TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Lanjut Daring, Guru Kering



Menteri Pendidikan dan kebudayaan telah merililis tanggal masuk tahun ajaran baru tahun 2020/2021. Meskipun dalam kondisi pandemic virus corona atau covid-19. Kemdikbud menjadwal  masuk sekolah dimulai hari Senin, 13 Juli 2020. 

Namun terkait Proses belajar mengajar dilakukan dengan tatap muka ataupun tidak tergantung daerah pada masing-masing tempat.  Pada zona hijau diperbolehkan melaksanakan pembelajaran secara tatap muka, namun tetap mengacu pada protocol kesehatan dan protocol sekolah dengan biaya yang tidak sedikit pastinya. Daerah yang berada pada zona merah, orange dan kuning belum bisa melaksakan pembelajaran melalui tatap muka langsung dalam artian harus melanjutkan pembelajaran daring atau jarak jauh. 

Pembelajaran daring (sistem kerja dalam jaringan) melalui media social baik itu via zoom, skype, google meet bahkan media termurah adalah semi interaktif via WA. Penggunakan aplikasi tersebut otomatis membutuhkan guru yang memahami teknologi supaya tetap bisa memberikan pelajaran terbaik, menarik bagi siswa dan tercapainya sebuah tujuan pendidikan. 

Fakta dilapangan tidak semua guru mahir dalam menguasai teknologi untuk menunjang pembelajaran secara daring, ditambah lagi biaya untuk pembelajaran daring ini lumayan menyedot kuota. 

Dari sisi siswa, tidak semua siswa memiliki fasilitas penunjang pembelajaran daring. Bahkan beberapa pedesaan tidak ada sinyal internet. Sehingga akhirnya banyak guru yang stress, siswa bosan, plus ditambahkan lagi kantong guru dan orang tua semakin kering. 

Pertanyaannya sudahkan pemerintah memberikan bimbingan atau menyediakan fasilitas terbaik supaya  pembelajaran daring berlangsung dengan baik? Jawabnnya belum. Pemberintah  hanya mengeluarkan kebijakan tanpa memberikan solusi yang tepat. 

Itulah gambaran pendidikan dalam system demokrasi kapitalis sekuler. Kurangnya keseriusan negara dalam mengurusi pendidikan rakyat. Negara  hanya mengeluarkan kebijakan tanpa memberikan solusi yang tepat. Hal tersebut terjadi tidak jauh dari asas kapitalisme yang menjadi dasar pada system pendidikan Indonesia saat ini, dimana tata  kelola sekolahnya jauh dari konsep Islam dan menjadikan tujuan pendidikan sebagai pencetak SDM yang memiliki tujuan bagaimana cara mendapatkan pekerjaan dan penghasilan yang besar. 

Berbeda dengan pendidikan dalam system Islam, dibawah naungan Khilafah ‘ala Minhajin nubuwwah. Dimana negara menyelenggarakan  system pendidikan Islam berdasarkan aqidah Islam. System pendidikan dalam Islam bertujuan untuk mewujudkan manusia berkepribadian Islam , dan membekali manusia dengan ilmu pengetahuan tentang kehidupan. 

Negara bertanggung jawab penuh untuk melayani kebutuhan pendidikan bagi seluruh warga negara diwujudkan dengan cara menyediakan pendidikan gratis bagi rakyat. Menyedikakan fasilitas dan infrastruktur pendidikan yang cukup dan memadai seperti gedung-gedung sekolah, laboratorium, balai-balai penelitian, buku-buku pelajaran dan lain sebagainya. 

Negara khilafah juga wajib menyediakan tenaga-tenaga pengajar yang ahli dalam bidangnya sekaligus memberikan gaji yang cukup bagi guru dan pegawai  yang berkerja dalam sektor pendidikan. Pada masa khalifah Umar Bin Khattab gaji pengajar  adalah 15 dinar/bulan atau sekitar Rp. 36.350.250 ( 1 dinar= 4,25 gram emas. dan jika 1 gram = 570.200). sehingga guru bisa focus mengajar memberikan pelajaran terbaik, baik pada masa pandemi atau normal tanpa harus gagap teknologi dan takut akan kehabisan kuota. Wallahu a’lam bishshowab.[]

Oleh Halimah Azzahrah 
Pengajar di SDIT Insantama Pontianak

Posting Komentar

0 Komentar