+
YUK JOIN di TINTA INTENS 4

Memahami Manuver Politik


Manuver politik bukanlah tujuan atau target politik. Manuver politik adalah tindakan mengecoh lawan, dengan menampakkan hubungan kausalitas, dan menyembunyikan target politik (maksud) yang sesungguhnya. Manuver politik berbeda dengan strategi politik.

Manuver politik sengaja ditampakkan kepada lawan, agar lawan meyakini manuver itu adalah tujuan politik yang dikehendaki. Sementara strategi politik, adalah keseluruhan rencana untuk merealisir target politik tertentu, dengan menggunakan seluruh sarana dan prasarana termasuk dengan melakukan manuver politik, yang sifat dari strategi politik adalah tertutup, hanya diketahui oleh orang tertentu, bahkan oleh otoritas tertentu.

Untuk membaca manuver politik tertentu, Anda harus memahami beberapa hal :

Pertama, Anda harus paham tabiat dasar pelaku menuver politik, menyisir seluruh peristiwa politik yang berkenaan, dan mengaitkan manuver itu dengan sejumlah target politik yang berkenaan. Jika anda paham, maka anda akan mampu membedakan mana manuver dan mana tujuan politik. 

Contohnya, ketika anda mendengar kongres Amerika mengecam perilaku biadab China kepada Muslim Uighur, atau Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, yang menyebut ada ancaman dari Partai Komunis China untuk India, Vietnam, Indonesia, Laut China Selatan.

Pernyataan Amerika ini, baik yang disuarakan parlemen Amerika maupun Menhan Amerika, bukan berarti Amerika pro terhadap Islam atau Amerika ingin melindungi India, Vietnam dan Indonesia. Ini hanyalah menuver politik Amerika untuk membuat barikade perlawanan terhadap China, dengan memanfaatkan sentimen Islam dan nasionalisme negara kawasan.

Tentang kekejaman Amerika terhadap dunia Islam, tragedi pembantaian Muslim Irak berdalih senjata pemusnah massal adalah artefak sejarah yang menunjukkan berapa biadabnya Amerika terhadap kaum muslimin. Belum lagi kejahatan Amerika terhadap dunia Islam lainnya, seperti di Afghanistan, Afrika Selatan, Pakistan, Syria, hingga yang paling nampak adalah upaya Amerika mencangkokkan tumor Israel, yang setiap saat membantai muslim Palestina atas seijin dan pembiaran dari Amerika.

Tentang penjajahan Amerika terhadap Indonesia, cukuplah Freeport yang menjadi tugu sejarah penjajahan Amerika. Freeport adalah simbol penjajahan Amerika terhadap Indonesia.

Jadi, ketika Amerika menyebut ancaman China bagi Indonesia, itu maksudnya adalah ancaman bagi penjajahan Amerika di Indonesia. Saat ini, beberapa sektor tambang, dunia perbankan, sektor konstruksi, dan perdagangan China, merengsek masuk ke Indonesia dan menggeser dominasi penjajahan Amerika.

Para pegiat politik khususnya umat Islam wajib sadar, bahwa Amerika berideologi Kapitalisme dengan methode baku mengembangkan ideologinya melalui kolonialisme.

Dengan begitu, umat Islam tak perlu bertepuk, apalagi ikut bersorak sorai bagi Amerika, hanya karena Amerika menyuarakan kekejaman China terhadap muslim Uighur. Yang benar adalah, bahwa Amerika selaku negara biang Kapitalisme sama jahatnya dengan China negara penganut ideologi Komunisme.

Contoh lain adalah ketika PDIP memberi apresiasi sejumlah gerakan yang menolak RUU HIP karena diklaim ingin menjaga Pancasila, bukanlah hal yang ingin dituju PDIP. Yang benar adalah, PDIP sedang berusaha merubah strategi dari _Hard Power menuju _Soft Power_, setelah PDIP merasa "Kelelahan" mengeluarkan urat saraf, memaksa RUU HIP dilanjutkan sesuai kehendak PDIP. 

Targetnya adalah, agar paling tidak RUU HIP bisa dilanjutkan meskipun dengan perubahan nomenklatur, karena secara posisi baik Pengkritik maupun PDIP diasumsikan dan diasosiasikan sebagai pendukung Pancasila, hanya beda dalam tafsir dan konsepsi rincian.

Atau jika pun RUU HIP ini harus di drop dari Prolegnas, PDIP tidak terlalu kehilangan muka. Sebab, sebelumnya PDIP begitu ngotot agar RUU HIP ini tetap dilanjutkan.

Sama persis, ketika PDIP melaporkan kasus pembakaran bendera berlogo PDIP, tujuan politiknya bukan ingin memproses hukum pelaku. Sebab, selain pasal sumir kasus ini jika dilanjutkan akan menyebabkan PDIP makin terdesak secara politik.

Tujuan politiknya, adalah agar narasi opini yang bergeliat ditengah publik bukan penolakan RUU HIP, tetapi bergeser pada kasus pidana pembakaran bendera. Selain itu, manuver hukum dengan membuat laporan polisi terhadap kasus pembakaran bendera berlogo PDIP diharapkan bisa membuat umat takut, dan berhenti mengadakan aksi lanjutan menolak RUU HIP.

Itu semua, baik dalam kasus menuver Amerika maupun PDIP dapat kita ketahui maksud politiknya, setelah kita memahami Ideologi atau karakteristik Amerika, juga memahami watak partai politik termasuk PDIP, yang pragmatis dan permisif.

Kedua, Anda wajib mengumpulkan berbagai fakta yang meliputi manuver politik dan sarana politik yang ditempuh oleh pelaku politik, baik entitas Negara, partai politik, maupun individu tertentu.

Hal ini tidak mudah, mengingat membutuhkan ketelitian, membutuhkan keakuratan dalam memilah fakta yang relevan maupun irelevan, dan membangun kausalitas target politik dibalik menuver politik Amerika yang ditampakkan.

Misalnya seperti contoh di atas, saat Menhan Amerika mengingatkan bahaya partai Komunis China bagi Indonesia, bukan berarti Amerika peduli terhadap Indonesia. Saat parlemen Amerika mengkriktik kebiadaban China pada Muslim Uighur, bukan berarti Amerika peduli terhadap nasib kaum muslimin termasuk yang ada di Uighur.

Yang terjadi adalah, upaya sistematis yang sedang ditempuh Amerika untuk menghambat atau mengkanalisasi pengaruh China bagi Negara kawasan, serta untuk memukul mundur China pada ekspansi perang Ekonomi global, setelah sebelumnya Amerika gagal membendung China dengan kebijakan nasionalnya.

Amerika, sedang mengintensifkan sentimen Islam dan kekuatan negara kawasan untuk mengisolasi China. Sebab, baik Amerika yang Kapitalis maupuh China yang Komunis, dalam urusan ekonomi dan pengaruh politik global, keduanya saling bertarung dan berebut pengaruh. 

Termasuk menuver PDIP yang melunak disaat derasnya demo anti Komunisme dalam penolakan RUU HIP, harus dikaitkan dengan fakta politik sebelumnya yakni bagaimana PDIP begitu keras dan ngotot ingin melanjutkan pembahasan RUU HIP.

Ketiga, meskipun kerangka umum pembacaan manuver politik ini bisa dijadikan pisau analisis, namun tidak boleh menggeneralisasi setiap peristiwa politik. Ingat ! Setiap peristiwa politik memiliki kekhasan tersendiri, karenanya tidak boleh membangun kesimpulan analis politik berdasarkan asumsi politik pada peristiwa yang lain.

Yang lebih penting, ketepatan analisis dan kesimpulan politik, sangat bergantung pada kekuatan penginderaan fakta, memilah informasi antara yang fakta dan opini, serta memperhatikan setiap deret narasi yang dibangun oleh politisi dan partai, maupun oleh institusi Negara. Dengan modal itu, Anda dimungkinkan dapat membuat simpulan politik yang sahih, yang  paling besar derajatnya mendekati ketepatan. 

Adakalanya pembacaan politik itu tak sejalan dengan analisis politik yang ditetapkan. Anda bisa saja memaknai analis politik yang anda bangun keliru. Tetapi bisa juga tidak.

Sebab, manuver yang diadopsi dalam strategi politik itu berjalan sangat dinamis dan bisa berubah ubah setiap saat. Jadi, jika ada yang meleset dari pengamatan boleh jadi bukan karena kesalahan analisis, tetapi subjek politik yang anda amati telah merubah strategi dan manuver politik, karena strateginya mampu Anda baca dan Anda bongkar dihadapan publik. [].

Oleh : Ahmad Khozinudin
Sastrawan Politik

Posting Komentar

0 Komentar