TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Mas Menteri, Tataplah Masa Depan dengan Tidak Melupakan Masa Lalu!


Tintasiyasi.com - "Alasan kenapa saya terpilih walaupun bukan dari sektor pendidikan adalah saya lebih mengerti apa yang akan ada di masa depan!". Statement Mas Menteri Nadiem Makarim ini begitu cetar membahana di awal rezim Jokowi Periode kedua.

Tidak ada menteri lain yang punya statemen menggelegar menyamai komentar Kemendibud tersebut. Tersirat optimisme besar akan masa depan pendidikan yang gemilang. Komentar inipun dianggap mewah hingga menjadi trending topic dijagad media.

Namun, hari-hari ini nampaknya menjadi hari dimana pikiran Mas Menteri, sedang gundah gulana. Pasalnya, beliau masuk dalam pusaran kontroversi Program Organisasi Penggerak (POP).

Memasukkan organisasi baru yang "hijau" dan belum jelas kontribusinya didunia pendidikan ke dalam POP dan melupakan tiga organisasi besar yang sudah berkontribusi nyata sepanjang sejarah pendidikan Indonesia yakni Muhammadiyah, NU dan PGRI.

Organisasi "yang masih hijau" tersebut mendapat bantuan puluhan Milyar menyisihkan Muhammadiyah, NU dan PGRI. Nampaknya, kebijakan tersebut merupakan realisasi dari statement epic beliau diawal.

Muhammadiyah, NU dan PGRI adalah organisasi gaek yang mungkin dianggap masa lalu. Akibatnya, ketiga organisasi masa tersebut keluar dari POP, meninggalkan Mas Menteri karena merasa sudah tidak sejalan.

Mungkin karena terlalu banyak berfikir kedepan, Mas Menteri mengganggap masa lalu tidak penting. Nampaknya memandang masa lalu itu jadi sesuatu yang buruk, tidak baik dikenang, tabu dan bagusnya dilupakan saja. Hari-hari kedepan itulah hari-hari kita. Maka saatnya, 'memainkan' organisasi baru untuk menyongsong masa depan baru yang cemerlang.
 
Mas Menteri nampaknya termotivasi dengan pemikiran ini. Pemikiran tentang masa depan yang indah, cerdas, kuat dan sehat. Tapi entah kapan akan terealisir. Setidaknya, sudah hampir 1 (satu) tahun semenjak dilantik hingga kini belum satupun terobosan pendidikan yang hasilnya secara signifikan dapat dirasakan. Mungkin masa depan yang beliau maksud adalah masa depan nanti setelah beliau tidak lagi menjadi menteri.

Mas Menteri mungkin lupa ucapan Bung Karno "bangsa besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan masa lalu". Melihat kedepan harus seimbang dengan memperhatikan masa lalu.

Sebab masa lalu merupakan guru kebajikan agar menjadi bijak. Masa lalu merupakan pelajaran berharga untuk perbaikan dan menghindari kesalahan yang mungkin pernah dilakukan. Karena itu, pengalaman masa lalu sangatlah penting untuk tidak dilupakan.

Mas Menteri, tataplah masa depan dengan tidak melupakan masa lalu. Dunia pendidikan hari ini merupakan proses berkesinambungan dari masa lalu, dimana sumbangan Muhammadiyah, NU dan PGRI sangatlah besar. Maka program POP tanpa keterlibatan ketiga ormas tersebut menjadi tidak legitimate. Ini dalam hal keterlibatan kelompok masyarakat didunia pendidikan.

Sedangkan dalam hal output pendidikan, dari program-program yang digagas kemendikbud seperti kampus merdeka, tampak jelas bahwa mas menteri  berorientasi pada pembentukan kompetensi, sebagai output pendidikan idaman masa depan. Konsep ini bertujuan untuk menyiapkan peserta didik memiliki keahlian/kemampuan spesifik tentang suatu bidang hingga mudah diserap di dunia kerja.

Konsep tersebut baik-baik saja ketika dibarengi dengan pembentukan karakter peserta didik. Sebab, sepanjang sejarahnya, output dasar pendidikan berujung pada dua hal yakni pembentukan karakter dan kompetensi.

Terbentuknya kompetensi hanya salah satu saja. Ada aspek penting lain yang harus dibentuk secara seimbang yakni pembentukan karakter.  Tercapainya kompetensi peserta didik baru setengah dari tujuan pendidikan. Pembentukan karakter tidak boleh luput dari perhatian.

Karakter adalah pola sikap yang terbentuk dari hasil internalisasi sudut pandang tentang kehidupan.

Pendidikan karakter merupakan proses pembentukan pola pikir dan pola sikap peserta didik. Melalui pembentukan karakter, peserta didik dipastikan menjadi individu yang jujur, disiplin, punya integritas moral, anti galau, dan menjunjung tinggi nilai kebajikan.

Ketika Mas Menteri menyatakan mengetahui masa depan, maka karakter ini harus menjadi pijakan utama. Jangan fokus ke "masa depan" yang hampa dari penanaman karakter.

Anak didik diasah untuk siap kerja, jika tidak dibekali dengan dasar karakter yang memadai. Hasilnya, pendidikan semakin tinggi tapi korupsi semakin menggila; narkoba; tawuran; mudah stress hingga bunuh diri; perzinaan dikalangan kaum terpelajar bahkan sudah sampai ke level SD.

Semakin banyak yang menyandang deretan gelar kesarjaan; ketidakpedulian sosial makin tinggi. Semakin maju perekonomian; ketimpangan kaya miskin semakin dalam. Inilah realitas output pendidikan sekuler hari ini.

Tanpa dibekali karakter yang memadai juga akan rawan terjadi eksploitasi manusia atas manusia lain. Tentu bukan seperti ini potret ideal pendidikan masa depan. Bukankah begitu Mas Menteri?

Karena itu, sekali lagi tataplah masa depan dengan tidak melupakan masa lalu. Dimasa lalu, tidak kurang pembentukan karakter disekolah maupun dirumah melalui penanaman pemahaman agama yang baik. Itulah kenapa kenakalan pelajar zaman dulu tidak sedahsyat pelajar sekarang.

Maka dalam hal pembentukan karakter kita harus kembali ke masa lalu, dengan menamamkan pendidikan agama (Islam) kepada peserta didik. Sedangkan dalam hal kompetensi, ciptakanlah kompetensi anak didik yang sanggup menembus jagad raya, meraih bintang dan menciptakan rembulan juga menundukkan planet-planet dimasa yang akan datang.

Output pendidikan semacam ini adalah anak didik yang akalnya menjangkau mentari tapi hatinya tetap membumi. Semoga.[]

Oleh Erwin Permana
Dosen Ilmu Ekonomi

Posting Komentar

0 Komentar