Mengapa Umat Islam Sulit Bangkit?


Sejak keruntuhan khilafah pada tahun 1924 M. Berbagai upaya telah dilakukan oleh umat Islam untuk kembali membangkitkan institusi pelaksana hukum syariah tersebut. Namun usaha-usaha yang dilakukan oleh umat Islam senantiasa mengalami kegagalan. 

Ada dua faktor utama, sulitnya umat Islam dalam rangka mengembalikan kembali peradaban gemilang yang pernah menjadi mercusuar dunia yaitu:

1. Sulitnya Menggambarkan Pemerintahan Islam

Umat Islam saat ini sangat jauh dari masa kejayaan Khilafah. Mereka belum pernah menyaksikan Daulah Islam yang menerapkan Islam secara menyeluruh. Demikian juga umat Islam yang hidup pada akhir masa Daulah Utsmaniyah yang berhasil diruntuhkan oleh Barat. Mereka hanya dapat menyaksikan sisa-sisa negara Islam tersebut dengan secuil sisa-sisa Pemerintahan Islam. 

Oleh sebab itu, sulit sekali bagi umat Islam untuk mendapatkan gambaran yang utuh tentang pemerintahan Islam yang mendekati fakta sebenarnya sehingga dapat disimpan dalam pemikirannya.

Akibatnya umat Islam hanya dapat menggambarkan bentuk pemerintahan tersebut dengan standar sistem demokrasi yang rusak yang sejak lahir dia berada di dalamnya. Sistem rusak yang dipaksakan oleh Barat atas negeri-negeri Islam. 

2. Terjebak Tsaqafah Barat

Kesulitannya bukan hanya itu. Masih ada yang lebih sulit lagi yaitu mengubah pemikiran umat Islam yang sudah terbelenggu oleh tsaqafah Barat. 

Tsaqafah tersebut merupakan senjata yang digunakan Barat untuk menikam Daulah Islam, dengan tikaman yang luar biasa, hingga mematikannya. 

Barat lalu memberikan senjata itu kepada pewaris negara tersebut, dalam kondisi masih meneteskan darah “ibu” mereka yang baru saja terbunuh, sambil berkata dengan sombong, “Sungguh aku telah membunuh ibu kalian yang lemah itu, yang memang layak dibunuh karena perawatannya yang buruk terhadap kalian. Aku janjikan kepada kalian perawatan yang akan membuat kalian bisa merasakan kehidupan bahagia dan kenikmatan yang nyata.” 

Kemudian, sang Anak itu mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan si pembunuh, padahal senjata sang pembunuh itu masih berlumuran darah ibu mereka. 

Perlakuan pembunuh itu kepada mereka seperti serigala yang membiarkan mangsanya lari, lalu dikejar lagi agar dapat ditangkap dan dimangsa. Mangsanya itu tidak akan bangun lagi kecuali diterkam kembali hingga darahnya mengucur atau dibanting ke dalam jurang, kemudian serigala itu memangsanya.

Bagaimana mungkin orang-orang yang pemikirannya telah terbelenggu tersebut dapat mengetahui bahwa senjata beracun yang pernah dipakai untuk mengakhiri Daulah Islam milik mereka itu adalah senjata yang sama yang dapat menghabisi kehidupan dan institusi mereka. 

Pemikiran-pemikiran yang mereka usung seperti nasionalisme, sekularisme, dan ide-ide lain yang dipakai untuk menikam Islam adalah sebagian racun yang sengaja
dicekokkan oleh tsaqafah tersebut kepada mereka. 

Pada bab Serangan Misionaris, dari buku Daulah Islam menjelaskan tentang kenyataan dan data yang menunjukkan perihal sang pembunuh yang sadis itu. Bab itu juga memahamkan tentang berbagai sebab yang mendorongnya melakukan tindakan sadis tersebut, serta memperlihatkan berbagai sarana yang digunakan untuk mewujudkan aksinya. 

Ternyata tidak ada sebab lain, kecuali dengan maksud untuk melenyapkan Islam dan tidak ada sarana yang paling penting, kecuali tsaqafah tersebut yang datang bersamaan dengan serangan para misionaris.

Kaum Muslim telah lupa tentang bahaya tsaqafah ini. Memang mereka memerangi penjajah, tetapi pada saat yang sama mereka pun mengambil tsaqafahnya. Padahal, tsaqafah itulah penyebab terjajahnya mereka, sekaligus terkonsentrasikannya penjajahan di negeri-negeri mereka. 

Selanjutnya, mereka menyaksikan betapa banyak pandangan-pandangannya yang saling bertentangan, rendah, hina, dan menjijikan. Mereka membalikkan punggungnya dari orang-orang asing dengan mengklaim bahwa hal itu dilakukan untuk memerangi mereka seraya mengulurkan tangan kepada Barat dari arah belakang dengan maksud untuk mengambil racun-racunnya yang mematikan itu, lalu menelannya.

Akibatnya, mereka jatuh tersungkur di hadapannya dalam keadaan binasa. Orang-orang bodoh menyangka mereka adalah para syuhada yang gugur di medan perang. Padahal, mereka hanyalah petarung yang lupa dan sesat.[]

Oleh: Achmad Mu'it
Analis Politik Islam

Referensi:
Taqiyuddin An Nabhani, Ad Daulah Al Islamiyah, 2002


Posting Komentar

0 Komentar