TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Mengusut Revisi Kurikulum Agama



Dikutip dari laman CNN Indonesia 2/7/2020, bahwa Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi telah menghapus konten radikal yang termuat di 155 buku pelajaran agama Islam. Namun, untuk materi Khilafah tetap ada di buku-buku tersebut.

“Dalam buku agama Islam hasil revisi itu masih terdapat materi soal khilafah dan nasionalisme,” ujar Menag lewat keterangan tertulisnya, Kamis, 2/7/2020 seperti dikutip dari CNN Indonesia.

“Kami telah melakukan review 155 buku pelajaran. Konten yang bermuatan radikal dan eksklusivis dihilangkan. Moderasi beragama harus dibangun dari sekolah,” ujarnya.

Belakangan ini sedang ramai diperbincangkan mengenai penghapusan materi ajaran Khilafah dari Kurikulum Pendidikan Agama di Sekolah. Menag mengatakan bahwa dirinya memang tidak menghapus seluruh materi Khilafah, dirinya hanya menghilangkan bagian yang bermuatan radikal dan eksklusivis.

Tentu perlu dipertanyakan, ajaran Khilafah bagian mana yang menjadikannya "radikal" sehingga sepertinya urgen sekali untuk dihapuskan.

Radikal sendiri berasal dari kata radix yang artinya mengakar, menghujam kuat ke dalam. Istilah radikal juga bisa mempunyai konotasi positif atau negatif. Tergantung pelaku, konteks dan penggunaannya. Sikap radikal akan mendorong perilaku seseorang untuk memperjuangkan kepercayaan, keyakinan, agama atau ideologi yang dia anut.

Bila kita membaca kembali sejarah Islam, tentu Rasulullah lah manusia paling radikal. Sebab beliau berjuang mati-matian demi menyampaikan ajaran Islam, sehingga kita bisa merasakannya kini. Beliau juga yang berjuang demi tegaknya Khilafah, agar aqidah dan syariah Islam dapat diterapkan. Dari sini kita bisa melihat bahwa radikal dalam konteks ini adalah benar.

Namun bila konteks radikal yang dimaksud adalah bukan yang demikian, itu jelas penyesatan terhadap ajaran Islam. Sebab jauh berbeda dengan makna radikal yang ada pada saat ini. Banyak opini tentang radikal yang menggiring umat pada arti radikal yang salah. Yang menyudutkan Islam sehingga konotasinya menjadi negatif.

Ghirah memperjuangkan Islam dihapus dari Kurikulum Pendidikan Agama, membuat peserta didik kelak tidak paham bagaimana perjuangan Rasul dulu. Kebijakan ini jelas akan menghasilkan Kurikulum Pendidikan sekuler, menjauhkan nilai-nilai Islam alias anti Islam.

Kurikulum yang seharusnya menjadi rujukan peserta didik untuk memperjuangkan tegaknya Islam, diganti dengan materi yang mendorong mereka mengganti Islam dengan sistem kufur buatan manusia yakni Kapitalisme-Sekuler.

Sistem pendidikan pun akhirnya dibuat agar selaras dengan jalannya rezim. Karena Kurikulum Pendidikan berbasis Islam dianggap cenderung berpotensi mengganggu kepentingan rezim.

Padahal fakta telah banyak menunjukan bahwa Pendidikan berbasis sekuler hanya akan menghasilkan peserta didik yang minim adab. Dari segi kemampuan intelegensi mungkin baik, tapi dari sisi akhlak dan aspek spiritual nol besar.

Disadari atau tidak, ini adalah salah satu upaya untuk moderasi Islam. Dengan sedikit demi sedikit menghilangkan ajaran Islam dalam Kurikulum Pendidikan. Menjauhkan nilai-nilai Islam dengan berkiblat pada kaum barat. Padahal seharusnya nilai-nilai tersebut terpatri kuat dalam hati kaum muslimin.

Dan upaya moderasi Islam ini bisa terjadi karena tidak adanya sistem perlindungan yang mampu menjaga nilai-nilai ajaran Islam, sehingga mudah sekali untuk diacak-acak oleh para pembenci Islam.

Olehnya, kita butuh sebuah sistem perlindungan itu, dimana nilai-nilai ajaran Islam akan terjaga dengan baik. Kurikulum Pendidikan pun akan sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam yang bersumber dari Qur'an dan Sunnah, karena sumber hukumnya langsung dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala.[]

Oleh Naely Litfiyati Margia


Posting Komentar

0 Komentar