan sistem berpikir dan kejiwaan Islami pada anak didik.

3. Tujuan pendidikan adalah membentuk kepribadian Islami serta membekali anak didik dengan sejumlah ilmu dan pengetahuan yang berhubungan dengan urusan hidupnya.

4. Dalam pendidikan, ilmu eksperimental beserta derivatnya harus dibedakan dengan pengetahuan yang berhubungan dengan tsaqofah. Ilmu-ilmu  eksperimental diajarkan tanpa terikat dengan jenjang- jenjang pendidikan dan disajikan sesuai dengan kebutuhan. Adapun pengetahuan yang berhubungan dengan tsaqofah diberikan pada jenjang pendidikan pertama sebelum jenjang pendidikan tinggi berdasarkan kebijakan tertentu yang tidak bertentangan dengan pemikiran-pemikiran dan hukum-hukum Islam. Pada jenjang pendidikan tinggi tsaqofah diajarkan dalam bentuk pengetahuan dengan syarat tidak keluar dari kebijakan dan tujuan pendidikan Islam.

5. Pendidikan tsaqofah Islam harus disajikan di setiap jenjang pendidikan. Adapun cabang-cabang tsaqofah Islam beserta ragamnya disajikan pada jenjang pendidikan tinggi. Ilmu-ilmu kedokteran, teknik dan lain sebagainya juga disajikan pada jenjang pendidikan tinggi.

6. Ilmu sains dan teknologi yang terkategori dalam ilmu yang bebas nilai atau free of value boleh diambil tanpa ada persyaratan apapun. Yang berkaitan dengan tsaqofah atau pandangan hidup tertentu tidak boleh diambil jika bertentangan dengan Islam misalnya at-tashwir atau seni melukis, menggambar atau membuat patung makhluk yang bernyawa.

7. Kurikulum pendidikan harus tunggal tidak diperkenankan ada kurikulum lain selain kurikulum negara. Lembaga pendidikan swasta boleh berdiri selama kurikulum pendidikannya terikat dengan kurikulum negara dan berdiri atas asas kebijakan umum pendidikan negara.

8. Negara menjamin penyelenggaraan pendidikan bagi seluruh rakyatnya tanpa memandang agama, suku dan ras.

9. Negara bertanggung jawab sepenuhnya dalam menyediakan fasilitas pendidikan bagi rakyatnya.

Tujuan Umum Pendidikan Negara Khilafah Islamiyah

Memang salah satu fungsi pendidikan adalah untuk mengokohkan sistem negara yang ada. kalau negaranya sekular, sistem pendidikannya pastilah dirancang untuk mengokohkan sekularisasi itu. Ironisnya, Indonesia meski mayoritas penduduknya beragama Islam memilih sistem negara yang sekular. Jadilah kurikulum yang dibuat untuk mengokohkan sekularisme.

Berbeda dengan tujuan pendidikan dalam negara khilafah Islamiyah dimana tujuan umum pendidikan negaranya adalah;

1. Membina kepribadian islami dengan jalan menanamkan tsaqofah Islam sebagai sistem keyakinan, pemikiran dan perilaku.

2. Mempersiapkan generasi kaum muslim yang memiliki keahlian dan spesialisasi di seluruh bidang kehidupan; kedokteran, biologi, kimia, fisika, ahli astronomi dan lain sebagainya
 
Inilah yang akan sukses membentuk pola pikir Islami bagi generasi. Bukan kurikulum sekular yang justru menjauhkan generasi Muslim dari ajaran agamanya sendiri.[]

Oleh Nabila Zidane
Forum Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban


Posting Komentar

0 Komentar