Menjadi Muslimah Peduli Generasi dan Negeri, Kala Pandemi


Terhitung sejak 15 Maret 2020 hingga kini sekitar 4 bulan anak-anak belajar di rumah (BDR). Dengan melihat kondisi perkembangan Pandemi yang belum menunjukkan penurunan. Bahkan berdasarkan data terbaru 9 Juli 2020 angka positif Covid-19 di Indonesia mengalami kenaikan 2.657. Kenaikan tertinggi sejak diumumkannya Covid-19 mulai Maret (CNN Indonesia).

Bahkan, Jatim masih mencatat kasus baru Corona terbanyak di Indonesia, meski di posisi ke dua pada hari Kamis 9 Juli 2020 setelah Jawa Barat. Dengan demikian aktifitas BDR mau tidak mau harus dijalani.

Kondisi ini tentu menjadi tantangan sendiri bagi ibu-ibu maupun para guru. Belum lagi kondisi ekonomi yang semakin miris akan menjadi tambahan ujian lagi.

Di tengah ujian ini, sebagai seorang muslim kita masih beruntung karena tiap ujian sempat pun sempit selama kita berpegang pada aturan Allah akan bernilai kebaikan dan perpeluang pahala. Tentu ketika sabar dalam menjalani ujian ini. 

Lalu apa tips agar kita tetap tangguh mengawal generasi kita?. Karena bagaimanapun beratnya ujian harus di hadapi. Meski ujian ini tentu tak seberapa di banding ujian para sahabat dan sahabiyah di kala dalam perjuangannya mejaga akidah di masa dakwah di Mekah. Berikut hal yang bisa dilakukan:

Pertama: Siap Iman

Keyakinan bahwa wabah sebagai bagian ujian dari Allah. Mengantarkan jiwa lapang bagi muslimah. Ketika sabar berpeluang pahala. Kesabaran dalam makna ini adalah Ridha menerima ujian. Bukan sabar dalam makna pasrah tanpa usaha perbaikan. 

Kedua: Siap imun (kesehatan fisik). 

Seorang ibu butuh fisik berusaha agar fisik yang kuat. Betapa amanah seorang ibu bisa mencapai 24 jam tanpa henti. Jika kondisi fisik tidak dijaga akan mengurangi optimalisasi amanah ini.

Ketiga:  Siap Ilmu

Kesiapan ilmu Islam dan teknik mendidik anak amat perlukan baik Masa Pandemi maupun tidak. Dengannya kita punya pegangan dan cahaya mengawal perkembangan anak mulai pra mengandung hingga Baligh maupun setelahnya.  seorang ibu tangguh harus memiliki kepribadian islam yang istimewa. 
 
Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma berkata,
 
أدب ابنك فإنك مسؤول عنه ما ذا أدبته وما ذا علمته وهو مسؤول عن برك وطواعيته لك
 
Didiklah anakmu, karena sesungguhnya engkau akan dimintai pertanggungjawaban mengenai pendidikan dan pengajaran yang telah engkau berikan kepadanya. Dan dia juga akan ditanya mengenai kebaikan dirimu kepadanya serta ketaatannya kepada dirimu.”(Tuhfah al Maudud hal. 123).
 
Siap Ilmu Teknik dan Kreatif mendidik juga dibutuhkan. Ibu juga perlu belajar teknis bagaimana membuat anak senang melakukan kebaikan dan giat beribadah. Senantiasa berkomunikasi dengan baik, bertutur kata Ahsa memotivasi anak anaknya. Ibu wajib Kreatif menciptakan cara supaya bisa menanamkan nilai nilai islam kepada anak anaknya dengan cara yang menyenangkan tanpa paksaan ataupun tekanan
 
Keempat: Siap  Bervisi misi  Surga. Ibu harus memahami fokus tujuan jangka panjang pendidikan adalah membentuk generasi berkepribadian Islam. Dengannya anak menjadi aset kebaikan di dunia dan akhirat bagi agama. Dan pahala tak terputus bagi orang tua yang mempunyai anak shalih. Sebagaimana sabda Rasulullah, 

"Ketika seseorang telah meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali 3 (perkara) : shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang berdoa baginya.” (HR. Abu Hurairah)

Dengan visi, misi dan motivasi surga dan akhirat lelah dalam mendampingi insyallah akan terkurangi. Karenanya gambaran keindahan surga harus senantiasa dihadirkan di hati dan pelupuk mata.

Surga dimana tak ada lagi keluh kesah, lelah, cemooh, saling mengalahkan. Yang ada adalah salam. Dipan-dipan di surga siap menjadi penghilang  kelelahan kota di dunia.   hidupnya Adalah surga.    Motivasi akhirat dan surga harus pula kita rasakan dan gambarkan kepada anak secara terus menerus tanpa bosan dan lelah karena inilah semangat tanpa batas yang Allah janjikan kehidupan terbaik bagi seorang muslim.

Kelima: Siap Peduli
 
Betapa tips kesatu sampai kelima di atas tidak mudah dijalani secara alami karena tidak adanya sistem Islam yang menjaga para ibu untuk bersinergi. 

Sebaliknya sistem Kapitalis saat ini menjadi arus yang berbalik. Visi hidup kapitalis adalah hidup untuk materi dan duniawi. Imun,  iman, ilmu tak lagi menjadi tanggung jawab utuh negara. Tapi justru diserahkan ke tiap orang.inilah ujung dari beratnya ujian tersebut.

Beda ketika wabah menimpa. Khilafah sebagai pengayom ada. Maka ada pemimpin yang siap menjaga dan mengawal kondisi imun, iman, ilmu dan amal shalih umat.

Karenanya mari bersiap untuk menjadi muslimah tangguh subjek perubahan. Peduli umat bukan sekesar peduli pribadi dan keluarga. Dan sebagai renungan akhir inilah janji Allah bagi kaum mukmin yang peduli terhadap agamanya, "

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن تَنصُرُوا۟ ٱللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَك

Hai orang-orang mukmin, jika kamu "menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu."

Oleh: Yuyun Rumiwati

Posting Komentar

0 Komentar