TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Moderasi Agama, Berbahayakah?



Menuntut ilmu adalah suatu kewajiban bagi tiap manusia, baik tua maupun muda. Bagi kaum Muslim, menuntut ilmu agama wajib bagi tiap Muslim (fardhu ‘ain). Jika wajib, maka ketika tidak terlaksana dengan baik akan menjadi dosa.

Sebagai seorang Muslim, mempelajari agamanya adalah suatu kebutuhan. Sebab ada dorongan dari naluri tadayyun untuk senantiasa mengagungkan sesuatu. Dari sanalah, seorang Muslim lantas harus memenuhi kebutuhan akan mensucikan sesuatu. Hal ini dapat diraih dengan cara mempelajari ilmu agama (Islam).

Namun, semenjak runtuhnya khilafah pada 1924 disebabkan karena derasnya arus tsaqofah asing dan kuatnya serangan fitnah Barat terhadap negeri Kaum Muslim sehingga membuat Kaum Muslim perlahan abai dan meninggalkan syariah Islam yang semula diterapkan atas mereka. Semenjak itulah, informasi Islam sering didistorsi demi menutupi kegemilangan sejarah kejayaan Islam. Kaum Muslim hari ini bahkan ragu bahwa suatu negara bisa dan pernah berdiri berasaskan Islam dan dipimpin dengan menerapkan syariah Islam hampir di 2/3 dunia.

Indahnya suatu negara dalam bingkai syariah dan khilafah jelas bukan dambaan kaum kafir Barat. Kafir Barat akan senantiasa menunjukkan taringnya bagi kaum Muslim. Setelah runtuhnya khilafah, kafir Barat lantas menciptakan illusi kemerdekaan bagi negeri-negeri kaum Muslim. Meninggalkan paham-paham kapitalis sekuler melalui aturan dan undang-undang buatan mereka. Memisahkan negeri-negeri kaum Muslim agar dapat dengan mudah untuk dikendalikan, diadu domba dan dikuasai.

Melalui para pemimpin negeri kaum Muslim beserta jajarannya, kafir Barat merentangkan tentakel mereka untuk kemudian mecengkeram negeri kaum Muslim agar berjalan sesuai dengan ambisi mereka, yaitu menghalangi kebangkitan Islam. Menjadikan khilafah hanyalah sebuah romantisme sejarah. Menepiskan ghirah-ghirah perjuangan (jihad) dari dalam diri pemuda-pemudi Muslim.

Begitu halnya yang terjadi hari ini di negeri dengan mayoritas penduduk Muslim. Moderasi begitu massif disuarakan. Tak tanggung-tanggung, sebagai lembaga yang paling relevan dan kompatibel dalam pembentukan generasi, pendidikan dijadikan alat dalam menanamkan paham moderasi Islam. Dilansir dari tribunnews.com (13/07/20), Menteri Agama meminta jajaran Kementerian Agama untuk tidak ragu berbicara tentang moderasi agama. Fachrul mengungkapkan moderasi beragama telah menjadi bagian dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Negara (RPJMN) 2020-2024.

Kemenag pun turut mengeluarkan Keputusan Menteri Agama (KMA) 183 tahun 2019 untuk Madrasah menggantikan KMA 165 tahun 2014. Dalam KMA 183 nantinya madrasah akan menggunakan buku yang sebelumnya telah dinilai Tim Penilai Puslibang Lektur dan Khazanah Keagamaan. Sebanyak 155 buku telah disiapkan, termasuk untuk Pendidikan Agama Islam (PAI), akan menjadi instrumen kemajuan serta mempererat kehidupan berbangsa dan bernegara. Kemudian, meletakkan materi sejarah khilafah, jihad dan moderasi beragama secara korelatif dalam berbagai bentuk perjuangan Muslim. (detiknews, 11/07/20)

Tak hanya pendidikan formal, moderasi beragama juga diintegrasikan melalui bimbingan perkawinan, karena keluarga merupakan tempat transmisi nilai-nilai yang paling kuat, materinya tidak hanya terkait konsep pernikahan dalam Islam, tapi juga membahas persoalan kesehatan dan moderasi beragama. (okezone.com, 03/07/20)

Arah Pendidikan Islam di Indonesia

Melalui KMA 183, telah jelas arah pendidikan Islam di Indonesia. Informasi Islam berupaya untuk diputarbalikkan, ditempatkan dengan sudut pandang yang bukan seharusnya bahkan dihapuskan. Hal ini jelas mengusik hati kaum Muslim, mengingat secara fakta, khilafah dan jihad merupakan bagian dari khazanah kaum Muslim yang mustahil untuk dihapuskan.

Moderasi beragama adalah bagian dari program deradikalisasi yang selama ini menjadi senjata kaum kafir barat dalam menghalangi kebangkitan kaum Muslim dan menutupi fakta Islam yang sesungguhnya. Upaya barat ini pun dilanggengkan dengan menjadikan pemimpin-pemimpin di negeri kaum Muslim yang mampu mereka setir dan arahkan sesuai dengan kebutuhan mereka.

Dengan KMA 183, menguatkan legitimasi atas kurikulum moderasi untuk pelajaran PAI dan Bahasa Arab. Begitu pula pengalihan materi khilafah dan jihad dari mata pelajaran Fiqh ke mata pelajaran sejarah dengan perspektif moderasi.

Hal ini jelas berbahaya. Setelah sekian lama (96 tahun) umat Islam hidup menderita tanpa perisai, ditambah minimnya informasi Islam yang tersiarkan dengan perspektif yang benar pula sebab dikaburkan oleh kafir barat, kini harus ditambah lagi dengan moderasi agama melalui kurikulum pendidikan. 

Maka, tak dapat dipungkiri lagi jika kemudian generasi umat hari ini tidak mengenal ajaran agamanya. Ajaran agama akan terus didiskreditkan demi toleransi salah sasaran dan label radikalisasi bagi muslim yang memperjuangkan penerapan Islam secara kaffah.

Masalah terbesarnya, sebagai ajaran Islam, khilafah kian terpinggirkan bahkan dianggap tak relevan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara di negeri majemuk. Khilafah dianggap mengancam kebhinekaan dan keberagaman. Ajaran khilafah juga dianggap asing, juga sekedar menjadi kisah yang telah usang. Kejayaan Islam dianggap telah tenggelam dan silam.

Hal ini jelas tak boleh dibiarkan oleh generasi Muslim. Kaum muslim mesti bangkit dari kebutaan akan fakta dikriminalisasinya ajaran Islam. Kaum muslim mesti sadar dari kebisuannya untuk menyuarakan fakta-fakta Islam yang selama ini bungkam oleh kafir barat. Kaum Muslim mesti bersatu dan bekerja sama demi kembalinya kejayaan Islam. 

Sebab, Khilafah jelas bukan hanya sekedar lakonan panggung sejarah, kembalinya kehidupan Islam juga bukan sekedar utopia. Sebab ialah janji Allah Swt. dan bisyarah Rasulullah Saw., sebagaimana sabdanya, “Setelah itu akan terulang kembali periode khilafah ‘ala minhaj nubuwwah. Kemudian Nabi Muhammad saw diam.” (HR Ahmad; Shahih).

Maka, jelas moderasi beragama ialah suatu yang mengancam ide-ide Islam. Ia hanyalah alat kafir barat dan para pembenci Islam untuk membenturkan nilai-nilai Islam dengan nilai-nilai kebangsaan. Padahal tak pernah terbukti bahwa ide khilafah ialah suatu yang bertentangan dengan konstitusi. Wallahu ‘alam bish showab.[]

Oleh: Supiani
Aktivis Komunitas Remaja Islam Peduli Negeri

Posting Komentar

0 Komentar