TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Merindukan HTI



Sejak BHP HTI dicabut, tiga tahun yang lalu, mungkin banyak pihak yang menduga akan berpisah dan kehilangan HTI. Tak ada lagi, kritik kepada penguasa berbasis Syariah Islam. Tak ada lagi, aksi Masyiroh (demo) yang membawa bendera Rasulullah SAW.

Ada yang mengira, itu adalah akhir perjuangan penegakan Khilafah. Sebab, selain mencabut BHP HTI, rezim juga memasarkan Narasi Khilafah ajaran Terlarang.

Bahkan, saya sendiri diawal pengumuman pencabutan BHP HTI berulang kali mendapat pertanyaan HTI bagaimana ? Seolah-olah, umat merasa kehilangan atas kepergian HTI untuk selamanya.

Tapi hari ini ? Setelah tiga tahun pencabutan BHP HTI, justru umat dapat merasakan bahwa HTI tak pernah mati, tak pernah berhenti berjuang, tak pernah mengubah perjuangan dengan mengambil demokrasi dan meninggalkan dakwah Khilafah.

Dalam berbagai aksi Umat, bendera Rasulullah SAW selaku berkibar. Hal ini menunjukkan, bahwa HTI ada bersama umat bahkan perjuangan HTI perlahan telah diadopsi Umat.

Teriakan Khilafah, tuntutan Khilafah, kerinduan Khilafah, juga semakin menggema. Itu tandanya, HTI ada, bahkan sebagai penanda dakwah Khilafah semakin bergelora. Setiap tuntutan dan kerinduan umat pada syariah, pada Khilafah, menandakan HTI ada dan telah menjadi bagian dari umat.

Umat perlahan memahami perkara besar ini, bukanlah tanggungjawab HTI semata. Khilafah adalah kewajiban Umat Islam, bukan kewajiban HTI. Khilafah adalah ajaran Islam, bukan ajaran HTI. Khilafah adalah milik umat Islam, bukan milik HTI.

Ketika PDIP mencoba menistakan Khilafah dengan menyamakannya dengan komunisme, menyematkan isme pada ajaran Khilafah, seluruh Ulama angkat bicara membela Khilafah. Ketika kata "Khilafah" oleh PDIP diselundupkan pada redaksi Ikrar di Kota Cirebon, umat segera meralat dengan mencoretnya. Dan mengulangi ikrar sumpah, dengan menghilangkan kata Khilafah sebagai ancaman negara.

Melihat khilafah yang semakin ramai diperbincangkan, melihat bendera Rasulullah SAW yang semakin banyak dikibarkan, rasanya tak ada ruang untuk rindu pada HTI. Semua kejadian Politik, menunjukkan bahwa HTI ada, dekat, dan selalu bersama Umat.

Bahkan penguasa mulai terlihat menampakan ketakutannya, meracau tidak karuan, akan memecat 1,6 juta ASN berdalih radikalisme, akan menyetop STAN karena tudingan disusupi radikalisme. Yang sebenarnya, mereka ketakutan seluruh lini kehidupan telah disusupi HTI.

Setiap yang teriak khilafah, dituding HTI. Setiap yang mengibarkan Bendera Rasulullah SAW, dianggap HTI. Setiap yang mengkritisi kebijakan berdasarkan syariat Islam, diasosiasikan HTI.

Semua kritik seolah-olah dari HTI. Seluruh rakyat perlahan menjadi HTI. Penguasa, seperti ayam yang disembelih. Gerakannya makin kacau, tak lagi bisa berkonsentrasi pada tugas dan tanggung jawabnya.

Ah, rasanya tak ada dan tak layak lagi mengunggah kerinduan pada HTI. Apalagi saya, karena saya anggota HTI, sejak sebelum atau pasca dicabut BHP oleh Penguasa zalim.

Jadi jika masih ada yang merindukan HTI, mari teriakan : Khilafah, khilafah, khilafah. Itu adalah obat rindu sekaligus penanda anda begitu dekat dengan HTI. []

Oleh : Ahmad Khozinudin
Sastrawan Politik

Posting Komentar

0 Komentar