Menolak ‘Ketuhanan yang Berkebudayaan’


Saat ini, Rancangan Undang-Undang (RUU) Haluan Ideologi Pancasila (HIP) ramai mendapatkan penolakan dari berbagai pihak. RUU ini terlihat akan dirubah nama menjadi RUU Pembinaan Ideologi Pancasila (PIP).

Penolakan terhadap RUU HIP atau PIP ini karena disinyalir mendegradasikan kedudukan Pancasila menjadi setingkat Undang-Undang (UU), dan dianggap sebagai alat politik untuk mengembalikan paham komunisme di Indonesia.

Ini dilihat dari salah satunya, tidak dimasukkan TAP MPRS Nomor XXV Tahun 1966 tentang Pembubaran Partai Komunis Indonesia dan Larangan Setiap kegiatan Untuk Menyebarkan Atau Mengembangkan Faham atau Ajaran Komunisme/Marxisme-Leninisme, sebagai konsideran "Mengingat" RUU HIP. 

Dan juga Pasal 7 dalam RUU HIP tersebut terdapat frasa "Ketuhanan yang Berkebudayaan". Frasa ini diyakini akan membuat Indonesia menjadi lebih sekuler bahkan menjadi materialis komunis. Frasa itu juga dianggap mengesampingkan sila pertama Pancasila, Ketuhanan yang Maha Esa.

Pada Pasal 12 juga terdapat kontroversi dari frasa “beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.” Frasa ini juga dianggap menundukkan agama dengan ide humanisme, dan seolah menuduh agama tidak berkemanusiaan.

Habib Rizieq Shihab (HRS), Imam besar Front Pembela Islam (FPI),  juga menyerukan penolakan terhadap RUU ini. Salah satu alasannya, beliau melihat definisi Haluan Idiologi Pancasila dalam RUU HIP tidak lagi meletakkan agama sebagai sesuatu yang pokok dan mendasar.

Berbagai pihak juga menilai Draft RUU HIP ini cenderung meletakkan agama hanya sebagai instrumen pelengkap dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. 

Sejarah dan Makna ‘Ketuhanan yang Berkebudayaan’

Kalau melihat ke belakang Frasa "Ketuhanan yang berkebudayaan" itu awalnya muncul dalam pidato Sukarno pada 1 Juni 1945.

Setelah ia menjabarkan empat sila yakni Kebangsaan Indonesia, Internasionalisme atau peri-kemanusiaan, Mufakat atau demokrasi dan Kesejahteraan sosial, maka sampailah ia menjelaskan sila kelima.

Bung Karno berkata  "Hendaknya negara Indonesia ialah negara yang tiap-tiap orangnya dapat menyembah Tuhannya dengan cara yang leluasa. Segenap rakyat hendaknya ber-Tuhan secara kebudayaan, yakni dengan tiada 'egoisme-agama'. Dan hendaknya Negara indonesia satu Negara yang bertuhan!."

Dalam "Ketuhanan yang Berkebudayaan" di buku Negara Paripurna: Historitas, Rasionalitas, Aktualitas Pancasila, Yudi Latif menyatakan bahwa asas Ketuhanan telah melalui perdebatan panjang para pendiri bangsa. Kemudian akhirnya memunculkan suatu mufakat pada sila pertama Pancasila, Ketuhanan yang Maha Esa.

Ketuhanan dalam kerangka Pancasila, jelas Yudi Latif, menyerupai konsepsi agama sipil atau civic religion yang melibatkan nilai-nilai moral universal agama. Namun, juga Pancasila secara jelas dibedakan dari agama apapun.

Namun, menurut Yudi Latif, kekaburan dalam melihat hubungan antara Agama, Pancasila, dan negara kemudian menjadi salah satu penyebab timbulnya berbagai masalah. Misalnya mengenai kecemasan bahwa Pancasila bisa menggantikan peran agama.

Sementara itu, sejarawan Anhar Gonggong menyebut bahwa frasa "Ketuhanan yang berkebudayaan" memiliki maksud yang simple saja. Seperti yang sudah disampaikan bung Karno dalam pidatonya, supaya tidak ada egoisme agama yang menimbulkan pertentangan antaragama.

"Itu yang dia maksud. Cuma menurut saya ya memang agak terlalu melenceng pemahaman itu karena untuk apa itu digunakan (dalam RUU HIP) wong sudah diterima Ketuhanan yang Maha Esa. Ya selesai kan," kata Anhar.

Atheis Evolusionis Komunis : Manusia Menciptakan Tuhan

Kita akan memandang jika ‘Ketuhanan yang Berkebudayaan’ hanya sesederhana toleransi antar umat beragama, maka dengan Ketuhanan Yang Maha Esa sudah cukup dan sudah berlangsung lama. Namun tetap saja frasa ini diperjuangkan agar bisa masuk dalam pasal di HIP ini. Sehingga kemungkinan ada makna lebih dalam dan pengarahan ide tertentu terkait frasa ini.

Frasa ‘Ketuhanan yang Berkebudayaan’ bisa memiliki makna bahwa, pertama, Ketuhanan harus disejajarkan atau disesuaikan dengan Kebudayaan dan, kedua, bahwa Ketuhanan harus diakui sebagai hasil dari Kebudayaan yang harus tunduk kepadanya.

Dan memang jika frasa ‘Ketuhanan yang Berkebudayan’ masuk secara luas ke ide-ide terkait Antropologis dan Filsafat Barat, maka akan digusur menuju pemaknaan bahwa ketuhanan ataupun agama merupakan budaya manusia. Sedangkan pengertian budaya secara umum adalah segala hasil karya, rasa dan cipta masyarakat atau manusia.

Ide Ketuhanan yang merupakan ciptaan manusia terlihat seperti pandangan seorang Filosof Atheisme bernama Feuerbach. Ia menulis, "Bukan Tuhan yang menciptakan manusia menurut rupa dan gambarnya, melainkan manusialah yang mencipta bayangan tentang Tuhan menurut rupa atau bentuk manusia."

Dalam konsep ateisme Feuerbach, Tuhan adalah semacam kebutuhan psikologis dari dalam diri manusia, di mana manusia terpaksa "menciptakan" sosok Tuhan untuk memenuhi kebutuhan kehidupannya, menjaga, serta memberikan jaminan di masa depan yang penuh dengan misteri. 

Bahkan ada pemikir yang tidak hanya menjadikan konsep ketuhanan dan agama merupakan produk manusia namun juga merupakan produk dari penyakit kejiwaan manusia.

Freud dengan peryataan yang lebih ekstrem, "Agama merupakan gangguan neurosis". Kepercayaan kepada Tuhan dianggap sebagai suatu penyakit kejiwaan. Dan yang paling fenomenal Karl Marx menyatakan bahwa bahwa ‘Die Religion… ist das Opium des Volkes’ artinya  ‘Agama adalah candu masyarakat’.

Kemudian penulis buku laris Sapiens: A Brief History of Humankind (2014), Yuval Noah Harari, beranggapan bahwa agama dibangun di atas mitos.Yuval menyatakan bahwa konsep tentang teritori muncul, yang berimplikasi pada pemenuhan kebutuhan hidup yang lebih privat. 

Tetapi untuk mempertahankan teritori komunalnya Sapiens masih harus bekerja sama. Mitos menjadi alat untuk memperkukuh kerja sama ini. Agama yang dibangun di atas mitos kemudian mengejawantah dalam fungsinya untuk menjaga tatanan masyarakat dan menandakan identitas sosial dan territorial tertentu.

Tidak hanya sampai kesana pemikir barat ini juga sampai memprediksikan adanya Tuhan baru yang akan eksis di masa depan manusia. Yuval sebagai Evolusionis menganggap Manusia atau Homo Sapien akan menjadi Homo Deus (Manusia Tuhan) dengan bantuan sains, AI dan Big Data yang ditanam dalam tubuhnya.

Inilah parahnya pandangan barat terhadap Agama dan Tuhan sebagai akibat dari diterimanya sebagai Produk Budaya Manusia secara total. Sehingga frasa ini akan semakin menyebabkan Negara semakin sekuler atau akan lebih mengesampingkan Agama. Bahkan ide ini akan mengibarkan kembali Komunisme yang menganggap agama harus dihilangkan karena candu masyarakat yang menyebabkannya tidak produktif sebagaimana di Korea Utara.

Pandangan ini tidak mungkin diterima menjadi pandangan kaum muslimin yang ada di negeri ini. 

Islam adalah Agama Samawi Rabbani yang merupakan Arus Utama

Agama tertentu memang berkembang berdasarkan budaya, daerah, dan pemikiran seseorang, serta tidak berlandaskan wahyu. Seperti agama budha, hindu, dan lain-lain Sedangkan islam tidak dilahirkan dari budaya tetapi islam datang kepada nabi Muhamma saw melalui wahyu, datangnya langsung dari Allah Swt, bukan hasil dari pemikiran manusia. 

Secara istilah Syar’i, Islam adalah agama yang diturunkan Allah swt kepada Nabi Muhammad saw, yang  mengatur hubungan manusia dengan Allah swt, dengan dirinya dan dengan manusia sesamanya.

Hubungan manusia dengan Allah swt tercakup dalam perkara akidah dan ibadah. Hubungan manusia dengan dirinya tercakup dalam perkara akhlak, makanan,
dan pakaian. Hubungan manusia dengan sesamanya tercakup dalam perkara mu’amalah dan uqubat (sanksi).

Dari definisi ini jelas bahwa Islam bukan produk Akal dan budaya manusia namun diturunkan langsung oleh Allah swt sebagai Tuhan mereka.

Allah ta’ala berfirman,

مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَكِن رَّسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيماً

"Muhammad itu bukanlah seorang ayah dari salah seorang lelaki diantara kalian, akan tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup para Nabi.” (QS. Al Ahzab: 40)

Allah ta’ala juga berfirman,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً
“Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagi kalian agama kalian, dan Aku telah cukupkan nikmat-Ku atas kalian dan Aku pun telah ridha Islam menjadi agama bagi kalian.” (QS. Al Maa’idah: 3)

Ayat di atas dengan jelas menunjukkan bahwa Agama Islam diturunkan oleh Allah swt kepada Nabi Muhammad saw dan kemudian Allah swt menyempurnkannya.

Dari tiga jenis aturan-aturan ini Syariah ini, Islam menolak keberagamaan dan ketuhanan yang harus didasari atau dikontrol oleh kebudayaaan, namun justru Islam lah yang harus menghukumi kebudayaan. Jika sesuai Islam, boleh, jika sebaliknya maka tidak boleh.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

اْلإِسْلاَمُ يَعْلُوْ وَلاَ يُعْلَى

“Islam itu tinggi dan tidak ada yang mengalahkan ketinggiannya.”

Islam juga bukan hanya pelengkap dalam kehidupan masyarakat muslim namun harus menjadi Arus Utama.

Islam sebagai Ideologi mengharuskan manusia untuk menjalankan semua aturan yang diberlakukan untuk manusia secara sempurna.

Sehingga perjuangan lanjutan kaum muslimin adalah menerapkan Islam dalam ranah kehidupan mereka dan struktur pemahaman apapun yang tidak sesuai dengan ini harus ditolak. Wa Allahu A’lam.[]

Oleh : Taofik Andi Rachman, M.Pd.

Posting Komentar

0 Komentar