TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Liberalisme, Mengguncang Madrasatul Ula



Fenomena  aksi berjoget emak-emak menjadi viral belakangan ini, yang membuat viral bukan saja goyangannya, tapi juga lokasi tempat para emak-emak berjoget juga dianggap tak biasa, mereka beraksi di jalan raya yang padat kendaraan berlalu lalang. Aksi para emak ini mengundang kritikan dari para warganet, karena dianggap mengganggu pengguna jalan lainnya, dan tentu saja membahayakan keselamatan diri sendiri dan orang lain.

Tiga orang perempuan tengah menjadi perbincangan warganet di sosial media lantaran nekat membuat konten TikTok di tepi jalan raya Jembatan Suramadu. Tiga perempuan berbaju kuning tersebut asyik berjoget demi membuat konten TikTok. Di dalam video itu, para perempuan tersebut tampak bergantian muncul di depan kamera dengan berjoget diiringi musik India. 

Meski aksi tersebut dilakukan di tepi jalan, namun ketiga wanita tersebut tetap mendapat cibiran warganet. Pasalnya, terdapat aturan bahwa penumpang kendaraan dilarang turun di Jembatan Suramadu. Terlebih, jalur besar yang dipijak oleh ketiga perempuan tersebut adalah jalur cepat yang sering dilintasi kendaraan roda empat atau lebih.

Aksi joget para emak lainnya juga viral dan mengundang komentar cibiran para warganet. Namun, aksi para emak kali ini dilakukan di tengah jalan raya tepat di lampu merah di kota Mamuju, Sulawesi Selatan

Sebuah video yang berdurasi 32 detik viral di media sosial, menayangkan aksi tiga emak-emak berjoget ria di tengah jalan, tepatnya di lokasi lampu merah. Aksi tiga wanita dalam video tersebut lantas membuat warganet geram melihatnya, lantaran dinilai dapat mengganggu pengendara lain yang melintas di jalan tersebut.

Seperti terlihat dalam video, dua wanita berkerudung dan satu wanita berambut panjang ini asik bergoyang di atas zebra cross, dimana lokasi tersebut merupakan daerah lampu merah yang terdapat di sebuah jalan raya di Mamuju.

Hanya demi membuat konten, dan menjadi viral para emak ini rela membuang rasa malu mereka di hadapan umum. Berjoget di tengah jalan membuat mereka jadi pusat perhatian orang-orang yang melintas. Dan memang inilah yang mereka inginkan "menjadi pusat perhatian" sehingga diharapkan bisa menjadi terkenal. 

Bagaimana perasaan keluarga mereka terutama anak-anak mereka melihat video viral aksi ibunya yang berjoget di jalan raya dan disaksikan orang banyak?

Apakah para emak ini memikirkan dampak jangka panjang dari perbuatan mereka? 
Sungguh miris melihat kondisi para ibu akhir zaman ini yang telah terbawa arus globalisasi dengan mengatasnamakan 'trend'. Seperti tak punya urat malu, berlenggak lenggok di jalan raya hanya demi popularitas instan. 

Predikat sebagai madrasatul ula yang tersemat pada para ibu seakan hilang begitu saja bila melihat kondisi para ibu akhir zaman ini. Mereka (para ibu) yang seharusnya menjadi sekolah pertama dan menjadi contoh terbaik bagi anak-anaknya justru malah mendidik anak-anak mereka dengan menyuguhkan tontonan yang tak patut untuk ditiru, apalagi video aksi tak terpuji mereka disaksikan oleh jutaan manusia, dan tentu saja banyak pula anak-anak di luar sana yang menyaksikan, bahkan akan mencontoh perbuatan mereka.

Arus globalisasi kebebasan berekspersi dan bertingkah laku yang kebablasan ternyata tidak hanya mempengaruhi para pemuda saja, kini moral tergerus tak mengenal batasan norma-norma agama juga melanda para ibu yang sejatinya menjadi gerbang lahirnya generasi cemerlang penentu peradaban.

Liberalisme, Agenda Barat Merusak Fitrah Muslimah

Wanita adalah tiang negara, apabila wanita itu baik maka negara akan baik, dan apabila wanita itu rusak, maka negara akan rusak pula.

Ungkapan ini sangat masyhur, dan memang ada benarnya. Bila memahami ungkapan ini dan mengaitkan pada fakta  dengan kondisi saat ini, dimana keadaan para wanita terutama para muslimah sangat jauh dari nilai-nilai islam. 

Orang-orang kafir barat sangat memahami bahwa ujung tombak peradaban islam ada di tangan para muslimahnya. Dari rahim para muslimah-lah akan lahir generasi-generasi yang akan mengubah peradaban dunia, dimana saat ini barat-lah yang memegang kendali dunia, barat juga yang saat ini sedang memimpin peradaban.
 
Mereka takut bahwa kepemimpinan dan peradaban mereka akan digantikan oleh kaum muslim yang dahulu mempunyai sejarah yang begitu hebat dan berhasil menguasai 2/3 dunia, hingga keberadaan negara islam dan kaum muslimin ditakuti oleh barat, dan tak ada yang dapat menandingi kehebatannya dalam memimpin peradaban. Wilayah-wilayah di Eropa ditaklukkan dan mereka melebur dan hidup sejahtera di dalam satu kepemimpinan di bawah naungan Daulah Khilafah Islamiyyah.

Barat trauma dan takut dengan kejayaan  islam yang dulu pernah ditorehkan dan mereka tak ingin sejarah itu terulang kembali. Dan kini, saat islam sudah mulai menampakkan tanda-tanda kebangkitannya, mereka melancarkan agenda busuk untuk menghadang kebangkitannya. Strategi untuk melemahkan islam mereka mulai dari para muslimahnya.

Melalui ide kebebasan atau liberalisme, barat berhasil memasukkan gaya hidup mereka ke dalam benak-benak para muslimah. Ada empat ide kebebasan yang sangat disakralkan oleh orang-orang barat:

1. Kebebasan beragama, maksudnya memberikan kebebasan kepada siapa saja untuk memeluk agama manapun sesuai dengan yang diinginkannya, dan meninggalkannya kapan saja dan tidak boleh ada yang menghalang-halanginya.

2. Kebebasan kepemilikan, maksudnya memberikan kebebasan kepada siapa saja yang memiliki modal untuk mendapatkan dan memiliki sesuatu yang diinginkannya dan negara harus menyediakan fasilitas demi terlaksananya kepemilikan tersebut.

3. Kebebasan berpendapat, maksudnya memberikan kebebasan kepada siapa saja untuk menyatakan pendapatnya di muka umum, termasuk menghina agama.

4. Kebebasan berprilaku atau berekspresi, maksudnya memberi kebebasan kepada siapa pun untuk berbuat apapun yang diinginkannya, tidak boleh ada yang menghalanginya untuk mengekspresikan nilai-nilai yang diyakininya, karena hal itu adalah hak pribadinya. Bila ada yang menghalangi, maka mereka sebut itu adalah 'Pelanggaran HAM'. 

Dari keempat poin kebebasan di atas, poin keempat yang paling berhasil merasuki pemikiran para muslimah dan mengubah kepribadian mereka. Dan kini, akibatnya para muslimah semakin jauh dari islam, mereka sedikit demi sedikit meniru gaya hidup barat. Gaya berpakaian yang terbuka dan ketat membentuk lekuk tubuh, berjoget-joget depan umum, bertabarruj, dan lain sebagainya.

Bila para muslimah telah tergerus arus liberalisme, dan untuk mengekspresikan kecantikan mereka dengan cara yang salah, maka secara perlahan tapi pasti mereka akan menjauh dari islam. Tentu hal ini sangat berbahaya, sebab bila para muslimah sudah berkiblat pada paham-paham asing yang haram untuk dijadikan pedoman hidup, hal ini akan mempengaruhi generasinya. Para muslimah akan mendidik anak-anak mereka dengan cara pandang yang tak sesuai dengan islam, jika sudah begini bukan hanya para ibunya yang rusak tetapi juga generasinya yaitu anak-cucu mereka.

Dalam hal ini Syaikh Bakr Abu Zaid, ketika menjelaskan pengaruh tingkah laku buruk seorang ibu dalam membentuk kepribadian buruk anaknya, beliau berkata,
“Jika seorang ibu tidak memakai hijab (pakaian yang menutup aurat), tidak menjaga kehormatan dirinya, sering keluar rumah (tanpa ada alasan yang dibenarkan agama), suka berdandan dengan menampakkan (kecantikannya di luar rumah), senang bergaul dengan kaum lelaki yang bukan mahramnya, dan lain sebagainya, maka ini (secara tidak langsung) merupakan pendidikan (yang berupa) praktek (nyata) bagi anaknya, untuk (mengarahkannya kepada) penyimpangan (akhlak) dan memalingkannya dari pendidikan baik yang membuahkan hasil yang terpuji, berupa (kesadaran untuk) memakai hijab (pakaian yang menutup aurat), menjaga kehormatan dan kesucian diri, serta (memiliki) rasa malu, inilah yang dinamakan dengan ‘pengajaran pada fitrah (manusia)"

Islam Agama yang Menjaga Fitrah Perempuan

Setiap perempuan secara fitrahnya memiliki sifat feminin. Feminin adalah sifat kewanitaan yang ada pada perempuan, sehingga perempuan selalu ingin merasa tampil cantik, punya sifat kelembutan, keibuan, kebaikan, kesabaran, mudah tersentuh perasaannya, dan lain sebagainya.

Dalam sistem kapitalisme-liberalisme sifat feminin pada perempuan ini terus dieksploitasi oleh para kapitalis, dengan tujuan mendapatkan materi mereka meracuni para muslimah agar mau tampil eksis di depan umum mempertontonkan kecantikan mereka, bagi para kaum kapitalis kecantikan adalah suatu hal yang bisa dinikmati oleh semua orang. Maka tak heran, menjamurnya tayangan televisi atau film yang mengumbar kecantikan perempuan, adegan yang mempertontonkan sebagian aurat bahkan sambil berjoget-joget dinilai sah-sah saja dalam pandangan mereka.

Berbeda dengan islam, perempuan sangat dimuliakan dan dijaga kehormatannya. Sifat femininitas yang ada pada perempuan tidak akan dieksploitasi. Kecantikan yang ada pada perempuan bukanlah hal yang boleh diumbar di khalayak ramai dalam islam, kecantikan perempuan hanya boleh ditunjukkan hanya untuk satu orang saja yaitu suaminya. 
Sehingga haram hukumnya bila perempuan muslimah keluar rumah hanya untuk mempertontonkan kecantikannya hanya demi mendapat pujian manusia.

Allah Subhana wa ta'ala berfirman :
“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu …” (QS. Al-Ahzab[33]: 33)

Bagi islam, perempuan muslimah dan sifat femininitasnya adalah aset yang sangat berharga dan harus dilindungi kemuliaannya. Sebab, kelak dari rahim-rahim mereka akan lahir generasi yang akan mengukir peradaban islam dan membawa islam hingga ke seluruh penjuru dunia. Maka dari itu, untuk mencetak generasi yang gemilang para ibu sekaligus madrasatul ula benar-benar harus dijaga dan dilindungi agar tak terkotori dan tercemar paham-paham asing nan menyesatkan yang dapat mencederai pemikiran mereka hingga berimbas pada rahim dan generasinya.

Fenomena rusaknya pola pikir para muslimah saat ini adalah buah dari pemikiran rusak yaitu liberalisme yang semakin gencar digaungkan, bukan hanya orang-orang kafir tetapi juga umat muslim yang memuja paham barat karena telah terkontaminasi ide-ide sesat. Cara melawannya tak bisa dengan adu kekuatan apalagi adu senjata. Pemikiran harus dilawan dengan pemikiran, namun perlawanan akan sia-sia dan tidak akan optimal bila negara tak ikut andil dalam perlawanan tersebut. 

Karena sejatinya saat ini umat muslim sedang menghadapi peperangan yang tak kasat mata melalui perang pemikiran (ghazwl fikr) yang lebih berbahaya dan mematikan dari perang fisik, namun kerusakan yang ditimbulkannya amat luar biasa merusak karena menyerang aqidah secara perlahan-lahan, sehingga umat muslim tidak sadar bahwa saat ini mereka sedang digiring untuk menjauh bahkan anti dengan ajaran agamanya sendiri.

Untuk melindungi para muslimah agar tetap terjaga dan sesuai dengan fitrahnya, harus ada institusi negara yang menerapkan hukum-hukum islam secara kaffah yaitu Daulah Khilafah Islamiyyah, karena hanya negara-lah satu-satunya senjata yang bisa menghadang segala macam jenis marabahaya seperti paham-paham asing yang merusak. Negara yang bisa memfilter apa-apa saja yang boleh masuk dan apa-apa saja yang tidak boleh masuk ke dalam internal negara.

Tayangan tak mendidik dan konten-konten berbau pornografi dan pornoaksi yang mengeksploitasi perempuan akan dibabat habis sampai ke akar-akarnya, dan itu semua akan terwujud bila islam diterapkan secara kaffah dalam institusi negara islam yakni Daulah Khilafah Islamiyyah. Wallahu 'alam.[]

Oleh: Tri Cahya Arisnawati

Posting Komentar

0 Komentar